Makna ganda strategi diskon. Apa saja?

Sama seperti arti sebuah nama, maka diskon pun memiliki sejumlah makna.

Di dalam strategi sales & marketing, praktek obral diskon ini adalah untuk meningkatkan volume penjualan. Targetnya untuk mencapai revenue/omzet yang telah dianggarkan. Kalau obral diskon sudah dilakukan dan didalam proses penjualannya ternyata respon pasar kurang, maka sebaiknya praktek diskon itu dibatalkan di tengah jalan. Karena resiko-nya adalah malah akan mengurangi pendapatan bahkan sampai merugi kalau diteruskan.

Teman-teman pasti sering melihat Obral besar DISKON Sampai 90% di banyak pasar swalayan seperti Metro, Centro dan beberapa lagi. Tujuannya hanya untuk mengosongkan gudang, dan menjual sampai serendah biaya produksi. Disini kita mengabaikan unsur estetika tren mode dan kualitas.

Nah, yang saya tulis di atas lebih kepada teknik perdagangan retail.

Di industri hospitality, kita harus lebih seksama untuk bermain-main dengan kata diskon ini. Karena ada beberapa etika sampai ke tingkatan filosofis. Kita dealing dengan beragam kelas dan komunitas customer.

Jenis customer khusus yang hendak saya angkat adalah customer yang harus kita kategorikan VIP (Very Important Person). Ini ada ke-khusus-an berdasarkan kebiasaan customer sehingga kita harus memasang plat VIP. Jenis customer ini adalah tipe orang yang hendak menunjukkan dirinya istimewa di tempat beliau-beliau mentraktir/ hosting/ entertaint rekan-rekan bisnis dan komunitasnya. Pasti, biasanya bukan anggota keluarga yang besertanya.

Di beberapa hotel dimana saya menjadi General Manager, tipe beliau-beliau adalah kelas pengusaha dan pemilik perusahaan. Dan diskon sangat penting bagi beliau-beliau  ini. Mengapa? Bukan karena duitnya kurang, tetapi untuk menunjukkan bahwa beliau-beliau mempunyai keterdekatan dengan pimpinan dimana mereka men-traktir rekan-rekan bisnis ataupun komunitasnya. Beliau-beliau hanya membawa rekan-rekan bisnis dan komunitasnya dimana dia merasa nyaman dan sudah dikenal sehingga mendapat perlakuan khusus. Pastinya, sebelum itu semua terjadi, beliau-beliau sudah melakukan reservasi langsung kepada saya dan minta diskon. Pada saat pembayaran, beliau-beliau akan dengan lantang memberi komando kepada waiter (kalau beliau-beliau di restoran). Beliau-beliau ini biasanya akan bilang “Mas, minta bill-nya. Jangan lupa diskon-nya ya yang sudah dikasih Pak Jeffrey”.

Setelah selesai close bill, beliau-beliau wajahnya tampak puas dan sumringah bahagia sambil menerima kembali credit card bersama nota konsumsinya. Klasik kalimatnya “tuh kan guwa kalau disini selalu dapet diskon dari Manager-nya. Lain kali kalau kalian kesini bilang guwa ya, biar guwa mintain diskon”

Jadi manajemen di hotel dan outlet semacam ini, kita harus memastikan bahwa tidak ada promosi diskon yang tersebar ke publik. Kalaupun ada, maka yang kita berikan harus di atas rata-rata diskon promo.

Penting kah hal seperti ini?

Di dalam bisnis hospitality, ini PENTING BANGET! Ini adalah teknik customer service juga sales & marketing untuk mendapatkan repeat guest dan mengembangkan pangsa pasar melalui jaringan beliau-beliau yang sudah secara tidak sadar menjadi brand ambassador kita. Istilah kasarnya kita harus ngasih muka ke beliau-beliau yang menjadi loyal customer  dan imbal baliknya mereka, kita kategorikan VIP. Jadi VIP treatment-nya ya jangan tanggung-tanggung. Pokok-nya harus full service dengan dedicated attendants yang siap dan sigap senantiasa. Diskon-diskonnya biasa masuk ke biaya marketing advertising & promotion Kategorinya apa? Mari kita pakai saja istilah radio, yaitu Ads-Lips.

Keren kan teknik diskon customer engagement ala selebriti gini. Tipe tamu seperti ini harus sering-sering hadir karena bisa mendongkrak revenue/omzet. Sebab beliau-beliau itu jarang sekali datang sendirian, selalu membawa massa atau grup kecil. Hubungan baik harus selalu dijaga. Tetapi, kalau hendak foto bareng dan apalagi untuk di-upload di media sosial, please harus minta ijin dulu. Jangan main candid. Ini urusan privasi.

Melanjutkan tentang diskon, salah satu merek ternama dunia Louis Vuitton , perusahaannya mengambil keputusan untuk membakar  Tas dan produk lainnya yang tidak laku. Sebelum masuk proses pembakaran, sebelumnya ada tahapan produk boleh di beli oleh karyawan dengan harga khusus. Tetapi tidak boleh sampai dijual ke publik. Pemegang merek ini menjaga eksklusifitas dan dengan mengremasi tas-tas-nya ini juga cara untuk mengatasi limbah industrinya.

Teman-teman silakan cek sendiri harga produk brand Louis Vuitton tersebut. Yang saya mengerti dalam ilmu hitung dagang, proses penetapan harga sudah melalui proses perhitungan laba rugi dengan latar belakang pemusnahan produk yang tidak laku.

Apakah teman-teman punya pengalaman dan pemikiran lain tentang strategi diskon. Silakan di-sharing-kan di kolom komen yang tersedia.

Bali, 22 February 2020

Jeffrey Wibisono V.

Share this:

Begini cara kerja yang sopan menenangkan customer yang marah

Buat saya, membahas ilmu customer service adalah tiada habisnya. Materinya banyak banget, masih bisa digali terus, dan tidak perlu dihafalkan, karena penggunaannya dinamis dan situasional. Disini kita berbicara tentang sumber segala bisnis yaitu people dengan spesifikasi everyone is unique.

Yang kita perlukan adalah menemui banyak orang supaya mempunyai kesempatan berlatih dengan cara yang faktual, mengasah diplomasi yang mengedepankan simpati dan empati tetapi harus logis.

Sehingga perlu saya sampaikan terlebih dahulu bahwa materi customer service yang saya tulis kali ini, bukanlah kemudian yang mutlak paling benar. Karena masih ada banyak lagi varian teknis taktis yang bisa saling melengkapi pada saat yang tepat.

Sebagai ilustrasi; mengacu pada kasus customer di hadapan kita telah melantunkan nada tinggi dengan syair hafalannya yang indah, maka inilah saatnya kita, praktisi customer service dituntut untuk mampu melakukan harmonisasi, supaya nada tinggi si customer menjadi lebih seimbang dan enak didengar.

Caranya?

Praktisi customer service harus secara cepat menyesuaikan situasi dan mengabaikan segala teori analisa tentang latar belakang terjadinya komplain customer. Tentu kita tadi sudah mendengarkan dengan seksama semua syair indah yang terlontar dari mulut customer sampai mencapai oktaf tertinggi bukan?

Buat saya, sekarang untuk satu kasus ilustrasi ini, langkah recovery yang harus kita lakukan adalah Agree – Apologize  – Act artinya mari kita pergunakan bahasa tutur diplomasi dengan  pemilihan kata yang tepat, sopan dan tegas. Contohnya sebagai berikut:

  • Setuju bahwa customer benar dengan mengatakan “Bapak benar, kami menjanjikan pesanan Bapak siap hari ini”.
  • Minta maaf dengan mengatakan “Sekali lagi mohon maaf, karena terjadi keterlambatan dari pihak kami”
  • Aksi Solusi menginformasikan batas waktu dengan mengatakan “Kami akan membereskan pesanan Bapak dan akan kami antar paling lambat pukul tiga (3) sore sudah sampai di alamat Bapak”.

Apakah kemudian persoalan ini selesai?

Tentu saja kalau aksi solusi yang kita janjikan kita tepati. Mari kita pastikan pesanan telah diterima pihak pemesan dan kita hubungi customer sekali lagi untuk menanyakan kondisi pesanan yang diterima apakah sudah sesuai sekaligus memastikan kepuasan customer..

Panduan teknis selanjutnya.

Kita harus menghadapi customer bernada tinggi tersebut yang omongannya membuat kita gagal paham insight dari komplainnya. Pokoknya si customer nyerocos saja, dan kita tidak mengerti juntrungannya.

Pada kasus yang seperti ini, harus kita perjelas dengan mempertanyakan maksud komplain sebenarnya dari customer untuk kita bisa sampai ke penyebab sebenarnya dari masalah tersebut.

Misalnya, seorang customer yang tidak jelas dengan menyampaikan kalimat “Anda tidak peduli dengan customer!“.

Kalimat seperti ini tentunya sangat sulit kita pahami. Maka kita harus mendapatkan jawaban dari pernyataan customer yang seperti ini supaya dapat mulai menyelesaikan masalah.

Langkah jitu selanjutnya untuk praktisi customer service yang menghendel customer yang sedang melantunkan nada tinggi tersebut adalah jangan coba-coba mengancam/ menakut-nakuti customer tersebut. Sebagai gantinya, beri tanda aba-aba “berhenti” atau “stop” dengan telapak tangan terangkat keluar, atau bahkan paling gampang dan umum dan mestinya sopan kita juga bisa memberikan tanda “time out”. Ketika customer merespon sinyal kita, kemudian kita mengambil kersempatan mengucapkan sesuatu seperti “Mari kita lanjutkan berbicara dengan hal-hal yang fokus pada solusi komplain Bapak”

Yang terakhir dalam ilmu diplomasi menghadapi customer yang sedang melantunkan nada tinggi adalah penggunaan kalimat yag tepat. Hindari frasa yang menyebabkan pelanggan menampilkan tiga R dalam bahasa Inggris, yaitu Resentment – Reluctance – Resistance yang kalau dibahasa Indonesiakan menjadi Antipati, Enggan dan Malawan/Menantang.

Contoh kalimat yang harus kita hindari adalah “Kalau begitu, Bapak harus ……”

Sebagai penggantinya, kita bisa mengatakan kepada customer dengan menggunakan kalimat  untuk  merekomendasikan agar kita melakukan sesuatu. Atau bahkan kita bisa minta customer melakukan sesuatu sebagai solusi.

Inti dari diplomasi dalam ilmu customer service adalah tutur bahasa yang baik dan jelas dan tegas. Ini berlaku di seluruh dunia dengan menggunakan bahasa apapun. Saat kita berkomunikasi dengan customer sangat penting untuk menggunakan istilah yang tepat tanpa multi tafsir. Jadi ya… Bagi kita menjadi sangatlah penting untuk menguasai bahasa nasional dengan tambahan bahasa asing lainnya. Di Indonesia sini misalnya tambahannya adalah menguasai bahasa Inggris verbal demi lancarnya komunikasi dan diplomasi.

Berikut di bawah ini, saya dapat memberikan  beberapa contoh pernyataaan berhubungan dengan pesanan dan pengiriman. Saya sajikan beberapa contoh kalimat yang harus dihindari dan mengganti rangkaian kalimat dengan menggunakan kata-kata penggantinya yang lebih tegas.

“Bapak akan segera menerima pesanan Bapak” atau “Kami akan segera mengabarkan kepada Bapak”.

Kalimat yang lebih baik adalah “Bapak akan menerima pesanan Bapak pada jam 5 sore hari ini”

“Kami akan mempercepat pengiriman pesanan Bapak,”

Kalimat yang lebih baik adalah “Kami akan mengirim pesanan Bapak hari ini dengan menggunakan JNE Express yang YES (Yakin Esok Sampai)

“Kami akan menelepon Bapak kembali,”

Kalimat Lebih baik adalah “Kami akan menelepon Bapak kembali sore ini pukul 5”

“Kami akan melakukan yang terbaik untuk Bapak” atau “Akan kami usahakan”

Kalimat yang lebih baik ” Kami akan melakukan sesuai permintaan Bapak”

“Kami sedang mengerjakannya”

Kalimat yang lebih baik adalah “Kami sudah berkoordinasi dengan tim akunting untuk mempercepat proses pengecekan dan Bapak akan menerima jawabannya pada hari Jumat”

Demikian teman-teman sharing saya mengenai Ilmu Customer Service yang pernah saya praktekkan. Teman-teman pembaca silakan memberikan komen atau bahkan berbagi experience tentang Best Practises Customer Service di tempat kerja masing-masing.

#IndahnyaBerbagi dan semoga tulisan saya memberikan manfaat baik bagi teman-teman.

Bali, 15 February 2020

Jeffrey Wibisono V.

Share this:

Ketentuan pakaian karyawan hotel

Seragam

Dalam beberapa forum konsultasi, ketika seorang pimpinan perusahaan mengucapkan kata integrity, yang saya lakukan pertama kali adalah memperhatikan seragam karyawannya mulai dari alas kaki sampai ke tatanan rambut. Buat saya seragam ini termasuk di dalam paket pembentukan karakter, grooming and hygiene semua karyawan.

Mengapa?

Karena karyawan adalah brand ambassador perusahaan, yaitu pasukan terdepan yang membuat brand kita terkenal, memenangkan persaingan pasar. Ini bagian dari aktivitas marketing/pemasaran, brand activation dan product positioning. Saya sangat serius dalam hal seragam ini, dari pemilihan warna, desain, motif dan bahan. Kita dapat memperhatikan kepercayaan diri seorang karyawan meningkat ketika sedang berseragam dan berada di wilayah kerjanya. Ini dikarenakan si karyawan mengenakan busana yang tepat, nyaman dipakai dan mengangkat harga dirinya. Berlaku pada semua jenjang jabatan.

Menurut saya, manajemen perusahaan melalui pimpinan tertingginya, harus mampu menterjemahkan filosofi logo perusahaannya. Salah satunya adalah diterjemahkan ke dalam pemilihan desain dan warna seragam sebagai satu kesatuan utuh dari suatu brand. Ini brand promise yang harus di deliver ke publik.

Nah dari disinilah kemudian yang bisa saya analisa keseriusan suatu perusahaan terhadap integritas karyawan dan kredibilitas pimpinan tertinggi perusahaan dalam hal memperhatikan kesejahteraan karyawannya sebagai aset. Pernah dengar kan teman-teman kalau karyawan itu adalah mesin uang perusahaan dan perlu perawatan supaya mesinnya tidak sampai macet?

Jadi urusan seragam adalah kebutuhan premier supaya selaras antara brand promise dengan kebutuhan customer kita.

#BrandStrategy perusahaan kita harus menerapkan visi, misi dan value organisasi. Kita mempunyai tugas untuk memastikan bahwa visi, misi, value ini diterjemahkan dan dikomunikasikan dengan tepat dan akurat ke semua karyawan. Dari jabatan tertinggi sampai terendah. Banyak perusahaan yang mengabaikan hal ini. Sangat disayangkan kalau kemudian seragam permanen yang diberikan hanya berupa polo-shirt.

Alangkah sulitnya kemudian ketika pimpinan perusahaan menuntut integritas karyawan, tetapi pimpinannya sendiri belum memenuhi sarana pendukung utamanya. Dalam hal ini seragam yang layak sebagai brand image termasuk fungsi kontrolnya.

#BrandPromise, #vision, #MissionStatement dan #values milik kita harus mantap. Proses pencipattan Brand pun harus sangat bersungguh-sungguh, serius, matang dan melibatkan tim kerja. Ini kita sudah sampai berbicara satu konsep dan sekali lagi filosofi seragam sebagai bagian integral yang mewakili perusahaan untuk berhadapan dengan customer dan mata publik.

Dalam suatu perdebatan saya pernah berkata, seragam tidak memberi imbas langsung terhadap revenue/omzet/ pendapatan perusahaan. Tetapi seragam adalah asesori penting yang harus dipasang untuk memberikan nilai jual lebih terhadap produk yang ditawarkan. Masih ingat dengan pemilihan kertas untuk business card atau kartu nama? Ya! Dari kualitas kartu nama tersebut sudah ketahuan kualitas produk yang ditawarkan ke calon customernya. Dan kartu nama adalah bagian dari seragam.

Dari beberapa sesi konsultasi, saya sampai saat ini masih menemukan banyak perusahaan berpedoman bahwa brand itu adalah external promise, walau sebenarnya brand adalah internal promise. Ini adalah misi dan corporate culture kita. Lead by example bahasa kerennya

Akhir kata, Branding harus dimiliki oleh semua orang di dalam lingkup suatu organisasi. Kita harus menyukainya, memilikinya dan menjadikannya bagian dari nafas keseharian kita!

#brandambassadors #uniform #leadership #branding

Bali, 8 February 2020

Jeffrey Wibisono V.

color coordination in uniform
Share this:

Membimbing Peningkatan Karir Karyawan Berkualitas

Saya ingin sharing tentang intisari kualitas SDM (Sumber daya Manusia) dari generasi Milenial sebagai penerus tongkat estafet kinerja demi kelangsungan banyak industri. Sudah kita pelajari karakteristik setiap generasi yang berbeda. Behaviour yang terbentuk tergantung pola asuh orangtua dan lingkungan keluarga. Juga ada pengaruh faktor luar dari pergaulan yang dapat merubah pola pikir dari bahan bacaan, bahan tontonan dan bahan pembicaraan.

Lepas dari tendensi motivasi kerja generasi milenial yang sangat menghendaki kebebasan dan lebih independen tetpai sukses, di tulisan ini saya mengangkat beberapa kesempatan untuk mereka yang bekerja kantoran atau di organisasi industri.

Saya percaya bahwa pedoman manajemen ini akan membantu kita meningkatkan motivasi kerja karyawan. Saya memiliki empat tahap yang mestinya teman-teman leaders sudah memahami nya juga.

Pertama adalah kita deal dengan Pekerja Pemula yang Penuh Semangat/ Antusias

Tipe ini adalah karyawan kontrak dan karyawan tetap dari generasi milenial yang sudah bersemangat ingin mencoba segala sesuatu yang baru dan tidak perlu banyak cheer-leaders. Tetapi para pimpinan di wilayah kerja mereka tidak boleh lalai, Mereka, Pekerja Pemula yang Penuh Semangat ini, masih membutuhkan instruksi dan arahan khusus. Bersiaplah untuk menjawab banyak pertanyaan agar mereka tetap di jalurnya

Selanjutnya adalah Pelajar yang kecewa

Tipe karyawan ini tampak sering frustrasi karena menghadapi fakta bahwa ternyata pekerjaan yang harus mereka hendel ternyata lebih berat dari yang mereka bayangkan sebelumnya. Syok!. Keceriaan mereka menurun drastis dengan cepat. Mereka juga masih belajar dan tidak banyak menunjukkan kemampuan mereka. Untuk mengangkat tipe pekerja ini dari keterpurukan, mari kita beri  mereka banyak umpan balik yang spesifik dan tepat waktu tentang progress kerja dan kemajuan kinerja mereka. Evaluasi kerja termasuk memberikan pujian dengan agenda  tatap muka adalah salah satu cara terbaik.

Kemudian kita mempunyai anggota tim yang capable tetapi terlalu berhati-hati .

Karyawan milenial kategori ini adalah mereka yang telah melakukan pekerjaan dengan benar. Tetapi mereka belum memiliki kepercayaan diri beserta datangnya kesuksesan kinerja yang telah  berulang. Ya! Untuk memperkuat mereka yang penuh keberhasilan ini, kita perlu memberikan waktu untuk memenuhi kebutuhan psikologis. Mereka membutuhkan pengakuan positif yang jelas untuk mencapai tujuan. Dan kita, para leaders bisa melalui para supervisor nya harus mendorong motivasi sukses mereka untuk terus  mengulangi kinerja mereka yang performanya sudah bagus.

Akhirnya yang ke-empat, kita mempunyai Pekerja yang terdiri dari orang-orang yang berhasil mandiri dengan istilah bahasa Inggrisnya Self-reliant achievers.

Karyawan tipe ini sudah dapat memenej diri mereka sendiri. Tetapi sekali lagi dan ini sangat manusiawi, karyawan yang mandiri beginipun juga membutuhkan pengakuan agar mereka tidak merasa diperalat atau dimanfaatkan dalam pengertian yang negatif. Secara teratur, kita harus berterima kasih dengan cara yang tulus dan sistem memberikan  insentif akan memberikan imbas lebih baik. Kasih kesempatan para Self-reliant achiever melatih orang lain juga beri peluang  untuk memilih tugas mereka sendiri atau melibatkan mereka dalam proses membuat keputusan. Ketika kita mampu membuat mereka lebih terlihat dalam organisasi, integritas dan loyalitas muncul lebih dan lebih.

Kapan agenda terakhir teman-teman profesional melakukan appraisal terhadap team kerja yang harus disupervisi?

Saya selalu percaya bahwa di dalam menejemen, perihal yang paling sulit adalah mengelola SDM. Karena fakta-fakta psikologis harus terlibat seperti misalnya latar belakang pendidikan dan kehidupan keluarganya ditambah sosio kultur masyarakat dimana pekerja bawahan kita bertempat tinggal.

Please kabari saya saja kalau perlu bantuan untuk membimbing karyawan Indonesia guna meningkatkaan karir karyawan untuk menjadi lebih berkualitas sambil membangun integritas dan loyalitas mereka. Sudah paham teknik-teknik appraisal kan?

Bali, 01 February 2020

Jeffrey Wibisono V.

Hospitality Consultant - Learning, Consulting, Public Speaking and Coaching
Share this:

WA Group, Oh Yes atau Oh Noooo……!

Saya terkenang masa kecil yang sering harus saling disumpah untuk memantapkan suatu cerita atau pernyataan. Begini kalimat sumpahnya dalam bahasa Jawa dolanan “pang ping jojoh lading, jus jus jus”.  Kalau saya yang disumpah, satu teman saya mengucapkan kalimat tersebut sambil beraksi membuat tanda silang di dada saya. Kemudian  pada kalimat Jus Jus Jus, dia menggerakkan jari telunjuk seolah menusuk ulu hati saya.

Saya menuliskan cerita ini sambil tersenyum mengenang bagaimana teman-teman bermain saya, berusia sepantaran berkomitmen menuntut kebenaran, kesungguhan dan  tanggung-jawab terhadap suatu cerita dan berita.

No hoax!

Nah bagaimana dengan WA si Whatsapp dan Telegram di masa kini?

Pastinya tidak perlu disumpah-sumpah lagi, karena bukti-bukti percakapan tinggal di screen-shot dan di transfer secara online.

Ngomong-ngomong, teman-teman telah menjadi member berapa WA Group?

Saya terdaftar di 15 WA Group baik sebagai yang akitf sebagai admin maupun member pasif untuk aktualisasi berita dan aktifitas  terkini.

Baiklah, saya hendak berbagi  mengenai manfaat komunikasi interaktif saat ini untuk lingkup kerja berbasis teknologi internet dan komputer menggunakan sistem messenger yaitu WA maupun Telegaram. Mari kita coba ide-ide ini untuk membantu kita semua.

Cara pertama adalah Mengharuskan karyawan untuk mengambil bagian dalam sistem  komunikasi interaktif  kita. Sebaiknya tidak membuka celah untuk menawarkan masuk ke grup adalah pilihan.

Alasan: Ini adalah cara tercepat dan termudah untuk mengurangi ketakutan mereka untuk berubah dari berbasis kertas/ memo/ staff notice board ke sistem elektronik. Dan sebagian besar karyawan akan dengan mudah beradaptasi ketika mereka melihat seberapa cepat mereka dapat mengakses manfaat dan informasi lainnya.

Langkah selanjutnya adalah sinkronisasi dan memonitor pendistribusian informasi sehingga tidak membuat karyawan frustrasi dengan memaksa mereka melalui serangkaian langkah-langkah jika-maka.

Harap diperhatikan janganlah kita menambahkan kompleksitas saat kita mempertimbangkan hendak menyederhanakan suatu sistem komunikasi.

Poin Bagus dari WA Grup ini adalah management secara bertahap menyingkirkan beragam formulir yang memaksa karyawan mengulangi informasi yang sudah ada di komputer.

Poin Buruk dari WA Grup ini adalah dapat menciptakan kesenjangan karyawan yang sudah terbiasa menggunakan gadget elektronik. Bagi yang belum mengenal sistem atau biasa kita sebut gaptek, mereka akan menghabiskan lebih banyak waktu daripada yang seharusnya. Maka disini harus ada yang di in-charge kan sebagai trainer.

Kita harus selalu meng-antisipasi berhadapan dengan pemilkiran dan reaksi pola karyawan yang memiliki pemikiran kuno dan enggan beradaptasi dengan hal-hal baru.

Pernah dengan kata “Itu dia”?

Ini terjadi terhadap mereka yang belum menyadari bahwa apa yang mereka butuhkan akan terus berubah. Minat mereka yang enggan berubah harus diarahkan dan terus dilatih dan dimotivasi untuk menjalankan perspektif baru sesuai jamannnya.

Akhirnya kita harus men-jalankan secara konsisten terlepas dari sistem otomatisasi informasi yang didistribusikan. Karyawan akan bekerja lebih efektif sebagai bagian dari grup interaktif yang karmanya adalah menjadi bisa dikontak dimana saja dan kapan saja.

Produktif sekali bisnis kita ini dengan hanya bermodalkan pulsa telepon untuk membuat hape terus menyala.

Bali, 26 January 2020

Jeffrey Wibisono V.

Share this:

OBSESI Praktisi Sales dan Marketing di Bali

Anda tentunya pernah mendengar, mengucapkan maupun membaca kalimat “I Hate Monday”. Tetapi yang terjadi pada hari Senin 16 Desember 2019 bisa dikatakan menjadi A New Normal. Sekitar 45 orang praktisi Sales perhotelan di Bali berkumpul dengan judul acara OB-SE-SI kependekan dari Obrolan Seputar Sales & Marketing Indonesia. Acara ngumpul-ngumpul bersosialisasi sesama profesi ini dalam rangka menutup semua kesuksesan dan kegagalan di tahun 2019. Tetapi pada kesempatan ini, teman-teman praktisi Sales perhotelan juga menggunakan kesempatan untuk tukar menukar kado sebagai simbol keakraban dan saling keterkaitan yang terjalin.

Acara puncak ObSeSi ini adalah misi edukasi dengan cara sharing session yang dipandu oleh veteran praktisi Sales & Marketing,  Jeffrey Wibisono V.

Jeffrey adalah  juga penulis buku Hotelier Stories Catatan Edan Penuh Teladan yang acara peluncuran penerbitannya tepat pada tanggal yang sama yaitu 16  Desember pada tahun 2016.

Jeffrey Wibisono memandu talk show ini dengan brandingnya “Real Life Situation” untuk membantu memberikan solusi-solusi jitu terhadap banyak task list praktisi Sales & Marketing, terutama untuk menjalankan budget dan mencapai target penjualan pada tahun 2020.

Bali 16 Desember 2019

Jeffrey Wibisono V.

Catatan: Terima kasih untuk Organizer Cut Rossi, Yan Juna dan Elnino Irawan yang telah mampu mewujudkan acara dalam jangka waktu hanya satu minggu. Thank Technology! Pastinya terima kasih kepada semua Sales Personnels Bali yang hadir pada hari penyelenggaraan yang sangat tidak biasa, yaitu Senin. Hanya dengan flexibility dan komitmen semuanya, acara ini bisa terjadi.

Share this:

OBSESI Obrolan Seputar Sales and Marketing Impact

Kami ber-networking untuk menutup tahun 2019 dengan penuh kebersamaan. Kami yang berkarir dan berprofesi sebagai praktisi Sales & Marketing di Bali. Kami yang punya rasa nyaman antara satu dengan yang lainnya, untuk bersuka dan mau sharing pengetahuan dan tukeran kado akhir tahun juga.

Share this:

Bersama Runi Palar The First Indonesian Modern Jeweller

Ketika Dunia Barat heboh dengan Black Friday, saya malah melakukan perjalanan ke pelosok desa di Ubud. Misi perjalanan kali ini adalah memenuhi undangan Ibu Runi Palar untuk business talk mengenai pengembangan bisnis perhiasan dengan brand Runi Palar dan Runa. Buat saya ini adalah momen Learning and Consulting. Mengolah rasa seni dikombinasikan dengan strategi marketing gen 4.0, kekinian.

Runi Palar yang kita kenal adalah artisan Indonesia pertama dalam hal Perhiasan Modern. Bahasa Inggrisnya The First Indonesian Modern Jeweller. Satu buku yang menulis tentang Biografi sekaligus memuat design-design dari karya pertama Runi Palar ditulis oleh Bruce Carpenter dengan judul Dancing in Silver

Apakah Anda sudah pernah berkunjung ke Museum Runa yang juga satu kompleks dengan rumah tinggal Ibu Runa dan Bapak Adriaan Palar sang suami yang juga Pelukis aliran abstrak?

Diskusi kami Jumat siang 29 November 2019 itu, seputaran pengembangan bisnis gen 4.0 untuk bidang bisnis perhiasan Runi Palar. Pastinya dari yang sekarang basisnya established market  berusia 40 tahun ke atas, Bu Runi telah bersiap tinggal landas menggarap design-design khusus untuk para milenial juga iGeneration. Apakah Alpha Generation juga sudah harus mulai diperkenalkan dengan perhiasan karya Runi Palar?

Mari kita nantikan karya besar Bu Runi Palar yang selalu membawa nama Indonesia pada saat melakukan misi perdagangan dan pameran di luar negeri.

Semoga selalu sehat Bu Runi.

Bali, 30 November 2019

Jeffrey Wibisono V.

Share this:

Cloudbeds Hospitality Management Suite

Hallo teman-teman Hoteliers

Apakah hotel teman-teman sudah komplit menggunakan dalam satu paket hotel system yang termasuk ???
• PMS (Property Management System)
• Channel Manager
• Booking Engine
• PIE (Pricing Intelligence Engine)
• Marketplace (reputation manager ada disini)
• Insights
.
Maka sekarang sudah tersedia The Cloudbeds Suite
Everything you need in one easy package.
See how it works (please click the link to request demo and to know more)

Share this:

Ayo Kita Bahas Teknologi Inovatif Partisipatif Untuk Masa Depan Industri Pariwisata Indonesia

Gini loh bro ….

Pertama-tama saya mohon ijin untuk men-copas terlebih dahulu satu statement yang dimuat di traveltext ini.

“Pariwisata kita terbangun atas kearifan masyarakat dan budaya lokal pada tiap destinasinya, sehingga menjadi daya tarik yang luar biasa bagi wisatawan. Ada keramah-tamahan khas yang dirasakan para wisatawan dengan berbagai latar kultur dan agama,” kata Wishnutama.

Lalu …..

Saya hendak membandingkan dengan Jepang yang  mengharapkan 40juta wisatawan mancanegara (wisman) masuk pada tahun 2020. Momennya juga tepat karena pada bulan Juli – Agustus, Jepang menjadi tuan rumah olimpiade musim panas.

Lantas apa yang ditawarkan oleh Jepang?

“Saat ini kami juga melayani wisman dengan teknologi inovatif, pengalaman pengguna yang ringkas, serta penawaran objek wisata lokal yang beragam yang disesuaikan menurut setiap pasar di kawasan Asia Tenggara yang beraneka ragam, hadir dengan bahasa-bahasa setempat, sejumlah metode pembayaran dan mata uang lokal. Dengan berkembangnya kalangan FIT dan generasi milenial yang terus mencari aktivitas baru, Asia Tenggara tetap menjadi salah satu fokus kami untuk ekspansi pariwisata secara berkelanjutan,” kata Satoshi Seino.

Saya menggaris bawahi Teknologi Inovatif.

Lalu apakah ini artinya Jepang menggantikan Customer Servicenya dengan Robot?

 Ya, Jepang sangat terkenal dan salah satu yang pertama di dunia dengan teknologi robotik nya. Tetapi…… 

Ternyata orang Jepang melakukan teamwork dengan robotnya. Peran manusia tidak tergantikan dan robot untuk membantu memberikan kenyamanan lebih dan lebih untuk layanan publik.

Perlu kita sadari, Jepang memiliki integritas customer service yang dipelajari oleh marketer dari seluruh dunia. Filosofi layanan ini terminologinya adalah omotenashi. Roh dari customer service ini asal muasalnya adalah implementasi dari “Ichigo Ichi-e”, yang mempunyai makna “saya sangat bersyukur dapat bertemu dengan anda. Karena itu, saya akan melakukan hal yang terbaik saat ini kalau-kalau kita tidak dapat bertemu kembali”.

Ini seperti harus memenuhi permintaan terakhir seseorang sebelum ajal tiba. Harus delivered!

Lalu…

Apakah Jepang mempunyai keramah-tamahan khas yang dirasakan para wisatawan dengan berbagai latar kultur dan agama seperti yang diunggulkan oleh pariwisata Indonesia?

Apakah omotenashi ini sudah sebanding dengan yang selama ini kita unggulkan dan banggakan?

Sementara di wall Facebook saya sempat muncul komen sindiran dengan referensi banyak kejadian negatif sehubungan dengan turis versus penduduk lokal yang terekam dan menjadi viral di sosmed. “Kalau di kita mah…tenang aja ini negara kaya raya…indah mempesona…yg penting uang untuk kantong pribadi mengalir deras, jalanan mau macet keq, turis di tipu keq…emang gw pikirin…begituhhhh”

Ini menunjukkan anda dan saya sendiri belum puas terhadap sistem layanan di rumah kita sendiri.

Baiklah selanjutnya…

Saya mengacu pada Pidato Presiden Joko Widodo pada tanggal 16 Agustus 2019

Saya percaya akan aktualisasi  wacana dalam kalimat “Berbekal inovasi, kualitas SDM, dan penguasaan teknologi kita bisa keluar dari kutukan sumber daya alam”.

Kalau omotenashi adalah bagian dari kurikulum sekolah di Jepang, maka Indonesia secara nasional harus mengejar kebutuhan akan SDM unggul yang toleran, yang berakhlak mulia, yang terus belajar, bekerja keras, dan berdedikasi. Perlu waktu berapa lama?

Kemudian diikuti cita-cita untuk mewujudkan Indonesia menjadi pusat teknologi dan inovasi.

Demi pariwisata Indonesia sebelum tergerus oleh jaman, anda dan saya perlu pemikir-pemikir dan pelaksana-pelaksana yang visioner.

Ini loh sudah masuk revolusi industri ke-4 yang kerennya disebut gen 4.0. dan sudah mencapai tingkatan IoT (Internet of Things) dan IoE (Internet of Everything) dimana instruksi dan operasional pengendalian suatu modul sudah bisa menggunakan sensor suara temasuk mengendari mobil tanpa hadirnya seorang sopir.

Lalu…..

Dimana posisi pariwisata Indonesia?

Buat saya keberagaman kearifan masyarakat dan keberagaman budaya lokal yang harus dipertahankan. Tetapi harus ditingkatkan dengan dukungan teknologi untuk menembus dunia yang sudah tanpa batas, sehingga disebut dunia maya. Dunia nyata yang imaginatif seperti film Avatar yang sangat sukses itu.

Bagaimana caranya?

Di dalam penglihatan saya, saya sangat berharap pentas-pentas kesenian tradisional dilengkapi dengan teknolgi lighting dan Augmented Reality (AR). Sehingga menjadi live show yang 5Dimensi yang interaktif. Kalau sudah begini bolehlah kalau kemudian kita sebut Wonderful Amazing Indonesia.

Promosi Pariwisata Indonesia saya rekomendasikan mulai menggunakan Virtual Reality (VR) seperti yang akan dilakukan juga oleh Facebook bagi penggunalnya. Selain itu masih ada Apps yang terdengar sudah kuno buat saya. Biaya produksi apps bisa dibilang  mahal dan masih ada kemungkinan teknologinya dikembangkan.

Palapa Ring telah tersedia yang artinya ini salah satu bagian infrastruktur teknologi yang disebut tol langit sebagai pendukung komunikasi dan transaksi yang efektif dan efisien untuk semua lini bisnis dari Sabang sampai Merauke dari Miangas sampai Pulau Rote. Proses jual beli bisa terjadi dalam hitungan menit sampai detik.

Saat ini yang saya mengerti, generasi milenial menghendaki banyak aktivitas baru, adventurous, mencari experience, travel light dan ini yang paling penting – liburan sambil bekerja dengan istilah baru staycation, workcation.

Kita yang lebih dewasa menyebutnya Milennial Disruption. Hahhaah…. kita merasa terganggu menghadapi perubahan preferensi dan perilaku konsumsi anak dan cucu kita.

Nah sekarang bagaimana mengantisipasi kelangsungan pariwisata Indonesia yang selanjutnya akan di kelola dan dikembangkan oleh Generasi Milenial kelahiran antara tahun 1981 sampai tahun 1994 dan iGeneration tahun 1995 sampai tahun 2010. Demikian pula usia wisatawannya.

Persiapan-persiapan ….. ini peringatan bagi Baby Boomer, gen X dan gen Y.

Di era ini, Gen Z dan iGeneration sangat tergantung dengan segala kemudahan suatu sistem dan sudah menular kepada para orangtua-nya. Kesabaran semakin menipis. Disuruh menunggu sebentar sudah ngambul dan bilang ndak direspek. Sebentar kemudian sosmednya penuh dengan pelampiasan pemikiran menuangkan emosi.

Lalu apa jalan keluarnya?

Kembali lagi ke implementasi teknologi dengan embel-embel “kemudahan” user friendly.

Dibutuhkan dimana? Tentunya harus dimana saja dan disemua bidang usaha. Partisipasi Teknologi yang inovatif untuk bekerjasama dengan manusia sebagai pengontrolnya.

Para Pebisnis dan Pengusaha Restoran, Rumah Makan, Warung, Hotel juga sarana pendukung pariwisata lainnya seperti Day-Cruise dan Taman Rekreasi sudah harus paham mengenai market segment berdasarkan Geographic, Demographic, Psychographic dan Behavioral. Pemahaman ini sangat diperlukan untuk berlangsungnya bisnis jangka panjang dan menyediakan fasilitas yang tepat.

Fasilitas apa?

Ya… contohnya membangun Digital Hotel dengan Pembayaran sistem Virtual, sudah bisa check-in pada saat dalam perjalanan menuju hotel dan masuk kamar dengan face detector. Memangkas beberapa masa tunggu. Untuk pengusaha, dengan menggunakan virtual account, artinya cashflow lancar.

On top of semua-semua ide teknologi ini, pastinya juga kita masih tergantung dengan birokrasi perijinan terhadap suatu badan usaha. Mestinya ini juga sedang dikerjakan oleh pemerintah kita, beyond our knowledge sebagai pengguna jasa.

Akhir kata

Sorry bro…

Saya secara pribadi suka dengan kata keberagaman dibandingkan ramah ini ramah itu yang mengangkat perbedaan.

Karena buat saya keramah-tamahan khas ini masih sangat abstrak dan menurut saya justru harus dibuat code of conductnya mengacu pada omotenashi-nya Jepang. Filosofi customer service yang bukan membanggakan diri sebagai orang Jepangnya, tetapi memberikan pelayanan sepenuh hati.

Bali, 18 November 2019

Jeffrey Wibisono V.

Share this: