COVID-19 vs Revolusi Industri Gen 4.0 Pariwisata

Seiring dengan mendunianya wabah COVID-19 dalam hitungan hari, saat ini topik paling panas di seantero jagad adalah Stay Home You Safe Lifes. Jargon berupa tagar atau hashtag termasuk #DiRumahAja milik Indonesia dan #TravelTomorrow milik UNWTO.

Ada lagi jargon yang lain?

Satu lagi yang sedang viral di dunia adalah #WhenWeTravelAgain. Editor perjalanan di Irish Independent bernama Pol O Conghaile @poloconghaile yang memulai tagar tersebut  di Twitter. Tagar ini mendapatkan banyak reaksi sebab menandakan kebebasan dan memberikan gambaran masa depan

Kemudian, mestinya kita semua pekerja pariwisata dan perhotelan mempunyai pertanyaan selanjutnya seperti:

Apakah dampak COVID-19 bagi Indonesia?

Kira-kira pola traveling pasca pandemi seperti apa ya?

Untuk ini, saya memikirkannya dari sudut pandang optimis  #ExcitedForTomorrow. Saya menaruh harapan untuk esok hari, membuat cita-cita baru, yaitu NEW SKILLS – beberapa keahlian baru selama masa karantina mandiri #DiRumahAja.

Di luar kesadaran kita, momentum wabah COVID-19 ini membuat kita semua mengerjakan banyak hal secara digital. Kita mulai dari pelajar yang harus belajar di rumah dan sebagian tutorialnya dengan cara tele-conference. Kemudian, pekerja dengan status WFH – Work From Home, pertemuan hariannya secara live tele-conference menggunakan tool Zoom dari masing-masing gadget.

Lebih jauh lagi, golongan menengah ke bawah jadi belajar untuk berbisnis di lingkungannya. Sementara ojol dan beragam fasilitas digital makin menunjang banyak orang untuk belajar bisnis. Disini termasuk kita-kita yang pada belajar berbelanja konsumsi makanan melalui online. Situasi ini bisa terjadi karena dipaksa oleh keadaan harus tinggal di rumah plus jaga jarak aman.

Jadi pasca COVID-19, Indonesia akan aman, maju dan malah lebih  sehat.

Bisnis menyebar ke daerah, bisnis menengah ke bawah tumbuh, dan swadesi meningkat. Inilah yang saya sebut  konsep percepatan “digitalisasi revolusi industri gen 4.0 menggunakan momentum wabah COVID-19”.

Transaksi menggunakan uang fisik kertas dan koin akan jauh berkurang, karena sudah tersedia virtual payment gateway. Pembayaran instan tunai yang menguntungkan penjual karena cash flow tetap berjalan, dan memberi manfaat juga kepada pembeli karena tidak perlu menyimpan uang kembalian yang dicurigai mengandung banyak virus karena telah dipegang banyak tangan dalam peredarannya.

Mari kita lanjutkan fokus ke  pola traveling dan tuntutan traveler pasca CoVID-19. Sudah pasti tuntutan traveler nomer satu terhadap suatu destinasi adalah sehat, aman dan nyaman. Ya urutan nomer satu menjadi “sehat” menggantikan yang sebelumnya “aman”.

Dengan mengusung pengetahuan tentang COVID-19 ini yang melarang kita untuk menyentuh permukaan-permukaan barang, dan harus rajin cuci tangan, maka jalan keluarnya adalah “personalized all services” dan salah satunya adalah Go Digital.

Beragam teknologi untuk pelayanan sudah dipikirkan, dikembangkan dan tersedia saat ini. Untuk customer service dengan menghargai dan menjaga health concious customer, maka layanan harus dilakukan dalam jarak aman.

Jadi,  banyak barang cetakan yang berupa directory, informasi, promosi, menu restoran, menu room-service dan delivery service dan banyak lagi harus digitalkan. Kemudian materi digital tersebut bisa diakses langsung oleh customer dari handphone masing-masing. Inilah solusi gen 4.0 yag murah berfaedah dan memberikan kenyamanan kepada customer karena tidak perlu menyentuh barang yang sudah dipegang banyak orang. Kebiasaan sesuai generasi nya yang tadinya kita sebut hubbing, selfish karena tidak berinteraksi dengan orang lain, sekarang menjadi SAH!.

Untuk menghadapi era revolusi industri 4.0 yang masih tergolong baru ini, diperlukan persiapan dan pelatihan khusus yang mendukung.  Kita sudah mulai dibiasakan beribadah yang menampilkan pimpinan umat atau imam agama di rumah masing-masing dengan live-streaming. Kemudian ber-olah raga ala klub kebugaran pun dipandu dengan live streaming. Diantara banyak perusahaan yang terpuruk, saat ini bisnis penyedia jaringan internet yang meraup penghasilan paling tinggi sesuai kebutuhan masyarakat dunia.

Pernah merasakan kalau kita kehabisan pulsa? Pasti kita tidak mau kejadian tersebut terulang lagi.

Saat ini, Indonesia sudah mulai menggarap revolusi industri 4.0, terlihat dari banyaknya perusahaan yang telah menerapkan sistem jaringan internet untuk memudahkan akses-akses informasi internal, pengawasan karyawan, sampai pembukuan. Pastilah perusahaan semacam itu kita sebut dengan istilah smart company. Kita sudah terbiasa dengan smart phone dengan segala fiturnya bukan?

Di balik kemudahan standar era kekinian yang kita rasakan di era komunikasi ini,  dalam revolusi industri 4.0, ada 9 teknologi yang menjadi pilar utama untuk mengembangkan sebuah industri biasa menuju industri yang siap digital.

Saya percaya banyak diantra kita yang telah mendengar sampai paham bahkan telah bekerja sama dengan piranti robotic ini.  Diantaranya adalah:

1. Internet of Things (IoT)

2. Big Data

3. Argumented Reality (AR)

4. Cyber Security

5. Artificial Intelegence

6. Addictive Manufacturing

7. Simulation

8. System Integeration

9. Cloud Computing

Perilaku dan kebiasaan orang seluruh dunia akan berubah menjadi new normal.  Salah satunya adalah kita sendiri dan jangan ragu lagi untuk bekerja sama dengan robot. Robot bukan untuk menggantikan manusia apalagi customer service di industri pariwisata, tetapi cara kerja robot dengan memori buatannya mempermudah banyak pekerjaan manusia terutama perkerjaan yang sama dilakukan berulang.

Jadi tunggu apalagi mari #ExcitedForTomorrow bersiap #WhenWeTravelAgain sambil menguasai #NewSkills pada saat musibah wabah yang harus kita waspadai dan jalani telah berlalu.

Bali, 07 April 2020

Jeffrey Wibisono V.

Telah dipublikasikan di

Share this:

Pagebluk COVID-19 dan Kecanggungan Kita Menjaga Diri

Pagebluk dengan nama awal 2019-nCoV dan sekarang disebut Coronavirus Disease 2019 dipendekkan menjadi  COVID-19. Secara historis kitamulai dengan Kota Wuhan dan belasan kota lainnya di Provinsi Hubei telah dikarantina sejak 23 Januari 2020 lalu. Kemudian karantina seluruh provinsi Hubei di negara Cina daratan yang berpopulasi hampir 60 juta. Popularitas kota Wuhan dalam sekejap mampu menggiring berbagai reaksi terhadap penanggulan wabah ini. Kemudian membuat dunia jungkir-balik dalam hitungan hari.

Berbagai negara salah satunya Indonesia mulai 5 Februari 2020 melakukan pelarangan pengunjung masuk dari Tiongkok. Selanjutnya diikuti pembatalan beberapa penerbangan internasional. Pastinya sebagian besar digerakkan secara komersial, karena rendahnya jumlah penumpang (load factor). Selanjutnya, beruntun dalam beberapa minggu terakhir ini kita mendapat pengumuman penundaan sampai ke pembatalan berbagai acara acara olahraga, misi dagang,  kongregasi religius, dan ziarah keagamaan di luar negeri.

Pada 11  Maret 2020 WHO – World Health Organization akhirnya mendeklarasikan pandemi global secara resmi disampaikan oleh Direktur Jendralnya Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus . Momentum yang tepat?  WHO mendesak negara-negara diseluruh dunia untuk menunjukkan solidaritas dan menghindari celaan/stigmatisasi. Organisasi Palang Merah dunia-pun turun tangan untuk mengajarkan kita di seluruh dunia cara mencuci tangan yang benar. Buat saya ini hal yang ironis di era semua industri saling kejar-kejaran meng-aplikasi-kan AI – Artificial Intellegence memberdayakan robot sebagai rekan kerja.

Menjelang tengah malam 13 Maret 2020,  Amerika Serikat menutup semua perbatasannya, memblokade, menghentikan semua perjalanan masuk dari Eropa  selama 30 hari untuk memerangi ‘virus asing’, (tetapi tidak dari Inggris). Italia sepenuhnya disegel, India telah membatalkan hampir semua visa masuk (termasuk untuk orang India yang berkewarganegaraan asing) dan menutup perbatasan Myanmar. Thailand  telah membatalkan visa kedatangan pada 18 negara dengan persyaratan karantina sendiri untuk beberapa warga negara.Thailand membutuhkan asuransi sebesar US $ 100.000 dari beberapa warga negara.

Ketika COVID-19 merebak di luar kendali di provinsi Hubei.  Cina mengambil tindakan karantina, melakukan intervensi militer, dan mengeluarkan instruksi larangan bepergian.

Pertanyaannya sekarang, untuk Indonesia dan Bali sebagai pintu masuk pariwisata internasional khususnya. Bagaimana cara menangkal masuk dan menyetop penyebaran COVID-19 yang kita sebut superspreader ini?

Yang saya mengerti, sosialisasi dan pemahaman perihal superspreader tidak merata. Tidak sampai ke masyarakat.

Baik, sekarang apa sebenarnya superspreader ini?

Begini yang seharusnya kita ketahui, pahami dan lakukan kemudian. “Setiap Orang Bisa Cegah Penularan Lebih Lanjut”. DanIndonesia “harus belajar” dari pola penyebaran COVID-19 di negara-negara lain yang “bermula dari satu orang saja.

Superspreader adalah sebutan bagi orang yang menyebabkan orang lain sakit dengan jumlah yang jauh lebih banyak dari biasanya (Stein, 2011). Data menyebutkan bahwa orang yang sakit COVID-19 dapat menyebabkan 2-3 orang lain sakit (WHO, 2020). Namun, seorang superspreader COVID-19 dapat menularkan 10 orang sampai puluhan kali lipat dibanding orang biasa.

Mohon ijin, saya mengambil contoh kasus ITALIA

Pasien #1 (pertama) di wilayah Lombardia

Pasien pertama di wilayah  Lombardia ini bertemu dengan temannya yang baru pulang dari Tiongkok pada tanggal 21 Januari.

Pada tanggal 14 Februari, pasien ini mulai sakit dan pergi ke dokter umum.

Pada tanggal 16 Februari, kondisinya memburuk dan ia pergi ke rumah sakit (RS). Namun tidak ada perlakuan khusus bagi pasien ini, ia dirawat layaknya pasien biasa. Baru beberapa hari kemudian ia terkonfirmasi positif COVID-19.

Namun sebenarnya saat itu sudah terlambat.

Karena pasien ini tidak diisolasi sejak awal, pasien-pasien dan staf di RS tempat ia dirawat juga terinfeksi. Pasien ini juga dilaporkan memiliki kehidupan sosial yang aktif dan berinteraksi dengan banyak orang sebelum dirawat di RS.

Akhirnya, puluhan orang sakit karena kontak dengannya, yang kemudian menularkan ke orang-orang lainnya selama berminggu-minggu. Sampai sekarang, wabah di Italia masih belum terkendali, dan sudah menyebar ke seluruh Eropa. Pasien pertama di Lombardia terkonfirmasi tanggal 21 Februari. Perhatikan bagaimana jumlahnya melonjak tajam sesudah itu.

Efek domino Italia di Eropa:

Bagaimana wabah di Italia diikuti oleh wabah di berbagai negara di Eropa beberapa hari sesudahnya.

Kasus superspreader di Italia terjadi karena kegagalan sistem kesehatan dalam melakukan pengawasan yang lebih ketat terhadap kemungkinan masuknya COVID-19 dan ketidaktahuan pasien #1 di Lombardia bahwa kontak dengan orang yang pernah melakukan perjalanan dari Tiongkok merupakan faktor risiko seseorang untuk terkena COVID-19.

Lalu untuk Indonesia!

Bagaimana cara penanganan kita terhadap Covid-19 ini telah disorot dunia.

Dapatkah kita membangun kembali kepercayaan dunia terhadap industri pariwisata yang kita unggulkan dengan menyebut pariwisata budaya?

Apakah social media influencer dan blogger mampu merubah cara pandang traveler dunia terhadap Indonesia dan Bali pada khususnya?

Dan bagaimana penduduk lokat, hotel, maskapai penerbangan dan sarana transportasi di Indonesia yang dinilai lamban merespon tantangan ini?

Sehingga kalau saya menggunakan Pitutur Jawa bisa saya ambil dari Serat Kalatidha karya Raden Ngabehi Ronggowarsito yang mengatakan Ewuh Aya Ing Pambudi yang bahasa Indonesia-nya “serba ribet dalam bertindak”. Informasi yang tidak tepat, cerita tentang COVID-19 yang menjadi bahan olok-olok-an dan berpikiran bahwa COVID-19 ini didramatisir. Bahkan individu-individu yang secara terang-terangan seolah memproklamirkan dirinya “COVID-19, please challenge me!”.

Namun demikian, mari kita simak pula kutipan pesan moral dari wolak-walik-e jaman pada bait yang lain, seperti yang tertulis sebagai berikut ini :

Ikhtiyar iku yekti

Pamilihing reh rahayu

Sinambi budidaya

Kanthi awas lawan eling

Kanthi kaesthi antuka parmaning”

Berikhtiar itu Wajib

untuk memilih jalan yang baik

Sembari berusaha

Juga Harus berhati-hati dan waspada

Agar mendapat rahmat-Nya

Satu pesan ajaran yang sangat baik bagi kita. Bahwa untuk menuju dan mendapatkan jalan atau tujuan yang baik kita wajib untuk berusaha. Bukan hanya dalam lamunan. Sebaliknya pula, segala apa yang kita usahakan juga selayaknya ditujukan untuk tujuan yang baik, dibarengi dengan kewaspadaan dalam menjalaninya. Sehingga segala apa yang kita upayakan dan kerjakan senantiasa mendapat rahmat dan keberkahan dari Yang Maha Kuasa.

Saya rasa dan saya pikir ini juga salah satu inti dari ajaran tentang makna hidup dalam kita menyikapi COVID-19 ini.

Introspeksi Diri

Kontemplasi saya untuk mengambil hikmah dari perlambatan bisnis dan matapencaharian kali ini adalah menjadi sadar diri. Kita diajak untuk duduk diam, berpikir dan instrospeksi.

Ada ajakan untuk kembali ke keluarga, diam di rumah, berinteraksi dilingkungan kecil dan saling menjaga.  Saatnya sinkronisasi dan harmonisasi.

Untuk pekerja di perusahaan-perusahaan maju, diminta WFH – Work From Home. Disini pemberdayaan kecanggihan peralatan elektronik dan digital dimaksimumkan. Sehingga untuk pertemuan perusahaan cukup dengan sarana video-call.

Bagaimana dengan transaksi perdagangan domestik? Pastinya virtual mobile payment sangat membantu untuk membatasibersentuhan dengan mata uang fisik yang bisa kita curigai sebagai vector dan carrier COVID-19.

Hari ini, mari kita tunggu keputusan pemerintah Indonesia selanjutnya.

Pada dasarnya masyarakat diminta untuk tetap tenang.

Tetapi “Kita harus jujur dan berani seperti Duterte, Presiden Philipina yang mengakui bahwa Rumah Sakit  di negaranya belum siap menampung korban yang melonjak. Sehingga ia mengambil langkah pencegahan yang maksimal,” kata Ketua Umum Partai Bulan Bintang (PBB), Yusril Ihza Mahendra di akun Twitternya, Kamis (12/3).

Manila dikabarkan akan dinyatakan sebagai kota tertutup atau lockdown oleh Presiden Filipina, Duterte untuk menyelamatkan warganya dari ancaman virus corona baru atau Covid-19. Karena fasilitas RS di Manila tidak siap menampung lonjakan penderita Covid-19.

Siapkah kita melakukan langkah darurat untuk mencegah penularan lantaran setiap hari pasien positif corona terus bertambah? Mari kita monitor dari

https://www.worldometers.info/coronavirus/#countries

Apakah kita harus menunggu sampai kita “tidak mampu lagi melakukan penanggulangan?”

Saya hanya selalu memohon dan berdoa yang terbaik. Semoga pagebluk pandemi COVID-19 ini segera berlalu. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump pernah berucap, bahwa bulan April 2020, COVID-19 akan berakhir dengan sendirinya.

Bali, 13 Maret 2020

Jeffrey Wibisono V.

narasumber https://jeffreywibisono.com/pagebluk-covid-19-dan-kecanggungan-kita-menjaga-diri/

Share this:

Recovery Plans – Let’s Go To Indonesia

Memasuki minggu  ke-dua bulan Maret 2020 ini, apakah teman-teman pekerja industri pariwisata dan perhotelan sudah dalam masa tenang atau masih panik dalam menghadapi gempuran berita covid-19 ? Saya disini hendak mengajak teman-teman mengembalikan kepercayaan pasar travelers sambil mengulik dasar-dasar ilmu hospitality yang mungkin sudah banyak ter-modify di jaman now.

Setidaknya ada tujuh (7) fundamen di industri hospitality untuk dikedepankan guna menarik kepercayaan pasar terhadap satu destinasi. Apapun motivasi acara perjalanannya, nomer satu dari ketentuan tersebut adalah travelers punya jaminan pergi-pulang hidup, sehat, selamat dan balik ke rutinitas harian tanpa gangguan apapun sekembalinya dari suatu destinasi.

Dalam hal ini, fundamen mana yang hendak kita kedepankan terlebih dahulu dalam menanggulangi krisis global paranoia yang kita bersinpun menjadi salah.

Tujuh Fundamen dalam hospitality itu adalah

  1. Keramah-tamahan penduduk dan pekerja di industrinya
  2. Jaminan untuk dapat tidur nyenyak selagi beristirahat
  3. Untuk keperluan mandi, ada jaminan air yang bersih, memadai volumenya, dengan temperatur air yang tepat, sehingga menyegarkan
  4. Jaminan kebersihan yang sempurna
  5. Jaminan makanan yang bervariasi, bercita-rasa khas dan higienis
  6. Jaminan keamanan dan keselamatan
  7. Ramah lingkungan

Weekend kemarin, Singapura telah mengedarkan ajakan untuk kembali ke mengunjungi negara tersebut dengan mengedepankan fasilitas kesehatan dan harga-harga termurah yang ditawarkan dalam sepuluh tahun terakhir. Menarik?

Selalu saya katakan, untuk negara satu pulau seperti Singapura, gerbang masuk dari laut, darat dan udara hanya masing-masing satu, cara menanggulanginya pasti jauh lebih mudah. Sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan Indonesia.  Tetapi, tetap kita dapat meniru ke-proaktif-an dan kepiawaian Marketing Singapura dengan Singapore Tourism Board-nya dalam hal menanggulangi krisis yang juga beberapa kali terjadi dan juga berimbas terhadap negara ini. Yang melakukan promosi adalah atas nama negara.

Bagaimana dengan Indonesia. Dalam lingkup kecil, Bali telah mengagendakan action plan nya. Keluar dengan tagline I love Bali Movement. Apakah ini cukup menanggulangi market confident di tengah merebaknya berita virus berkembang biak di beberapa negara di luar Cina?

Untuk saya sendiri yang dalam hal ini mengacu pada banyak petunjuk penanggulangan covid-19 adalah kebersihan, maka Bali masih punya pekerjaan rumah dari beberapa isian check-list yang harus dilengkapi.

Apakah Bali memenuhi syarat sebagai “A Clean Place is A Safe Place”?

Apakah Bali memenuhi syarat sebagai “Balinese clean communities, as Healthy Indonesian citizen” for tourism?

Disini kita semakin paham, bahwa ramah tok ndak cukup, mengedepankan ke-arifan-lokal saja ndak cukup, mempromosikan pariwisata budaya saja ndak cukup. Semua harus bersinergi dalam satu kesatuan yang utuh, bunder ser seperti bola dunia yang terus berputar. Untuk Bali adalah implementasi Tri Hita Karana atau dalam bahasa Inggrisnya Three causes of well-being dalam akulturasi budaya Bali dan agama Hindu dengan tolok ukur-nya yang menyesuaikan jaman, sudah pasti pas.

Selanjutnya saya meninjau jadwal kedatangan dan keberangkatan dari Bandara Internasional Ngurah Rai. Dengan mengabaikan load factor, kedatangan penerbangan domestik dan internasional ada pengurangan, tetapi masih ada. Artinya Bali tidak zero (0) wisnus dan wisman.

Bank Indonesia telah menyampaikan makalah “Outlook Ekonomi Bali 2020” yang disampaikan oleh Bapak Trisno Nugroho pada 6 Maret 2020

Data data yang disampaikan antara lain

  • Total kunjungan wisman ke Bali pada periode  bulan Januari 2020 sebanyak 528.883, atau tumbuh 16,09% (yoy).
  • Total kunjungan wisatawan ke Bali sepanjang Jan – Des 2019 sebesar 6,275 Juta orang atau tumbuh 3,37%(yoy), melambat dibanding tahun 2018 yang sebesar 6,55% (yoy).
  • Sementara itu, total kunjungan wisdom sepanjang 2019 sebanyak 10,55 juta orang  atau tumbuh 8,07% (yoy), lebih rendah dibanding tahun 2018 yang tumbuh 11,70% (yoy)
  • Data Angkasa Pura menunjukkan terjadinya pertumbuhan 18,26% (yoy) arrival wisatawan mancanegara pada Januari 2020. Namun demikian, penyebaran COVID-19 menyebabkan potential loss cukup besar, terindikasi pada sejumlah pembatalan  paket  dan pemesanan kamar di Bali
  • Perekonomian Bali 2020 diperkirakan berada pada range  4,6% – 5%, terkoreksi dari perkiraan sebelumnya (5,6% – 6%)
  • Kontribusi Pariwisata terhadap Ekonomi Bali : 48,4% (berdasarkan Tourism  Satellite  Account)

Berdasarkan semua data yang dipaparkan, maka Bank Indonesia memberikan Rekomendasi Kebijakan antara lain:

  1. Mendorong percepatan implementasi kebijakan stimulus pariwisata Bali
  2. Pembentukan Tim Tanggap COVID-19, pembentukan Central For Diseases Control and Prevention / Crisis Centre & menyusun protokol kesehatan.
  3. Meminimalkan kontraksi pertumbuhan 2020 melalui akselerasi konsumsi pemerintah (percepatan realisasi rencana pembangunan proyek-proyek pemerintah Bali).

Pada akhirnya, secara pribadi saya mohon ijin menggunakan bahasa Bali untuk mengajak kembali kepada keseimbangan terhadap yang hidup, yang menghidupi dan yang menghidupkan.

Ngiring sareng-sareng jage Baline

Semoga semua makhluk berbahagia dan terberkati.

Bali, 8 Maret 2020

Jeffrey Wibisono V.

Bali Recovery Action Plan
Share this:

Makna ganda strategi diskon. Apa saja?

Sama seperti arti sebuah nama, maka diskon pun memiliki sejumlah makna.

Di dalam strategi sales & marketing, praktek obral diskon ini adalah untuk meningkatkan volume penjualan. Targetnya untuk mencapai revenue/omzet yang telah dianggarkan. Kalau obral diskon sudah dilakukan dan didalam proses penjualannya ternyata respon pasar kurang, maka sebaiknya praktek diskon itu dibatalkan di tengah jalan. Karena resiko-nya adalah malah akan mengurangi pendapatan bahkan sampai merugi kalau diteruskan.

Teman-teman pasti sering melihat Obral besar DISKON Sampai 90% di banyak pasar swalayan seperti Metro, Centro dan beberapa lagi. Tujuannya hanya untuk mengosongkan gudang, dan menjual sampai serendah biaya produksi. Disini kita mengabaikan unsur estetika tren mode dan kualitas.

Nah, yang saya tulis di atas lebih kepada teknik perdagangan retail.

Di industri hospitality, kita harus lebih seksama untuk bermain-main dengan kata diskon ini. Karena ada beberapa etika sampai ke tingkatan filosofis. Kita dealing dengan beragam kelas dan komunitas customer.

Jenis customer khusus yang hendak saya angkat adalah customer yang harus kita kategorikan VIP (Very Important Person). Ini ada ke-khusus-an berdasarkan kebiasaan customer sehingga kita harus memasang plat VIP. Jenis customer ini adalah tipe orang yang hendak menunjukkan dirinya istimewa di tempat beliau-beliau mentraktir/ hosting/ entertaint rekan-rekan bisnis dan komunitasnya. Pasti, biasanya bukan anggota keluarga yang besertanya.

Di beberapa hotel dimana saya menjadi General Manager, tipe beliau-beliau adalah kelas pengusaha dan pemilik perusahaan. Dan diskon sangat penting bagi beliau-beliau  ini. Mengapa? Bukan karena duitnya kurang, tetapi untuk menunjukkan bahwa beliau-beliau mempunyai keterdekatan dengan pimpinan dimana mereka men-traktir rekan-rekan bisnis ataupun komunitasnya. Beliau-beliau hanya membawa rekan-rekan bisnis dan komunitasnya dimana dia merasa nyaman dan sudah dikenal sehingga mendapat perlakuan khusus. Pastinya, sebelum itu semua terjadi, beliau-beliau sudah melakukan reservasi langsung kepada saya dan minta diskon. Pada saat pembayaran, beliau-beliau akan dengan lantang memberi komando kepada waiter (kalau beliau-beliau di restoran). Beliau-beliau ini biasanya akan bilang “Mas, minta bill-nya. Jangan lupa diskon-nya ya yang sudah dikasih Pak Jeffrey”.

Setelah selesai close bill, beliau-beliau wajahnya tampak puas dan sumringah bahagia sambil menerima kembali credit card bersama nota konsumsinya. Klasik kalimatnya “tuh kan guwa kalau disini selalu dapet diskon dari Manager-nya. Lain kali kalau kalian kesini bilang guwa ya, biar guwa mintain diskon”

Jadi manajemen di hotel dan outlet semacam ini, kita harus memastikan bahwa tidak ada promosi diskon yang tersebar ke publik. Kalaupun ada, maka yang kita berikan harus di atas rata-rata diskon promo.

Penting kah hal seperti ini?

Di dalam bisnis hospitality, ini PENTING BANGET! Ini adalah teknik customer service juga sales & marketing untuk mendapatkan repeat guest dan mengembangkan pangsa pasar melalui jaringan beliau-beliau yang sudah secara tidak sadar menjadi brand ambassador kita. Istilah kasarnya kita harus ngasih muka ke beliau-beliau yang menjadi loyal customer  dan imbal baliknya mereka, kita kategorikan VIP. Jadi VIP treatment-nya ya jangan tanggung-tanggung. Pokok-nya harus full service dengan dedicated attendants yang siap dan sigap senantiasa. Diskon-diskonnya biasa masuk ke biaya marketing advertising & promotion Kategorinya apa? Mari kita pakai saja istilah radio, yaitu Ads-Lips.

Keren kan teknik diskon customer engagement ala selebriti gini. Tipe tamu seperti ini harus sering-sering hadir karena bisa mendongkrak revenue/omzet. Sebab beliau-beliau itu jarang sekali datang sendirian, selalu membawa massa atau grup kecil. Hubungan baik harus selalu dijaga. Tetapi, kalau hendak foto bareng dan apalagi untuk di-upload di media sosial, please harus minta ijin dulu. Jangan main candid. Ini urusan privasi.

Melanjutkan tentang diskon, salah satu merek ternama dunia Louis Vuitton , perusahaannya mengambil keputusan untuk membakar  Tas dan produk lainnya yang tidak laku. Sebelum masuk proses pembakaran, sebelumnya ada tahapan produk boleh di beli oleh karyawan dengan harga khusus. Tetapi tidak boleh sampai dijual ke publik. Pemegang merek ini menjaga eksklusifitas dan dengan mengremasi tas-tas-nya ini juga cara untuk mengatasi limbah industrinya.

Teman-teman silakan cek sendiri harga produk brand Louis Vuitton tersebut. Yang saya mengerti dalam ilmu hitung dagang, proses penetapan harga sudah melalui proses perhitungan laba rugi dengan latar belakang pemusnahan produk yang tidak laku.

Apakah teman-teman punya pengalaman dan pemikiran lain tentang strategi diskon. Silakan di-sharing-kan di kolom komen yang tersedia.

Bali, 22 February 2020

Jeffrey Wibisono V.

Share this:

Begini cara kerja yang sopan menenangkan customer yang marah

Buat saya, membahas ilmu customer service adalah tiada habisnya. Materinya banyak banget, masih bisa digali terus, dan tidak perlu dihafalkan, karena penggunaannya dinamis dan situasional. Disini kita berbicara tentang sumber segala bisnis yaitu people dengan spesifikasi everyone is unique.

Yang kita perlukan adalah menemui banyak orang supaya mempunyai kesempatan berlatih dengan cara yang faktual, mengasah diplomasi yang mengedepankan simpati dan empati tetapi harus logis.

Sehingga perlu saya sampaikan terlebih dahulu bahwa materi customer service yang saya tulis kali ini, bukanlah kemudian yang mutlak paling benar. Karena masih ada banyak lagi varian teknis taktis yang bisa saling melengkapi pada saat yang tepat.

Sebagai ilustrasi; mengacu pada kasus customer di hadapan kita telah melantunkan nada tinggi dengan syair hafalannya yang indah, maka inilah saatnya kita, praktisi customer service dituntut untuk mampu melakukan harmonisasi, supaya nada tinggi si customer menjadi lebih seimbang dan enak didengar.

Caranya?

Praktisi customer service harus secara cepat menyesuaikan situasi dan mengabaikan segala teori analisa tentang latar belakang terjadinya komplain customer. Tentu kita tadi sudah mendengarkan dengan seksama semua syair indah yang terlontar dari mulut customer sampai mencapai oktaf tertinggi bukan?

Buat saya, sekarang untuk satu kasus ilustrasi ini, langkah recovery yang harus kita lakukan adalah Agree – Apologize  – Act artinya mari kita pergunakan bahasa tutur diplomasi dengan  pemilihan kata yang tepat, sopan dan tegas. Contohnya sebagai berikut:

  • Setuju bahwa customer benar dengan mengatakan “Bapak benar, kami menjanjikan pesanan Bapak siap hari ini”.
  • Minta maaf dengan mengatakan “Sekali lagi mohon maaf, karena terjadi keterlambatan dari pihak kami”
  • Aksi Solusi menginformasikan batas waktu dengan mengatakan “Kami akan membereskan pesanan Bapak dan akan kami antar paling lambat pukul tiga (3) sore sudah sampai di alamat Bapak”.

Apakah kemudian persoalan ini selesai?

Tentu saja kalau aksi solusi yang kita janjikan kita tepati. Mari kita pastikan pesanan telah diterima pihak pemesan dan kita hubungi customer sekali lagi untuk menanyakan kondisi pesanan yang diterima apakah sudah sesuai sekaligus memastikan kepuasan customer..

Panduan teknis selanjutnya.

Kita harus menghadapi customer bernada tinggi tersebut yang omongannya membuat kita gagal paham insight dari komplainnya. Pokoknya si customer nyerocos saja, dan kita tidak mengerti juntrungannya.

Pada kasus yang seperti ini, harus kita perjelas dengan mempertanyakan maksud komplain sebenarnya dari customer untuk kita bisa sampai ke penyebab sebenarnya dari masalah tersebut.

Misalnya, seorang customer yang tidak jelas dengan menyampaikan kalimat “Anda tidak peduli dengan customer!“.

Kalimat seperti ini tentunya sangat sulit kita pahami. Maka kita harus mendapatkan jawaban dari pernyataan customer yang seperti ini supaya dapat mulai menyelesaikan masalah.

Langkah jitu selanjutnya untuk praktisi customer service yang menghendel customer yang sedang melantunkan nada tinggi tersebut adalah jangan coba-coba mengancam/ menakut-nakuti customer tersebut. Sebagai gantinya, beri tanda aba-aba “berhenti” atau “stop” dengan telapak tangan terangkat keluar, atau bahkan paling gampang dan umum dan mestinya sopan kita juga bisa memberikan tanda “time out”. Ketika customer merespon sinyal kita, kemudian kita mengambil kersempatan mengucapkan sesuatu seperti “Mari kita lanjutkan berbicara dengan hal-hal yang fokus pada solusi komplain Bapak”

Yang terakhir dalam ilmu diplomasi menghadapi customer yang sedang melantunkan nada tinggi adalah penggunaan kalimat yag tepat. Hindari frasa yang menyebabkan pelanggan menampilkan tiga R dalam bahasa Inggris, yaitu Resentment – Reluctance – Resistance yang kalau dibahasa Indonesiakan menjadi Antipati, Enggan dan Malawan/Menantang.

Contoh kalimat yang harus kita hindari adalah “Kalau begitu, Bapak harus ……”

Sebagai penggantinya, kita bisa mengatakan kepada customer dengan menggunakan kalimat  untuk  merekomendasikan agar kita melakukan sesuatu. Atau bahkan kita bisa minta customer melakukan sesuatu sebagai solusi.

Inti dari diplomasi dalam ilmu customer service adalah tutur bahasa yang baik dan jelas dan tegas. Ini berlaku di seluruh dunia dengan menggunakan bahasa apapun. Saat kita berkomunikasi dengan customer sangat penting untuk menggunakan istilah yang tepat tanpa multi tafsir. Jadi ya… Bagi kita menjadi sangatlah penting untuk menguasai bahasa nasional dengan tambahan bahasa asing lainnya. Di Indonesia sini misalnya tambahannya adalah menguasai bahasa Inggris verbal demi lancarnya komunikasi dan diplomasi.

Berikut di bawah ini, saya dapat memberikan  beberapa contoh pernyataaan berhubungan dengan pesanan dan pengiriman. Saya sajikan beberapa contoh kalimat yang harus dihindari dan mengganti rangkaian kalimat dengan menggunakan kata-kata penggantinya yang lebih tegas.

“Bapak akan segera menerima pesanan Bapak” atau “Kami akan segera mengabarkan kepada Bapak”.

Kalimat yang lebih baik adalah “Bapak akan menerima pesanan Bapak pada jam 5 sore hari ini”

“Kami akan mempercepat pengiriman pesanan Bapak,”

Kalimat yang lebih baik adalah “Kami akan mengirim pesanan Bapak hari ini dengan menggunakan JNE Express yang YES (Yakin Esok Sampai)

“Kami akan menelepon Bapak kembali,”

Kalimat Lebih baik adalah “Kami akan menelepon Bapak kembali sore ini pukul 5”

“Kami akan melakukan yang terbaik untuk Bapak” atau “Akan kami usahakan”

Kalimat yang lebih baik ” Kami akan melakukan sesuai permintaan Bapak”

“Kami sedang mengerjakannya”

Kalimat yang lebih baik adalah “Kami sudah berkoordinasi dengan tim akunting untuk mempercepat proses pengecekan dan Bapak akan menerima jawabannya pada hari Jumat”

Demikian teman-teman sharing saya mengenai Ilmu Customer Service yang pernah saya praktekkan. Teman-teman pembaca silakan memberikan komen atau bahkan berbagi experience tentang Best Practises Customer Service di tempat kerja masing-masing.

#IndahnyaBerbagi dan semoga tulisan saya memberikan manfaat baik bagi teman-teman.

Bali, 15 February 2020

Jeffrey Wibisono V.

Share this:

Ketentuan pakaian karyawan hotel

Seragam

Dalam beberapa forum konsultasi, ketika seorang pimpinan perusahaan mengucapkan kata integrity, yang saya lakukan pertama kali adalah memperhatikan seragam karyawannya mulai dari alas kaki sampai ke tatanan rambut. Buat saya seragam ini termasuk di dalam paket pembentukan karakter, grooming and hygiene semua karyawan.

Mengapa?

Karena karyawan adalah brand ambassador perusahaan, yaitu pasukan terdepan yang membuat brand kita terkenal, memenangkan persaingan pasar. Ini bagian dari aktivitas marketing/pemasaran, brand activation dan product positioning. Saya sangat serius dalam hal seragam ini, dari pemilihan warna, desain, motif dan bahan. Kita dapat memperhatikan kepercayaan diri seorang karyawan meningkat ketika sedang berseragam dan berada di wilayah kerjanya. Ini dikarenakan si karyawan mengenakan busana yang tepat, nyaman dipakai dan mengangkat harga dirinya. Berlaku pada semua jenjang jabatan.

Menurut saya, manajemen perusahaan melalui pimpinan tertingginya, harus mampu menterjemahkan filosofi logo perusahaannya. Salah satunya adalah diterjemahkan ke dalam pemilihan desain dan warna seragam sebagai satu kesatuan utuh dari suatu brand. Ini brand promise yang harus di deliver ke publik.

Nah dari disinilah kemudian yang bisa saya analisa keseriusan suatu perusahaan terhadap integritas karyawan dan kredibilitas pimpinan tertinggi perusahaan dalam hal memperhatikan kesejahteraan karyawannya sebagai aset. Pernah dengar kan teman-teman kalau karyawan itu adalah mesin uang perusahaan dan perlu perawatan supaya mesinnya tidak sampai macet?

Jadi urusan seragam adalah kebutuhan premier supaya selaras antara brand promise dengan kebutuhan customer kita.

#BrandStrategy perusahaan kita harus menerapkan visi, misi dan value organisasi. Kita mempunyai tugas untuk memastikan bahwa visi, misi, value ini diterjemahkan dan dikomunikasikan dengan tepat dan akurat ke semua karyawan. Dari jabatan tertinggi sampai terendah. Banyak perusahaan yang mengabaikan hal ini. Sangat disayangkan kalau kemudian seragam permanen yang diberikan hanya berupa polo-shirt.

Alangkah sulitnya kemudian ketika pimpinan perusahaan menuntut integritas karyawan, tetapi pimpinannya sendiri belum memenuhi sarana pendukung utamanya. Dalam hal ini seragam yang layak sebagai brand image termasuk fungsi kontrolnya.

#BrandPromise, #vision, #MissionStatement dan #values milik kita harus mantap. Proses pencipattan Brand pun harus sangat bersungguh-sungguh, serius, matang dan melibatkan tim kerja. Ini kita sudah sampai berbicara satu konsep dan sekali lagi filosofi seragam sebagai bagian integral yang mewakili perusahaan untuk berhadapan dengan customer dan mata publik.

Dalam suatu perdebatan saya pernah berkata, seragam tidak memberi imbas langsung terhadap revenue/omzet/ pendapatan perusahaan. Tetapi seragam adalah asesori penting yang harus dipasang untuk memberikan nilai jual lebih terhadap produk yang ditawarkan. Masih ingat dengan pemilihan kertas untuk business card atau kartu nama? Ya! Dari kualitas kartu nama tersebut sudah ketahuan kualitas produk yang ditawarkan ke calon customernya. Dan kartu nama adalah bagian dari seragam.

Dari beberapa sesi konsultasi, saya sampai saat ini masih menemukan banyak perusahaan berpedoman bahwa brand itu adalah external promise, walau sebenarnya brand adalah internal promise. Ini adalah misi dan corporate culture kita. Lead by example bahasa kerennya

Akhir kata, Branding harus dimiliki oleh semua orang di dalam lingkup suatu organisasi. Kita harus menyukainya, memilikinya dan menjadikannya bagian dari nafas keseharian kita!

#brandambassadors #uniform #leadership #branding

Bali, 8 February 2020

Jeffrey Wibisono V.

color coordination in uniform
Share this:

Membimbing Peningkatan Karir Karyawan Berkualitas

Saya ingin sharing tentang intisari kualitas SDM (Sumber daya Manusia) dari generasi Milenial sebagai penerus tongkat estafet kinerja demi kelangsungan banyak industri. Sudah kita pelajari karakteristik setiap generasi yang berbeda. Behaviour yang terbentuk tergantung pola asuh orangtua dan lingkungan keluarga. Juga ada pengaruh faktor luar dari pergaulan yang dapat merubah pola pikir dari bahan bacaan, bahan tontonan dan bahan pembicaraan.

Lepas dari tendensi motivasi kerja generasi milenial yang sangat menghendaki kebebasan dan lebih independen tetpai sukses, di tulisan ini saya mengangkat beberapa kesempatan untuk mereka yang bekerja kantoran atau di organisasi industri.

Saya percaya bahwa pedoman manajemen ini akan membantu kita meningkatkan motivasi kerja karyawan. Saya memiliki empat tahap yang mestinya teman-teman leaders sudah memahami nya juga.

Pertama adalah kita deal dengan Pekerja Pemula yang Penuh Semangat/ Antusias

Tipe ini adalah karyawan kontrak dan karyawan tetap dari generasi milenial yang sudah bersemangat ingin mencoba segala sesuatu yang baru dan tidak perlu banyak cheer-leaders. Tetapi para pimpinan di wilayah kerja mereka tidak boleh lalai, Mereka, Pekerja Pemula yang Penuh Semangat ini, masih membutuhkan instruksi dan arahan khusus. Bersiaplah untuk menjawab banyak pertanyaan agar mereka tetap di jalurnya

Selanjutnya adalah Pelajar yang kecewa

Tipe karyawan ini tampak sering frustrasi karena menghadapi fakta bahwa ternyata pekerjaan yang harus mereka hendel ternyata lebih berat dari yang mereka bayangkan sebelumnya. Syok!. Keceriaan mereka menurun drastis dengan cepat. Mereka juga masih belajar dan tidak banyak menunjukkan kemampuan mereka. Untuk mengangkat tipe pekerja ini dari keterpurukan, mari kita beri  mereka banyak umpan balik yang spesifik dan tepat waktu tentang progress kerja dan kemajuan kinerja mereka. Evaluasi kerja termasuk memberikan pujian dengan agenda  tatap muka adalah salah satu cara terbaik.

Kemudian kita mempunyai anggota tim yang capable tetapi terlalu berhati-hati .

Karyawan milenial kategori ini adalah mereka yang telah melakukan pekerjaan dengan benar. Tetapi mereka belum memiliki kepercayaan diri beserta datangnya kesuksesan kinerja yang telah  berulang. Ya! Untuk memperkuat mereka yang penuh keberhasilan ini, kita perlu memberikan waktu untuk memenuhi kebutuhan psikologis. Mereka membutuhkan pengakuan positif yang jelas untuk mencapai tujuan. Dan kita, para leaders bisa melalui para supervisor nya harus mendorong motivasi sukses mereka untuk terus  mengulangi kinerja mereka yang performanya sudah bagus.

Akhirnya yang ke-empat, kita mempunyai Pekerja yang terdiri dari orang-orang yang berhasil mandiri dengan istilah bahasa Inggrisnya Self-reliant achievers.

Karyawan tipe ini sudah dapat memenej diri mereka sendiri. Tetapi sekali lagi dan ini sangat manusiawi, karyawan yang mandiri beginipun juga membutuhkan pengakuan agar mereka tidak merasa diperalat atau dimanfaatkan dalam pengertian yang negatif. Secara teratur, kita harus berterima kasih dengan cara yang tulus dan sistem memberikan  insentif akan memberikan imbas lebih baik. Kasih kesempatan para Self-reliant achiever melatih orang lain juga beri peluang  untuk memilih tugas mereka sendiri atau melibatkan mereka dalam proses membuat keputusan. Ketika kita mampu membuat mereka lebih terlihat dalam organisasi, integritas dan loyalitas muncul lebih dan lebih.

Kapan agenda terakhir teman-teman profesional melakukan appraisal terhadap team kerja yang harus disupervisi?

Saya selalu percaya bahwa di dalam menejemen, perihal yang paling sulit adalah mengelola SDM. Karena fakta-fakta psikologis harus terlibat seperti misalnya latar belakang pendidikan dan kehidupan keluarganya ditambah sosio kultur masyarakat dimana pekerja bawahan kita bertempat tinggal.

Please kabari saya saja kalau perlu bantuan untuk membimbing karyawan Indonesia guna meningkatkaan karir karyawan untuk menjadi lebih berkualitas sambil membangun integritas dan loyalitas mereka. Sudah paham teknik-teknik appraisal kan?

Bali, 01 February 2020

Jeffrey Wibisono V.

Hospitality Consultant - Learning, Consulting, Public Speaking and Coaching
Share this:

WA Group, Oh Yes atau Oh Noooo……!

Saya terkenang masa kecil yang sering harus saling disumpah untuk memantapkan suatu cerita atau pernyataan. Begini kalimat sumpahnya dalam bahasa Jawa dolanan “pang ping jojoh lading, jus jus jus”.  Kalau saya yang disumpah, satu teman saya mengucapkan kalimat tersebut sambil beraksi membuat tanda silang di dada saya. Kemudian  pada kalimat Jus Jus Jus, dia menggerakkan jari telunjuk seolah menusuk ulu hati saya.

Saya menuliskan cerita ini sambil tersenyum mengenang bagaimana teman-teman bermain saya, berusia sepantaran berkomitmen menuntut kebenaran, kesungguhan dan  tanggung-jawab terhadap suatu cerita dan berita.

No hoax!

Nah bagaimana dengan WA si Whatsapp dan Telegram di masa kini?

Pastinya tidak perlu disumpah-sumpah lagi, karena bukti-bukti percakapan tinggal di screen-shot dan di transfer secara online.

Ngomong-ngomong, teman-teman telah menjadi member berapa WA Group?

Saya terdaftar di 15 WA Group baik sebagai yang akitf sebagai admin maupun member pasif untuk aktualisasi berita dan aktifitas  terkini.

Baiklah, saya hendak berbagi  mengenai manfaat komunikasi interaktif saat ini untuk lingkup kerja berbasis teknologi internet dan komputer menggunakan sistem messenger yaitu WA maupun Telegaram. Mari kita coba ide-ide ini untuk membantu kita semua.

Cara pertama adalah Mengharuskan karyawan untuk mengambil bagian dalam sistem  komunikasi interaktif  kita. Sebaiknya tidak membuka celah untuk menawarkan masuk ke grup adalah pilihan.

Alasan: Ini adalah cara tercepat dan termudah untuk mengurangi ketakutan mereka untuk berubah dari berbasis kertas/ memo/ staff notice board ke sistem elektronik. Dan sebagian besar karyawan akan dengan mudah beradaptasi ketika mereka melihat seberapa cepat mereka dapat mengakses manfaat dan informasi lainnya.

Langkah selanjutnya adalah sinkronisasi dan memonitor pendistribusian informasi sehingga tidak membuat karyawan frustrasi dengan memaksa mereka melalui serangkaian langkah-langkah jika-maka.

Harap diperhatikan janganlah kita menambahkan kompleksitas saat kita mempertimbangkan hendak menyederhanakan suatu sistem komunikasi.

Poin Bagus dari WA Grup ini adalah management secara bertahap menyingkirkan beragam formulir yang memaksa karyawan mengulangi informasi yang sudah ada di komputer.

Poin Buruk dari WA Grup ini adalah dapat menciptakan kesenjangan karyawan yang sudah terbiasa menggunakan gadget elektronik. Bagi yang belum mengenal sistem atau biasa kita sebut gaptek, mereka akan menghabiskan lebih banyak waktu daripada yang seharusnya. Maka disini harus ada yang di in-charge kan sebagai trainer.

Kita harus selalu meng-antisipasi berhadapan dengan pemilkiran dan reaksi pola karyawan yang memiliki pemikiran kuno dan enggan beradaptasi dengan hal-hal baru.

Pernah dengan kata “Itu dia”?

Ini terjadi terhadap mereka yang belum menyadari bahwa apa yang mereka butuhkan akan terus berubah. Minat mereka yang enggan berubah harus diarahkan dan terus dilatih dan dimotivasi untuk menjalankan perspektif baru sesuai jamannnya.

Akhirnya kita harus men-jalankan secara konsisten terlepas dari sistem otomatisasi informasi yang didistribusikan. Karyawan akan bekerja lebih efektif sebagai bagian dari grup interaktif yang karmanya adalah menjadi bisa dikontak dimana saja dan kapan saja.

Produktif sekali bisnis kita ini dengan hanya bermodalkan pulsa telepon untuk membuat hape terus menyala.

Bali, 26 January 2020

Jeffrey Wibisono V.

Share this:

OBSESI Praktisi Sales dan Marketing di Bali

Anda tentunya pernah mendengar, mengucapkan maupun membaca kalimat “I Hate Monday”. Tetapi yang terjadi pada hari Senin 16 Desember 2019 bisa dikatakan menjadi A New Normal. Sekitar 45 orang praktisi Sales perhotelan di Bali berkumpul dengan judul acara OB-SE-SI kependekan dari Obrolan Seputar Sales & Marketing Indonesia. Acara ngumpul-ngumpul bersosialisasi sesama profesi ini dalam rangka menutup semua kesuksesan dan kegagalan di tahun 2019. Tetapi pada kesempatan ini, teman-teman praktisi Sales perhotelan juga menggunakan kesempatan untuk tukar menukar kado sebagai simbol keakraban dan saling keterkaitan yang terjalin.

Acara puncak ObSeSi ini adalah misi edukasi dengan cara sharing session yang dipandu oleh veteran praktisi Sales & Marketing,  Jeffrey Wibisono V.

Jeffrey adalah  juga penulis buku Hotelier Stories Catatan Edan Penuh Teladan yang acara peluncuran penerbitannya tepat pada tanggal yang sama yaitu 16  Desember pada tahun 2016.

Jeffrey Wibisono memandu talk show ini dengan brandingnya “Real Life Situation” untuk membantu memberikan solusi-solusi jitu terhadap banyak task list praktisi Sales & Marketing, terutama untuk menjalankan budget dan mencapai target penjualan pada tahun 2020.

Bali 16 Desember 2019

Jeffrey Wibisono V.

Catatan: Terima kasih untuk Organizer Cut Rossi, Yan Juna dan Elnino Irawan yang telah mampu mewujudkan acara dalam jangka waktu hanya satu minggu. Thank Technology! Pastinya terima kasih kepada semua Sales Personnels Bali yang hadir pada hari penyelenggaraan yang sangat tidak biasa, yaitu Senin. Hanya dengan flexibility dan komitmen semuanya, acara ini bisa terjadi.

Share this:

OBSESI Obrolan Seputar Sales and Marketing Impact

Kami ber-networking untuk menutup tahun 2019 dengan penuh kebersamaan. Kami yang berkarir dan berprofesi sebagai praktisi Sales & Marketing di Bali. Kami yang punya rasa nyaman antara satu dengan yang lainnya, untuk bersuka dan mau sharing pengetahuan dan tukeran kado akhir tahun juga.

Share this: