Untold Hotelier Stories

Salesmanship dengan Faktor X

SAYA menulis hal “Sales Personil Hotel Bisa Dibuat, Marketing Harus Dipelajari” pada bulan Maret tahun 2014. Inti maknanya adalah untuk membangun kepercayaan klien, kita harus penuh percaya diri/confident.

Ketika berhadapan dengan orang lain, kita mampu tampil berkepribadian sempurna. Baik itu pada saat berbicara verbal via telepon, pertemuan tatap muka secara pribadi maupun melalui komunikasi tertulis.

Ingatlah bahwa kita —-pada kenyataannya menjual produk–, salesman sebagai bagian dari departemen penjualan suatu perusahaan adalah “wajah” dari produk tersebut. Kita perlu belajar dengan mengamati bahwa setiap perusahaan memanfaatkan departemen penjualan dalam cara berbeda meski tujuan keseluruhan ada kemiripan dalam pola kinerja.

Mari kita perhatikan bagaimana cara orang lain dalam membuat kesepakatan dengan klien sampai mampu mengubah situasi menjadi akrab. Setelah kita melihat proses tersebut dalam tindakan nyata, kita akan memiliki pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana sebaiknya harus bersikap terhadap klien.

Sampai  saat ini di era milenium, salesman adalah salah satu profesi paling dicari. Kualifikasi seseorang untuk bisa direkrut menjadi salesman adalah bisa diandalkan untuk menjadi “mesin uang” perusahaan. Menghasilkan revenue menaikkan omzet penjualan dan mengejar target yang dibuat.

Kualifikasi keilmuan praktis dan teoritis untuk salesman hotel (terutama di Bali) yang mencakup daring dan luring antara lain

  1. Menguasai bahasa asing, minimal Inggris
  2. Networking, selalu up-date dengan tren bisnis dan pengetahuan umum
  3. Mempunyai pengetahuan kultur bangsa-bangsa
  4. Paham geografi, demografi dan GDP / Income per capita penduduk di negara-negara pangsa pasar untuk mengetahui daya beli dan segmentasi.
  5. Sales attitude dan personality  yang win the heart termasuk menguasai etika makan, grooming dan hygiene
  6. Komunikasi lisan dan tulis
  7. Analytical mind – mampu menganalisa data
  8. Presentation / public speaking
  9. Prospecting
  10. Understanding customer
  11. Negotiation technique
  12. Handling objection
  13. Offering solution
  14. Contracting and closing
  15. Up-selling
  16. E-Commerce & Social-Commerce
  17. Dan banyak lagi

COVID-19 2020 vs Perang Teluk 1990

Saya adalah generasi sales & marketing di Bali pada masa Gulf War 1990/91.  Saya hadir sebagai undangan pada bulan Maret 1991, saat peresmian 75 hotel bintang 4 dan 5 ditambah industri pendukungnya — termasuk perusahaan water sport. Pada tahun itu kawasan BTDC Nusa Dua baru mulai dioperasikan.

Piagam hadir pada upacara peresmian fasilitas pariwisata Indonesia pada 3 Maret 1991 oleh Presiden Soeharto

Bisa dibayangkan, destinasi baru dibuka dan tiba-tiba bisnis terpuruk terutama dari Eropa dan Amerika yang transportasinya harus melintasi kawasan Timur Tengah. Strategi penjualan kemudian hanya tergantung dengan tetangga terdekat, yaitu Australia. Untuk bisa win the market, hotel-hotel besar pada jor-jor-an dengan paket Pay Stay misalnya Pay 5 Stay 7 bahkan banyak yang memberlakukan 2 for 1 yaitu paket mulai bayar 5 malam dan menginap 10 malam.

Lalu dalam perjalanan karir saya selama tiga (3) dasawarsa, pada tahun 2020 dunia terimbas dengan pandemi 2019 novel coronavirus (SARS-CoV-2) yang kemudian disebut COVID-19.

Tren jualan di Bali masih dengan pola yang mirip. Menggunakan kata-kata Pay Stay. Tetapi —karena pandemi yang berkepanjangan dan tidak bisa diprediksi tanggal berakhirnya–  kali ini negara-negara di seluruh dunia menutup lintas batas mereka tanpa batas waktu.

 Di triwulan ke-2 tahun 2020,  kita bisa melihat peredaran paket-paket dengan masa tinggal minimum 1 malam, separo harga dengan label Pay Now Stay Later. Will you take this advantage as  future travelers?

Untold Stories

Di era milenium, semua orang paham arti kata boost dan organik dalam pengetahuan digital marketing. Sejarah berulang, pada masa COVID-19 ini.

Tahun 2020 terjadi repatriasi besar-besaran. Anak-anak Indonesia yang sedang bersekolah, internship/magang dan bekerja di luar negeri harus pulang ke negaranya. Banyak yang kemudian mendapat kerja di perusahaan-perusahaan besar dan ternama. Kompetisi pencari kerja berkualitas meningkat tajam berbanding dengan ketersediaan lapangan kerja yang kecil.

Sudah tahu siapa yang akan lolos dalam proses rekrutmen terutama di sales & marketing?

Tentu yang paling siap dengan kualifikasi penguasaan bahasa asing, penampilan personality prima dan meyakinkan, mau digaji seadanya, dan potensi produktif dengan dukungan latar belakang keluarga berada.  Sudah bisa dipahami apa booster dalam rekrutmen ini?

Bagaimana generasi sales & marketing pada masa awal 90-an?

Pada tahun 1990, hotel-hotel bintang 5 di Nusa Dua dan Bali pada umumnya, merekrut sebagian besar salesman lulusan sekolah luar negeri. Mengapa?

Ya! Tepat, jawabannya karena modal bahasa asing mereka mantap. Lancar baca, tulis dan bercakap dalam beragam bahasa. Mulai bahasa Inggris, Jepang, Jerman, Perancis dan Belanda. Di masa itu Bahasa Spanyol dan Italia juga unggulan. Tergantung pangsa pasar hotel-hotel jaringan internasional yang beroperasi di zamannya. Paling tidak seorang salesman dan public relations menguasai verbal 2 bahasa asing.

Kemudian satu lagi! Yaitu sales & marketing adalah company image.

Harus sudah punya modal diri, penampilan high-class bukan orang sembarangan. Konsep ini untuk memenangkan penjualan dari the first-impression.

 Jadi kalau ada komen rekan-rekan kerja dari departemen lain, —- melihat praktisi sales & marketing— mengatakan hedonis, sebenarnya yang tepat adalah kata mutiara “live in luxury with an empty pocket” adalah fakta.

Persyaratan untuk bisa menemui klien adalah standar kata “good quality”, mengenakan busana, sepatu dan membawa tas berkualitas bagus, “bukan” ber-merek internasional dan terkenal. Pada kenyataannya untuk “dress to impress”, harus eksklusif untuk bisa setara dengan potential buyers dan berkompetisi dengan teman-teman sales & marketing dari hotel-hotel lain. Inilah faktor X itu. Dan gaji yang diterima standar.

Kemudian para rekruter di awal tahun 90-an itu —dengan jabatan personnel manager rata-rata juga jebolan luar negeri.

Pada saat proses rekrutmen salah satu pertanyaan kunci yang harus keluar adalah “tolong sebutkan 10 supporters yang bisnisnya bisa kamu bawa ke tempat kerjamu ini”. Kemudian personnel manager mengecek latar belakang keluarga kandidat. Poin latar belakang keluarga ini menjadi sangat penting untuk kandidat sales dengan modal “booster”.

Mengapa?

Jawabannya adalah perusahaan mempunyai strategi harus mengejar target omzet. Sehingga sebagai back-up untuk sukses yang mutualisme seorang salesman untuk bisa mencapai target, paling tidak keluarganya mampu membeli produk jualan sang salesman.

 Jadi … customer perusahaan ada didalam lingkaran yang saling menguntuntungkan. Apakah sudah bisa dipahami sistem “booster’’ ini?

Kompetisi di zaman saya, katebelece sangat berlaku dan diperhitungkan. Lantas, bagaimana dengan salesman yang organik lulusan dalam negeri?

Tentu saja bisa maju dengan sales promise yang sama.

Tetapi jangan konyol dengan mengajukan pertanyaan “Kalau saya diterima bekerja di sini, kemudian akan dikirim jalan-jalan kemana saja?”.

Kalau tipe ini sudah bisa gagal dalam proses rekrutmen. Karena tidak mempunyai orientasi mencapai target penjualan. Tetapi, mencari profesi sebagai salesman untuk naik kelas lifestyle-nya, dan jalan-jalan ke luar negeri dengan dibayari oleh perusahaan.

Which one are you?

Kemudian satu lagi pertimbangan perusahaan untuk mengirim salesman bertugas ke luar negeri. Selain bisa membawa pulang bisnis sesuai misi tugas, ada pertimbangan kemampuan secara finansiil pada individu salesman. Pertanyaannya “mampukah dia membiayai his/her own leisure and recreation activities disana?”. Cadangan dana untuk membayar gaya hidup dan blanja-blanji selama traveling.

Bali, 16 Juli 2021

Jeffrey Wibisono V. @namakubrandku

Hospitality Industry Consultant Indonesia in Bali, Telu Learning Consulting,  Copywriter, Jasa Konsultan Hotel

Hotelier Stories, pembatas buku

Juga tayang di

https://jeffreywibisono.com/hotelier-stories-untold-stories-salesmanship-dengan-faktor-x/

Share this:

Virtual Career Fair 2021

Jeffrey Wibisono V. yang adalah General Manager House of OM perusahaan Holistik berbasiskan komunitas dan Sekolah Guru Yoga, memenuhi undangan untuk hadir dalam Talk Show Virtual Career Fair hari ke-2. Event yang diselenggarakan oleh REDY Indonesia selama dua hari berturut-turut pada tanggal 29 – 30 Juni 2021, bertempat di studio Artotel Sanur, Bali.

Jeffrey adalah salah satu pembicara dari 11 tamu yang dihadirkan sebagai pendukung acara bertajuk BALI kemBALI BEKERJA; mendapat giliran masuk pada jadwal sesi ke-2 di hari ke-2; setelah sesi ke-1 diisi oleh bintang tamu, Christian Sugiono selebriti di Indonesia dengan perusahaannya bernama Cumi MarketPlace. Live Broadcast Talk Show bersama Jeffrey dengan bahasan topik utama Cara Kerja di Companies yang Digital Nomad dipandu langsung oleh Rio Pasaribu, CEO dan Founder REDY Indonesia.

Talk Show dengan gaya informal menekankan pada Salesmanship yang memerlukan relationship jangka panjang untuk membangun dan membina kepercayaan. Profesi Salesman dan Customer Service tugasnya membantu orang lain terus menerus, sebagai solution provider. Dan pekerjaan ini tentu saja bisa menjadi salah satu pilihan untuk menjadi pekerja Digital Nomad dengan dukungan teknologi sebagai tools kerja.

Syarat Digital Nomad

Pertanyaan penting dari Rio Pasaribu yang disampaikan sebagai core adalah “Apakah syarat untuk seseorang supaya bisa menjadi Digital Nomad?”

Jeffrey menyatakan, Digital Nomad ini sangat spesifik. Orangnya harus mempunyai skill-set, self starter, matang dalam keilmuannya, produktif dengan less supervision. Selain itu, harus mampu sebagai individu yang mampu berkolaborasi dengan orang lain yang empunya skill-set lain. Kepentingan  untuk bekerjasama saling melengkapi supaya terjadi ekosistem dalam lingkup sektor-sektor industri yang telah terpola.

Pembicaraan berkembang dengan penambahan tuntutan pekerja untuk menguasai bahasa asing, minimum bahasa Inggri, Supaya kalau menjadi nasionalis harus mampu menjadi diplomat. Dan untuk menjadi seorang diplomat harus mampu berdiplomasi. Kemudian untuk mampu berdiplomasi, tentunya harus menguasai bahasa orang-orang yang akan berkaitan erat dengan misi nasional yang diemban. Tips cara belajar termudah adalah dengan melakukan yang kita senangi. Misalnya menonton film yang bahasa Inggris tanpa text. Atau mendengarkan lagu. Latihan mendengar dan mengucapkan kata perkata dengan suara keras dan berulang-ulang untuk mendapat aksennya. Hafalkan saja. Kalau sudah lancar, baru belajar grammar-nya.

Personality Introvert menjadi Extrovert

Bagaimana dengan Jeffrey yang dari seorang introvert kemudian menjadi extrovert?

Jawabannya adalah dari berlatih untuk membantu orang lain. Kata kunci nya adalah dari telephone courtesy “How can I help you?”

Dengan berbekal kata kunci “help” ini, kemampuan berinteraksi dengan orang lain meningkat terutama yang berhubungan dengan pekerjaan. Kemudian mampu membuka diri dengan belajar dari orang lain.  Di sejarah karir Jeffrey dengan bekal bahasa Inggris dan kemampuan berkomunikasi, dia dikenal sebagai seorang Salesman dan praktisi Public Relations yang diperhitungkan.

30 menit berlangsung cepat dan Talkshow ditutup oleh Rio Pasaribu dengan pesan “Jangan pernah putus asa. Tetaplah berusaha. Pada saat butuh pertolongan, nyatakanlah”

REDY Indonesia

REDY Indonesia ada untuk misi “tolong” tersebut. REDY merupakan platform online penyedia tenaga kerja maupun penyedia lowongan pekerjaan dengan aspirasi untuk menghubungkan para kandidat yang terfiltrasi, dapat dipercaya, dan paling sesuai dengan kebutuhan perusahaan akan tenaga kerja.

Menjadi platform yang berkontribusi dalam meningkatkan serapan tenaga kerja yang terpercaya, berdedikasi, dan siap berkarya di Indonesia. REDY hadir dengan berbagai fitur yang mempermudah kandidat dan perusahaan dalam berinteraksi. Dengan tambahan fitur modul e-learning.

Bali, 03 Juli 2021

Jeffrey Wibisono V. @namakubrandku

Hospitality Industry Consultant Indonesia in Bali, Telu Learning Consulting,  Copywriter, Jasa Konsultan Hotel, House of Om,

Share this:

Mentorship Aktivasi Brand

Jimbaran Bali 25 Juni 2021; Jeffrey Wibisono V. menjadi Mentor dalam workshop digital marketing dengan topik Branding Activation. Acara workshop bertempat di Fox Hotel Jimbaran diselenggarakan oleh Komunitas Pariwisata Retro Santuy. Target total peserta adalah 50 orang dan mematuhi aturan prokes yang diberlakukan.

Workshop Branding Activation berlangsung selama dua (2) jam. Proses mengajar yang tidak biasa dilakukan oleh Jeffrey. Yaitu langsung diawali dengan praktek materi sebagai fondasi digital marketing. Materi praktek yang diberikan adalah mengelola foto-foto dengan tujuan SEO dan tentunya penguatan merk dagang.

Diantara sesi praktek, secara santai juga peserta workshop diberi kesempatan bertanya perihal hal-hal teknis yang dihadapi. 30 menit terakhir diisi dengan presentasi materi mindset teoritis strategi branding. Tentunya harus dipercepat proses belajar mengajarnya, karena harus memburu waktu yang diberi batasan. Kemudian melanjutkan ke acara KopDar di Roof Top Fox Hotel Jimbaran.,

Jeffrey adalah seorang Hospitality Industry Consultant Indonesia yang berkarya dari Bali terkenal dengan perusahaan independennya dengan label Telu Learning Consulting. Sejak 1 Juni 2021, dia bergabung dengan House of Om yang mempunyai program utama multiplikasi SDM dengan skill-set sebagai Yoga Teacher melalui kelas-kelas Training di Bali Indonesia juga kelas-kelas online dengan jangkauan seluruh dunia. Sertifikat kelulusan mendapatkan akreditasi dari Yoga Alliance International.

Jeffrey Wibisono V. @namakubrandku Mentorship Branding Activation bersama Retro Santuy Tourism Commander Community.
Hospitality Industry Consultant Indonesia in Bali, Telu Learning Consulting,  Copywriter, Jasa Konsultan Hotel,
Jeffrey Wibisono V.
Jeffrey Wibisono V. @namakubrandku Mentorship Branding Activation bersama Retro Santuy Tourism Commander Community.
Hospitality Industry Consultant Indonesia in Bali, Telu Learning Consulting,  Copywriter, Jasa Konsultan Hotel,
Jeffrey Wibisono V.
Jeffrey Wibisono V. @namakubrandku Mentorship Branding Activation bersama Retro Santuy Tourism Commander Community.
Hospitality Industry Consultant Indonesia in Bali, Telu Learning Consulting,  Copywriter, Jasa Konsultan Hotel,
Jeffrey Wibisono V.
Jeffrey Wibisono V. @namakubrandku Mentorship Branding Activation bersama Retro Santuy Tourism Commander Community.
Hospitality Industry Consultant Indonesia in Bali, Telu Learning Consulting,  Copywriter, Jasa Konsultan Hotel,
Kelas Workshop Mentorship Branding Activation
Jeffrey Wibisono V. @namakubrandku Mentorship Branding Activation bersama Retro Santuy Tourism Commander Community.
Hospitality Industry Consultant Indonesia in Bali, Telu Learning Consulting,  Copywriter, Jasa Konsultan Hotel,
Kelas Mentorship Branding Activation

Jeffrey Wibisono V. namakubrandku

Hospitality Industry Consultant Indonesia in Bali, Telu Learning Consulting,  Copywriter, Jasa Konsultan Hotel, House of Om, Yoga Teacher Training in Bali Indonesia, Yoga Alliance accredited school in Bali and Goa India

Share this:

We need CVOs, not CEOs

Every other C-level executive has a title that reflects their job description, yet what exactly does a Chief “Executive” Officer do? We need to start filling the role with leaders who are equipped to carry out a vision, and we can start by changing the title. By Simon Sinek.

Credit:

Bali, Sunday16 May 2021

Jeffrey Wibisono V. @namakubrandku

Hospitality Industry Consultant Indonesia in Bali –  Telu Learning Consulting – Digimakz – Copywriter – Jasa Konsultan Hotel

Share this:

Nyolong Pêthèk

Surprisingly Capable

Sering saya menerima pertanyaan dari beberapa teman pekerja perhotelan yang mengecek kepribadian dan kapabilitas incoming pimpinannya.  Seorang Director of Sales yang mempertanyakan seorang General Manager, ataupun Sales Manager yang mempertanyakan Director of Sales and Marketing.

Repetitif pertanyaannya “Jeff, lu kenal Weice-kah. Gimana sih orangnya?” – demikian salah satu contoh kalimatnya.

Buat saya ini menunjukkan insecurity dari teman-teman saya yang belum apa-apa bersiap melakukan tindakan antisipasi yang menjurus antipati.  Salah satu dari kitakah yang lebih menyukai menerima berita buruk?

Di zaman revolusi industri gen 4.0, piranti digital memfasilitasi hampir semua orang untuk dapat me-marketing-kan setiap individu dalam hitungan detik. Viralogi?!

Apakah eksposur personal branding dengan tujuan khusus menjual suatu skill tertentu termasuk dalam tindakan menyombongkan diri?

Tunggu dulu, mari kita lihat dari sudut pandang konvensional yang berbeda. Saya mengambil dari ungkapan peribahasa bahasa Jawa Nyolong Pethek yang saya pelajari. Pitutur ini seperti merujuk kalimat “tak kenal maka tak sayang”. Nyolong pethek artinya tidak mengira/menyangka. Nyolong pethek artinya; meleset dari perkiraan. Arti “pethek” (dibaca pêthèk) adalah “terka”. Kata majemuk nyolong pethek berarti sesuatu yang tidak cocok dengan terkaan kita; sesuatu yang lain sama-sekali dari apa yang kita duga, sehingga kita salah memberi penilaian di awal, salah menduga. Contoh faktanya adalah sering kita tonton di acara televisi “Got Talent” yang disiarkan di banyak negara; mulai dari Amerika, Inggris dan banyak lagi. Seorang sosok yang sebelumnya tidak kita kenal ternyata surprisingly very capable. Kapabilitas individu yang rendah hati dengan keahlian khusus yang mempesona semua orang.

Selanjutnya, disini saya mempergunakan humility – kerendahan-hati dari filosofi nyolong pethek dalam keilmuan leadership-kepemimpinan. Ada ekspresi dalam bahasa Jawa yang sering terucap yaitu “Gak ndayani!”, ini kesamaaan makna dari nyolong pethek.

Apakah sebenarnya harapan kita untuk dapat mengakui seseorang itu adalah pemimpin yang hebat?

Ketika kita memikirkan kualitas pemimpin yang hebat, hal pertama yang muncul di benak saya adalah sifat-sifat seperti karisma, keberanian, dan visi. Sebagian besar dari kita, tidak berharap untuk melihat kerendahan hati dalam daftar itu.  Akan tetapi seorang born-leader pasti memiliki humility tersebut sebagai partikel di dalam karisma individunya.

Buat saya, dasar dari kepemimpinan yang hebat adalah seseorang yang rendah hati. Leader  tahu bahwa tugasnya adalah membangun kepercayaan yang diperolehnya. Kita kemudian  memberikan kepercayaan yang setara kepada publik, dan membangun kepercayaan tersebut berkesinambungan, terus menerus dan selalu meningkat setiap saat. Namanya juga membangun kan?!

Leader yang rendah hati akan konsisten dan disiplin dalam memperlakukan orang lain dengan hormat penuh respek terlepas dari posisi, peran, atau jabatan kita baik itu dalam organisai informal kemasyarakatan maupun formal lingkungan kerja.

Dalam pekerjaan saya sebagai pekerja di dalam industri hospitality pariwisata dan perhotelan, saya menekankan pentingnya skill dan ketrampilan tetapi juga fakta bahwa know our worth adalah kerendahan hati, semangat melayani.

Saya memperhatikan banyak humble leaders menjadi lebih berpengaruh menunjukkan keefektifan. Mereka memiliki energi positif dan menarik orang yang memiliki energi baik yang sama. Tentunya dari tatacara dan etika tersebut, kepercayaan diri mereka meningkat.  Apakah kita mau dan mampu menjadi figur panutan seperti mereka?

Berikut adalah beberapa keterampilan kunci – soft skills yang dapat kita pelajari untuk menjadi pemimpin yang rendah hati. Pastinya, ada sebagian dari kita yang sudah memiliki beberapa kemampuan yang diperlukan yang akan saya angkat dan tinggal dengan a little twist untuk mengembangkannya supaya lebih mantap. Semuanya perlu konsistensi dan relevansi pelatihan.

  1. Memimpin dari dalam: Kita sadar bahwa kita selalu memiliki ruang untuk menjadi lebih baik setiap saat sebagai seorang pemimpin yang unggul maupun jati diri pribadi. Apabila kita mau memupuk kerendahan hati sebagai salah satu keterampilan, maka kita bisa menjadi kuat disaat lemah dan menjadi berani saat diliputi rasa takut.
  2. Menjadi teladan/contoh/panutan:  Humble leader pasti mampu menjadi teladan. Kita dituntut untuk mau dan mampu memberi contoh perilaku yang baik dan benar. Kepemimpinan kita bukan berdasarkan ekspresi otoritas yang mengatakan “karena saya adalah bos”.  Tetapi keteladanan kita ada dalam setiap tindakan nyata.
  3. Pemimpin yang melayani: Humble leader mengarahkan perhatian dan fokus pada berkontribusi terhadap kebutuhan orang-orang di sekitarnya.
  4. Bisa dipercaya: Kita sebagai pemimpin yang rendah hati harus tahu dan sadar cara memperoleh, memberikan, dan membangunnya  kepercayaan sebagai dasar dari kepemimpinan yang hebat.
  5. Memiliki kuota kekuatan batin: Menjadi humble leader bukanlah tanda kelembutan atau ketidakberdayaan, tetapi humility adalah modal tenaga dalam unggul. Pemimpin yang terpandang adalah memiliki kerendahan hati di dalamnya dan kepercayaan diri pada penampilan luarnya.
  6. Mengenali kemampuan diri: Pemimpin yang rendah hati akan mengetahui siapa dirinya dan berperilaku sesuai kemampuannya. Kita juga menyadari sisi-sisi kelemahan diri sendiri untuk perbaikan ataupun ditutup dengan cara membangun tim sesuai kapasitas yang diperlukan.
  7. Berkepribadian asli: Humble leader tahu betapa pentingnya bersikap otentik, murni dan asli. Kita adalah orang berkepribadian sama – baik ketika sedang sendirian, di depan umum, juga di dalam kehidupan pribadi dalam segala situasi bersama dengan setiap orang yang berbeda-beda.
  8. Respek terhadap orang lain: Humble leader selalu konsisten dan disiplin dalam memperlakukan setiap orang lain dengan hormat terlepas dari memandang posisi, peran maupun jabatan mereka di publik.  
  9. Memahami keterbatasan: Pemimpin yang rendah hati memiliki percaya diri dalam mengenali kelemahan diri sendiri. Untuk mengatasi keterbatasan,  kita perlu memiliki tim pendamping dengan kemampuan berbeda saling melengkapi.
  10. Berani mengakui kesalahan: Semua pemimpin pernah melakukan kesalahan dari waktu ke waktu. Ketika kita bersedia untuk berbagi dan mengakui salah-langkah dan kesalahan yang kita buat sendiri, tindakan ini sangat memungkinkan orang lain untuk menaruh simpati-empati dan terhubung lebih erat dengan kita. Kerendahan hati adalah kualitas yang membuat orang lain menelaah sisi manusiawi kita.
  11. Mencari masukan: Keputusan awal untuk bisa meminta masukan dari orang lain bisa jadi cukup rentan untuk mengakui bahwa kita membutuhkan bantuan dan wawasan orang lain. Padahal tindakan meminta masukan ini merupakan simbol karakter hebat itu sendiri.

Akhirnya, apakah ada ajang lomba untuk menjadi seorang Leader?

Maka silakan teman-teman good people, great leaders, menjadi humble. Mengusung humility dan nyolong pethek adalah pilihan dari diri kita pribadi masing-masing. Prinsip ini sama halnya dengan trust-kepercayaan. Percaya terhadap seseorang itu adalah juga pilihan.

Salam seger-waras untuk semuanya.

Bali, 09 Maret 2021

Jeffrey Wibisono V.  namakubrandku

Hospitality Industry Consultant Indonesia in Bali,  Telu Learning Consulting, Digimakz Skill-up Digital Marketer, Copywriter, Jasa Konsultan Hotel

Share this:

Kepergok Pager Suru

Ilmu Leadership

Pertama-tama saya hendak mengajak teman-teman Leader untuk recall – “pernahkah akhir-akhir ini teman-teman terpaksa menghadapi problema yang merupakan pengalaman pertama dan harus mencari solusinya?”

Sikap seorang Leader atau Pemimpin sejati sebenarnya diuji ketika menghadapi situasi dan kondisi  kepergok pager suru ini. Untuk mendapatkan arti sebagai orang yang capable, bertanggung jawab dan dapat dipercaya, maka seorang leader harus menapaki selangkah demi selangkah dalam menghadapi dan berusaha menyelesaikan semua masalah. Hadapi dan selesaikan sampai tuntas. Effective problem solving adalah salah satu atribut penting untuk membedakan pemimpin hebat dan berprestasi dengan pemimpin yang mempunyai kualitas biasa-biasa saja.  Sikap seorang manusia tangguh dengan tanggung jawab sebagai pemimpin adalah seseorang yang mampu menghadapi dan menyelesaikan masalah yang ada di depannya. Bukan merencanakan urusan solusi ketika masalah tersebut belum eksis.

Pitutur atau kata-kata bijak kepergok pager suru yang berasal dari kultur Jawa dengan korelasi memiliki pemahaman universal. Terjemahan bahasa indonesia-nya adalah “tiba-tiba bertemu pagar tanaman berduri”. Makna peribahasa ini adalah ketika seseorang menemukan masalah yang datang tiba-tiba dan tanpa persiapan sudah hadir di depan mata. Pitutur Jawa ini bisa diartikan secara bebas dan luas. Bisa jadi pengalaman pertama dari suatu kejadian, di luar ekspektasi kita semua. Mungkin saja ada beberapa hal yang tidak terpikirkan oleh kita ketika persiapan awal dalam melakukan suatu pekerjaan atau urusan. Pernahkan kita mendapati diri kita tiba-tiba dipaksa mikir dan memecahkan masalah yang sangat rumit dan complicated di luar semua pengalaman kita?! Lantas apakah kira-kira ada teknis  yang tersedia bagi kita sebagai alat bantu untuk dipergunakan sebagai parameter memecahkan masalah dengan benar dan efektif?

Saya yakin ada!

Menjadi pemimpin berarti kita harus mempunyai pemahaman cara-cara teknis dan strategis dalam menyelesaikan masalah secara efektif saat si masalah muncul. Jabatan di manajemen atau kepemimpinan kualifikasinya tentulah ada pada mereka yang kompeten dan unggul dalam keterampilan teknis yang dibutuhkan untuk melakukan pekerjaan. Bahkan untuk saya ada tambahan yaitu know your worth dan harus survive under pressure.

Banyak dari kita cenderung berpegang hanya pada apa yang kita ketahui dan sukai saja. Kita enggan menjelajahi pengalaman baru dan mengambil tindakan ketika kita sudah terpaksa berada di dalam kotak masalah. Ini adalah titik awal yang bagus untuk kita dapat keluar dari zona nyaman. Selain itu, kita dapat  mengidentifikasi sesuatu yang kemungkinan besar dapat kita sempurnakan!

Secara teori tahapan-tahapan problem solving yang efektif yang bisa saya angkat adalah sebagai berikut:

  • Meng-identifikasi permasalahan yang timbul – Bakal menjadi seperti apakah apabila permasalahannya kita selesaikan seperti yang kita inginkan?

Pertanyaan ini membantu kita menemukan standar baru sebagai tolok ukur posisi kita pada saat masalah terjadi.

  • Meng-analisa permasalahan  – Pada tahap manakah masalah yang terjadi?  

Ini membantu kita mengidentifikasi urgensi dari permasalahan. Pada umumnya ada tiga tahapan yaitu the emergent (baru mulai); the mature (sudah ada damage) dan the crisis (harus segera dilakukan tindakan koreksi).

  • Men-deskripsikan permasalahan – Kita harus bisa mendeskripsikan masalah yang terjadi secara tertulis. Cukup dengan maksimum 12 kata atau kurang. Ini adalah teknis asumsi, bahwa masalah yang terjadi bukanlah masalah ilmiah yang rumit. Dengan cara ini kita akan mendapat kejelasan terhadap masalah tersebut.

  • Mencari akar rumput permasalahan – Pada tahap ini kita banyak melibatkan internal tanya-jawab.

Ajukan pertanyaaan misalnya:

Siapa yang bertanggung jawab atas masalah ini?

Kapan masalah ini pertama kali muncul?

Mengapa ini bisa terjadi?

Bagaimana perbedaan dari standar sehingga ini terjadi?

Dimana poin yang akan paling menyakitkan bagi kita?

Bagaimana cara kita menyelesaikan masalah ini?

Juga, ajukan pertanyaan terpenting yaitu – Bisakah kita menggunakannya sebagai solusi permanen? 

  • Mengembangkan solusi alternatif –  Semua masalah yang kita hadapi memiliki banyak solusi. Jadi, yang terbaik adalah menulis dan mengembangkan daftar solusi alternatif bersama tim kerja kita. Kemudian seleksi solusi yang dibahas berdasarkan efisiensi, biaya, nilai jangka panjang, sumber daya yang kita miliki. Baru kemudian kita masuk ke komitmen penyelesaian masalah.    
  • Meng-implementasikan solusi – Menjalankan solusi yang telah kita putuskan termasuk membuat cakupan rencana kerja/ action-plan implementasi-nya. Implementasi berarti bahwa setiap orang di dalam tim kita mengetahui dan memahami peran mereka untuk membuat  solusi berfungsi. Kita perlu mempersiapkan jadwal untuk eksekusi, juga sistem monitoring untuk melacak apakah solusi yang diputuskan telah memperbaiki masalah atau perlu koreksi.  
  • Mengukur keberhasilan –  Dari rencana implementasi kita pada langkah #6, kita perlu memastikan sistem monitoring untuk melacak hasil. Sehingga pada saat yang ditentukan,  kita dapat menjawab pertanyaan seperti:

Apakah berhasil?

Apakah ini solusi yang tepat dan bagus?

Apakah kita mempelajari sesuatu di sini dalam implementasi yang dikemudian hari dapat kita terapkan pada potensi masalah lainnya?  

Pada Triwulan pertama 2021 saat ini, kita semua masih pada fase THE PAIN dari kepergok pager suru. Penanganan permasalahan COVID-19 masuk ke poin #6 dengan implementasi vaksinasi bertahap. Pemimpin dan penduduk dunia menjadi first timer dari pandemi ini. Terombang-ambing selama satu tahun dan bisa dipastikan akan lebih lama lagi.

Kita, penduduk warga negara dunia era gen 4.0 sekarang ini di adalah generasi yang teruji. Kita dengan perumpamaan berada di dalam badai yang sama dengan perahu yang berbeda-beda dalam menghadapi tekanan internal dan eksternal.

Apakah kita semua yang mampu melampaui masa ini berarti akan mampu menjadi Leader?

Sama dengan trust – percaya! Menjadi Leader – Pemimpin adalah pilihan. Dan … kalau menjadi leader adalah pilihan Anda, maka jadilah leader yang bisa dipercaya dengan penuh respek oleh pengikutnya.

Bali, 22 Februari 2021

Jeffrey Wibisono V. @namakubrandku

Hospitality Industry Consultant Indonesia in Bali –  Telu Learning Consulting – Digimakz – Copywriter – Jasa Konsultan Hotel

Artikel juga tayang di https://jeffreywibisono.com/leader-kepergok-pager-suru/

Share this:

Mandhor Klungsu Personal Branding

Apa sebenarnya tujuan kita membangun Personal Branding?

Untuk konsumsi siapa atau publik yang mana?

Tentunya perihal personal branding adalah sebagai bagian dari komitmen bisnis kita dan peningkatan karir, bukan hobby!

Strategi pencitraan diri – personal branding adalah segala upaya untuk mengubah reputasi dan karir kita dari yang biasa-biasa saja menjadi high visibility. Kita bisa membuat tolok ukur sendiri dari saat kita mengawali titik balik hingga ke tingkat yang hendak kita capai. Strategi kekinian untuk aktivitas personal branding erat kaitannya dengan konten marketing.

Lalu, kalau saya di poin konten marketing untuk personal branding, sebaiknya kita bisa mengambil referensi positif laku Mandhor Klungsu. Bagi saya,  budaya Jawa pitutur luhur bernilai universal dan berlaku sepanjang masa. Dan mandhor klungsu ini mengajarkan kita perihal humility – kerendahan hati.

Klungsu adalah biji buah asam dan Mandhor diartikan sebagai pemimpin. Kita semua sudah tahu biji asam, bukan? Bentuknya kecil sedikit kotak tiga (3) dimensi seperti mata cincin warna coklat tua, berkulit keras, cantik berkilau. Biji asam ini apabila ditanam, dipelihara dengan baik, akan menjadi pohon asam yang besar dan kokoh, rimbun dan berbuah lebat. Pohon asam identik dengan jenis pohon yang semua bagiannya bermanfaat bagi manusia. Pohon asam bisa diambil kayunya. Daunnya yang disebut sinom, bisa dimanfaatkan untuk pengobatan. Buahnya untuk bumbu dan beragam kreasi makanan, juga untuk perawatan tubuh. Akarnyapun bisa untuk bahan obat.  

Perumpamaan bijak perihal pohon asam  ini mengajak kita untuk menjadi mandhor. Pemimpin terhadap klungsu kecil refleksi diri kita sendiri. Maknanya adalah walau berasal dari bibit yang kecil, ketika kita bisa memimpin diri sendiri, maka kita akan berguna dan menyebarkan manfaat yang besar dan luas bagi kehidupan seperti pohon asam. Kita diajarkan untuk menjadi kokoh dan memberi manfaat sebesar-besarnya bagi sebanyak-banyaknya makhluk hidup.

Kemudian, sebelum kita mendalami dan terjun menjalankan strategi personal branding untuk diri kita sendiri, saya ingin Anda mengetahui,  bahwa ada satu karakteristik penting yang kita perlukan untuk pencitraan positif yang akan membawa karier kita ke tingkat berikutnya yaitu komitmen dan konsistensi untuk mewujudkannya. Kita harus fokus pada proses untuk mencapainya, selangkah demi selangkah. Ini adalah perjalanan yang layak dilakukan!  Pada saatnya, kita akan takjub pada diri sendiri dan tingkatan yang kita raih. Banyak dari kita tidak lahir sebagai penulis, tidak lahir sebagai superstar, akan tetapi kita bisa menjadi dengan banyak pelatihan, menemukan kesempatan dan memaksimalkan upaya menggunakan kesempatan tersebut.

Selanjutnya Roadmap Personal Branding yang saya punya, yaitu  menyatukan semua rencana dan tindakan yang saling bertautan secara koheren. Menjadikan roadmap sebagai panduan formal. Ini berarti saya secara rutin menuliskannya, merenungkan tanya-jawab terhadap diri sendiri, kalau perlu kemudian merevisi dan  memperbarui strategi. Ide-ide baru selalu muncul secara dinamis kapanpun dan selalu segera saya catat untuk bisa direview dikemudian hari. Kira-kita demikian tahapannya

Tahap I adalah Strategi

  1. Menentukan tingkatan kita saat ini.
  2. Mengidentifikasi keahlian/spesialisasi kita
  3. Menentukan target audiens
  4. Menentukan perspektif unik kita
  5. Menentukan tools yang hendak kita pergunakan terus menerus
  6. Memberi penilaian sendiri terhadap keterampilan kita
  7. Tahu kepada siada dan kemana kita pergi apabila memerlukan bantuan

Tahap II adalah menyiapkan infrastruktur

  1. Menyiapkan media kit yang berisi profil biodata kita. Di gen 4.0 ini sudah jamak kalau kita bisa share video reel dan klip public speaking.
  2. Selalu update biodata kita untuk meningkatkan kredibilitas. Kalaupun sudah siap, mempunyai Website adalah baik.
  3. Mempunyai blog
  4. Membuat tools conversi
  5. Mengaktifkan profil di media sosial
  6. Memiliki platform email.

Tahap III adalah meningkatkan keahlian

  1. Meluangkan waktu melatih keterampilan baru

Tahap IV adalah Reveal – Munculkan – Expose dan mainkan!

Akhirnya, jika kita adalah seseorang yang memiliki ambisi untuk menjadi  market leader di industri kita masing-masing dengan ilmu mandhor klungsu, maka roadmap ini dapat memandu kita di jalur pendakian yang cepat dan terpandang. Wajar jika pada awalnya, kita akan merasa terbebani, terutama jika kita sudah sibuk. Kuncinya hanya memecah tahapan strategi kita menjadi bagian-bagian yang dapat dikelola. Selangkah demi selangkah, bertahap.  

Apabila kita konsisten, relevan dan interaktif, maka personal branding kita dari hari ke hari akan mulai kelihatan hasilnya. Kita akan menikmati aliran respon, mendapat peluang berbicara di sana-sini, dan meningkat pula jumlah follower dan fans baru. Pada titik tertentu, orang akan mulai meminta kita dan ingin mempekerjakan kita atas dasar reputasi yang kita kelola sendiri.  Tentunya kalau sudah pada pencapaian ini, baru kita merasakan kerja keras kita sepadan. Sensasional!

Good luck! Stay humble dan happy climbing!

Bali, 13 February 2021

Jeffrey Wibisono V. @namakubrandku

Hospitality Industry Consultant Indonesia in Bali, Telu Learning Consulting, Copywriter, Jasa Konsultan Hotel

Artikel juga tayang di https://jeffreywibisono.com/mandhor-klungsu-roadmap-personal-branding/

Share this:

Urun Uyah Best Practise Hotel

Dalam masa pandemi COVID-19 yang berkepanjangan sejak ditetapkan di Indonesia pada bulan Maret 2020, kita sudah mendapat panduan standar operasional (basic requirement) Panduan Pelaksanaan Cleanliness, Health, Safety and Environmental Sustainability (CHSE) atau yang selanjutnya disebut Panduan Pelaksanaan Kebersihan, Kesehatan, Keselamatan, dan Kelestarian Lingkungan di Hotel atau Hospitality Industry pada umumnya.

Pertanyaan saya adalah … “What we can do more?” untuk meningkatkan kenyamanan tamu yang pola kebiasaan mereka selama berada di lingkungan hotel perlu kita kondisikan. Bisa kita katakan, kita ubah sesuai prosedur baru yang harus diberlakukan. What does hospitality look like in a contactless world?   

Meninjau dari beberapa sudut pandang, salah satunya adalah kita harus menetapkan untuk  perlu tetap pada posisi kompetitif dalam masa permintaaan sangat rendah (low demand).. Maka kita perlu men-skenariokan beberapa Best Practise, temuan-temuan layanan di atas rata-rata untuk kenyamanan tamu.

Ya, sepertinya menjadi kontradiktif. Kita perlu meningkatkan layanan disaat permintaan rendah dan kondisi pemasukan hotel terdampak. Di posisi ini rata-rata hotel melakukan efisiensi. Jadi jawabannya adalah bagaimana menciptakan best practises – memberikan pengalaman terbaik kepada tamu secara efisien.

Suatu management hotel pasti sudah menetapkan harga sewa kamar per malam.

Berapa Room Cost pada saat kamar kosong dan kamar occupied?

Berapa Incremental Cost kita?

Berapa Burdened Cost kita?

Apabila kita menjual dengan harga dibawah rata-rata (low rates), bisa-bisa kita malah mendapat sentimen negatif seperti merencakan bisnis untuk gulung tikar. Solusinya adalah kita harus memperhitungkan tarif pada ceruk strategi yang efektif untuk memenangkan pangsa pasar di mana kita bersaing. Menganalisa market price.

Lalu best practise apa sajakah yang bisa kita review dan korelasikan sehubungan dengan list incremental cost yang bisa saya sebut beberapa berikut ini?

  • Listrik termasuk perhitungan penggunaan penerangan, TV, charging ponsel dan AC.
  • Air termasuk perhitungan untuk cuci tangan, gosok gigi, mandi dan flushing toilets.
  • Wear & Tear termasuk perhitungan orang yang jalan di atas lantai tegel berbagai bahan seperti marmer atau keramik atau parquet maupun berkarpet, tidur di kasur, memutar hendel pintu, menggunakan lightbulbs)
  • Breakfast
  • Housekeeping memperhitungkan biaya membersihkan kamar termasuk penggunaan cleaning supplies.
  • Laundry memperhitungkan bisaya cuci linen (sprei, sarung bantal dll) dan handuk.

Kemudian dari list burdened costs yang bisa saya sebut beberapa berikut ini?:

  • Staff/ Manning (maintenance, front desk, management, breakfast attendant, dst.)
  • Mortgage (Penyususutan nilai aset)
  • Asuransi
  • Koneksi Internet dan Wi-Fi
  • Perawatan area parkir
  • Penambahan Handuk Baru (OS&E)
  • Biaya langganan cable TV
  • Marketing
  • Trade shows
  • Membership asosiasi

Baik, masih kita mengacu pada CHSE, sambil mengikuti proses  berhitung incremental dan burdened costs. Untuk meningkatkan confidence, kita harus menggunakan referensi angka-angka yang muncul untuk memulai service journey menuju pengelolaan best practise yang sukses.

Di bagian hajatan ini saya hendak urun uyah melibatkan pemikiran dalam best practise di hotel. Kata urun uyah dalam budaya Jawa dapat diartikan kita turut memberi bantuan untuk suatu kegiatan besar. Semoga sedikit yang bisa saya deliver, dapat diimplementasikan di beberapa hotel atau hospitality industry in general. Sekaligus memberi manfaat dari spektrum di ujung yang berbeda. Pedoman saya adalah service centered, guest oriented dengan kalimat “Please, IMPRESS me! I am a boutique”

Pertama tentunya dari semua-semua aturan, esensi dari tindakan preventif COVID-19 adalah Menjaga Jarak Aman. Tindakan ini memberi pengaruh pada semua SOP (Standard Operating Procedure) yang nyaman, tetap beretika dan mempunyai nilai estetika.

Lalu, bagaimana dengan layanan Room Service atau In-Room Dining?

Mengapa harga makanan dan minuman di Room Service menu lebih tinggi daripada di restaurant hotel?

Padahal secara logika, kualitas makanan dan minuman sudah menurun ketika sampai di kamar tamu. Plating, condiment, cutletleries ditata menyesuaikan ukuran nampan untuk sekali antar, harus detail dan sekomplit mungkin termasuk sudah meletakkan item tusuk gigi, dan disposal napkins. Dan satu lagi  – tidak dilayani oleh Waiter/Waitress yang in-charge.

Di layanan Room Service ini yang harus unggul adalah kenyamanan dan privacy tamu.

So how?

  1. Menu: Sediakan disposal Room Service dan Mini Bar Menu untuk menanggulangi resiko penularan berantai. Menjadi bagian dari tambahan standard set-up Housekeeping. Banyak hotel sudah alih teknologi Menu on TV dan Scan QR Code.
  2.  Delivery/Retrieval: Sesuai pedoman yang diberikan oleh pemerintah, Waiter/Waitress wajib menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) = Provision of Personal Protective Equipment (PPE).

Semua menu yang diorder oleh tamu, penyajian deliverynya adalah semua makanan maupun minuman dalam kondisi tertutup rapi dan sedap dipandang. Karena penampakan ini yang akan diterima dan dilihat oleh tamu yang mengorder.

Hotel harus meminimalkan kehadiran staff di kamar tamu. Maka Waiter/Waitress setelah menekan bel pintu sambil memberitahukan kehadiran departemennya, dia melangkah mundur untuk mengatur jarak aman, berdiri dalam posisi siap melayani sampai tamu membuka pintu. Hotel menawarkan pengiriman tanpa kontak. Waiter/Waitress tetap harus menunggu sampai tamu membawa masuk trolley/ nampan yang berisi pesanannya, sampai kemudian tamu menutup pintu. Best practise ini perlu dilakukan untuk antisipasi apabila tamu memerlukan bantuan lebih lanjut pada momen delivery tersebut.

  • Good Hygiene Practices (GHP): Salt & Pepper cruets, Vas Bunga, Hot Boxes, Nampan dan perlengkapan lainnya tetap bisa disertakan setelah dilakukan antisipasi higinitasnya. Maka best practise-nya adalah menggunakan disposable (sekali pakai) paper napkins/tray liners sebagai pengganti  yang berbahan linen (kain).
  • Apakah kita perlu juga menyajikan sebotol kecil handsanitizer berlogo hotel kita sebagai giveaway?

Lalu apakah teman-teman punya SOP lain untuk ditingkatkan menjadi Best Practise?

Welcome Drink, gelasnya dan cara menyajikannya, mungkin?

Silakan, selamat berkarya.

Apabila teman-teman perlu bantuan untuk brainstorming atau membahas lebih lanjut perihal service pada operational hotel, silakan mengontak saya langsung melalui email, jeff@namakubrandku.com

Salam sehat sejahtera senantiasa untuk semuanya. Semoga sukses!

Bali, 04 February 2021

Jeffrey Wibisono V. @namakubrandku

Hospitality Industry Consultant Indonesia in Bali –  Telu Learning Consulting – Digimakz – Copywriter – Jasa Konsultan Hotel

Artikel juga tayang di

Urun Uyah Best Practise di Hotel

Share this:

Main SEO Google My Business

Tindakan jitu SEO Google My Business

Salah satu aktivitas saya sehari-hari adalah membangun teamwork dengan Google My Business (GMB). Saya juga dikenal dengan ID namakubrandku di IG, FB maupun network pergaulan. Bersama GMB, saya perlu mengasah keilmuan digital marketing sebagai seorang praktisi di hospitality industry. Saya adalah seorang Hospitality Industry Consultant Indonesia berlokasi di Bali. Seorang pekerja professional freelance dengan label “TELU” Hospitality Industry Learning and Consulting,  sekaligus Mentor di DIGIMAKz Bali yang fokus ke materi pelajaran Digital Marketing. Kerennya Konsultan Hotel gitu sebutan pendeknya.

Sangat menarik ketika kita membaca Insight GMB tersebut. Kita dipandu secara langsung dengan data dari tampilan Performance, kinerja kita bersama Google. How people interacted with you dan All interactions termonitor. Bahkan laporan terpadu dan mudah ditindak lanjuti dari rangkuman Calls, Messages, Business Profile interactions. Saya menggunakan yang versi bahasa Inggris, karena kebiasaan dan lebih mudah paham dengn terminologi internasional.

Teman-teman sudah paham cara kerja Google My Business dalam me-lokalisir keywords kita masuk ke Searches triggered your Business Profile?

Ada Searches breakdown loh! Dan canggihnya lagi kita diberi tahu juga Search terms that returned your profile in the results.

Ayo siapa yang hendak konsultasi, learning and consulting?

Mulai dari bagian saya sebagai konsultan urban dan boutique konsep dan operations grand-design hotels and resorts and villas di Bali sampai ke dinamika perkembangan digital marketing ter-kini.

Bali, 24 Januari 2021

Jeffrey Wibisono V.  namakubrandku

Hospitality Industry Consultant Indonesia in Bali –  Telu Learning Consulting – Digimakz Digital Marketing – Copywriter – Jasa Konsultan Hotel

Share this:

Revitalisasi Tren Aset Digital

Revitalisasi – Momen Untuk Sinkronisasi Tren dan Aset Digital

2021 adalah momen tepat untuk memulai dan semakin memperkencang bisnis digital kita. Kita perlu melanjutkan proses, menemukan cara untuk menghidupkan atau menggiatkan kembali berbagai program yang tertunda. Kelas Skill-up Digital Marketer bersama Digimakz Bali di seri #6 akan fokus mendalami tuntutan percepatan menghidupkan dan mengembangkan bisnis secara digital di tahun ini.

Caranya?

Kita, praktisi dan pemilik bisnis secara umum sudah menggunakan beragam saluran distribusi untuk berinteraksi dengan pelanggan dan calon pelanggan. Dalam hal ini tentunya kita dituntut untuk melakukan strategi yang konsisten relevan terkoordinasi. Dengan tujuan dapat memberikan pelayanan terbaik kepada pelanggan menggunakan saluran yang tepat bagi mereka.

Bersama Jeffrey Wibisono V. seorang Praktisi Branding dan Suzana Widiastuti yang Digital Maker, peserta workshop akan diajak memaksimalkan integrasi dan sinkronisasi menggunakan aset digital yang telah kita miliki.

Apakah Anda pernah mendengar istilah Omnichannel Marketing?

Sebenarnya kita telah hidup berdampingan dengan prinsip marketing tersebut. Mengikuti trennya pula. Yang kita perlukan adalah cara-cara mendekati pelanggan dengan mengintegrasikan setiap channel yang digunakan oleh pelanggan. Kita berfokus mempelajari kebiasaan pelanggan. Kemudian memenuhi kebutuhan mereka untuk berinteraksi dengan pilihan cara yang nyaman dan produktif. Untuk mencapai itu, kita harus menyiapkan segala aset digital kita – baik itu own media, paid media maupun social media. Termasuk di dalam aset digital tersebut antara lain website, landing page, konten dan channel lainnya yang terhubung dengan internet dan menghasilkan data.

DIGIMAKz mempersembahkan seri workshop Mentorship Skill-up Digital Marketer yang dibagi dalam enam seri sejak November 2020. Workshops dengan bimbingan teori dan praktek bertujuan memperkaya kita semua dengan berbekal pengetahuan bisnis era digital, dan juga menyediakan pendampingan agar teman-teman tidak tergagap sendirian dalam mempraktekkan pengetahuan digital marketing yang telah dipelajari.

Kegiatan mengisi akhir pekan pada hari Sabtu tanggal 23 Januari 2021 dari pk. 9 pagi sampai pk 2 siang. Peserta setelah selesai Skill-up Digital Marketer seri #6 ini akan membawa dapat  membentuk Omnichannel bagi business masing-masing sebagai tujuan akhir dari sinkronisasi yang akan kita lakukan.

Workshop termasuk rehat makan siang bertempat di Fame Hotel Sunset Road Kuta, Bali dengan investasi sebesar Rp. 250K per orang. Untuk mendaftar silakan masuk ke tautan WA ini https://wa.me/6281388808076. Sedangkan Informasi lebih lanjut  seri Menjadi Digital Marketer https://digimakz.com/digimakz-workshop-series/
Sampai jumpa di Kelas Skill-up Digital Marketer – Mentorship Workshop kami, DIGIMAKz!


Bali, 11 January 2020

Jeffrey Wibisono V.

Jeffrey Wibisono V.

Hospitality Consultant Indonesia in Bali –  Telu Learning Consulting – Digimakz Digital Marketing – Copywriter – Jasa Konsultan Hotel

Share this: