OBSESI Praktisi Sales dan Marketing di Bali

Anda tentunya pernah mendengar, mengucapkan maupun membaca kalimat “I Hate Monday”. Tetapi yang terjadi pada hari Senin 16 Desember 2019 bisa dikatakan menjadi A New Normal. Sekitar 45 orang praktisi Sales perhotelan di Bali berkumpul dengan judul acara OB-SE-SI kependekan dari Obrolan Seputar Sales & Marketing Indonesia. Acara ngumpul-ngumpul bersosialisasi sesama profesi ini dalam rangka menutup semua kesuksesan dan kegagalan di tahun 2019. Tetapi pada kesempatan ini, teman-teman praktisi Sales perhotelan juga menggunakan kesempatan untuk tukar menukar kado sebagai simbol keakraban dan saling keterkaitan yang terjalin.

Acara puncak ObSeSi ini adalah misi edukasi dengan cara sharing session yang dipandu oleh veteran praktisi Sales & Marketing,  Jeffrey Wibisono V.

Jeffrey adalah  juga penulis buku Hotelier Stories Catatan Edan Penuh Teladan yang acara peluncuran penerbitannya tepat pada tanggal yang sama yaitu 16  Desember pada tahun 2016.

Jeffrey Wibisono memandu talk show ini dengan brandingnya “Real Life Situation” untuk membantu memberikan solusi-solusi jitu terhadap banyak task list praktisi Sales & Marketing, terutama untuk menjalankan budget dan mencapai target penjualan pada tahun 2020.

Bali 16 Desember 2019

Jeffrey Wibisono V.

Catatan: Terima kasih untuk Organizer Cut Rossi, Yan Juna dan Elnino Irawan yang telah mampu mewujudkan acara dalam jangka waktu hanya satu minggu. Thank Technology! Pastinya terima kasih kepada semua Sales Personnels Bali yang hadir pada hari penyelenggaraan yang sangat tidak biasa, yaitu Senin. Hanya dengan flexibility dan komitmen semuanya, acara ini bisa terjadi.

Share this:

OBSESI Obrolan Seputar Sales and Marketing Impact

Kami ber-networking untuk menutup tahun 2019 dengan penuh kebersamaan. Kami yang berkarir dan berprofesi sebagai praktisi Sales & Marketing di Bali. Kami yang punya rasa nyaman antara satu dengan yang lainnya, untuk bersuka dan mau sharing pengetahuan dan tukeran kado akhir tahun juga.

Share this:

Bersama Runi Palar The First Indonesian Modern Jeweller

Ketika Dunia Barat heboh dengan Black Friday, saya malah melakukan perjalanan ke pelosok desa di Ubud. Misi perjalanan kali ini adalah memenuhi undangan Ibu Runi Palar untuk business talk mengenai pengembangan bisnis perhiasan dengan brand Runi Palar dan Runa. Buat saya ini adalah momen Learning and Consulting. Mengolah rasa seni dikombinasikan dengan strategi marketing gen 4.0, kekinian.

Runi Palar yang kita kenal adalah artisan Indonesia pertama dalam hal Perhiasan Modern. Bahasa Inggrisnya The First Indonesian Modern Jeweller. Satu buku yang menulis tentang Biografi sekaligus memuat design-design dari karya pertama Runi Palar ditulis oleh Bruce Carpenter dengan judul Dancing in Silver

Apakah Anda sudah pernah berkunjung ke Museum Runa yang juga satu kompleks dengan rumah tinggal Ibu Runa dan Bapak Adriaan Palar sang suami yang juga Pelukis aliran abstrak?

Diskusi kami Jumat siang 29 November 2019 itu, seputaran pengembangan bisnis gen 4.0 untuk bidang bisnis perhiasan Runi Palar. Pastinya dari yang sekarang basisnya established market  berusia 40 tahun ke atas, Bu Runi telah bersiap tinggal landas menggarap design-design khusus untuk para milenial juga iGeneration. Apakah Alpha Generation juga sudah harus mulai diperkenalkan dengan perhiasan karya Runi Palar?

Mari kita nantikan karya besar Bu Runi Palar yang selalu membawa nama Indonesia pada saat melakukan misi perdagangan dan pameran di luar negeri.

Semoga selalu sehat Bu Runi.

Bali, 30 November 2019

Jeffrey Wibisono V.

Share this:

Cloudbeds Hospitality Management Suite

Hallo teman-teman Hoteliers

Apakah hotel teman-teman sudah komplit menggunakan dalam satu paket hotel system yang termasuk ???
• PMS (Property Management System)
• Channel Manager
• Booking Engine
• PIE (Pricing Intelligence Engine)
• Marketplace (reputation manager ada disini)
• Insights
.
Maka sekarang sudah tersedia The Cloudbeds Suite
Everything you need in one easy package.
See how it works (please click the link to request demo and to know more)

Share this:

Ayo Kita Bahas Teknologi Inovatif Partisipatif Untuk Masa Depan Industri Pariwisata Indonesia

Gini loh bro ….

Pertama-tama saya mohon ijin untuk men-copas terlebih dahulu satu statement yang dimuat di traveltext ini.

“Pariwisata kita terbangun atas kearifan masyarakat dan budaya lokal pada tiap destinasinya, sehingga menjadi daya tarik yang luar biasa bagi wisatawan. Ada keramah-tamahan khas yang dirasakan para wisatawan dengan berbagai latar kultur dan agama,” kata Wishnutama.

Lalu …..

Saya hendak membandingkan dengan Jepang yang  mengharapkan 40juta wisatawan mancanegara (wisman) masuk pada tahun 2020. Momennya juga tepat karena pada bulan Juli – Agustus, Jepang menjadi tuan rumah olimpiade musim panas.

Lantas apa yang ditawarkan oleh Jepang?

“Saat ini kami juga melayani wisman dengan teknologi inovatif, pengalaman pengguna yang ringkas, serta penawaran objek wisata lokal yang beragam yang disesuaikan menurut setiap pasar di kawasan Asia Tenggara yang beraneka ragam, hadir dengan bahasa-bahasa setempat, sejumlah metode pembayaran dan mata uang lokal. Dengan berkembangnya kalangan FIT dan generasi milenial yang terus mencari aktivitas baru, Asia Tenggara tetap menjadi salah satu fokus kami untuk ekspansi pariwisata secara berkelanjutan,” kata Satoshi Seino.

Saya menggaris bawahi Teknologi Inovatif.

Lalu apakah ini artinya Jepang menggantikan Customer Servicenya dengan Robot?

 Ya, Jepang sangat terkenal dan salah satu yang pertama di dunia dengan teknologi robotik nya. Tetapi…… 

Ternyata orang Jepang melakukan teamwork dengan robotnya. Peran manusia tidak tergantikan dan robot untuk membantu memberikan kenyamanan lebih dan lebih untuk layanan publik.

Perlu kita sadari, Jepang memiliki integritas customer service yang dipelajari oleh marketer dari seluruh dunia. Filosofi layanan ini terminologinya adalah omotenashi. Roh dari customer service ini asal muasalnya adalah implementasi dari “Ichigo Ichi-e”, yang mempunyai makna “saya sangat bersyukur dapat bertemu dengan anda. Karena itu, saya akan melakukan hal yang terbaik saat ini kalau-kalau kita tidak dapat bertemu kembali”.

Ini seperti harus memenuhi permintaan terakhir seseorang sebelum ajal tiba. Harus delivered!

Lalu…

Apakah Jepang mempunyai keramah-tamahan khas yang dirasakan para wisatawan dengan berbagai latar kultur dan agama seperti yang diunggulkan oleh pariwisata Indonesia?

Apakah omotenashi ini sudah sebanding dengan yang selama ini kita unggulkan dan banggakan?

Sementara di wall Facebook saya sempat muncul komen sindiran dengan referensi banyak kejadian negatif sehubungan dengan turis versus penduduk lokal yang terekam dan menjadi viral di sosmed. “Kalau di kita mah…tenang aja ini negara kaya raya…indah mempesona…yg penting uang untuk kantong pribadi mengalir deras, jalanan mau macet keq, turis di tipu keq…emang gw pikirin…begituhhhh”

Ini menunjukkan anda dan saya sendiri belum puas terhadap sistem layanan di rumah kita sendiri.

Baiklah selanjutnya…

Saya mengacu pada Pidato Presiden Joko Widodo pada tanggal 16 Agustus 2019

Saya percaya akan aktualisasi  wacana dalam kalimat “Berbekal inovasi, kualitas SDM, dan penguasaan teknologi kita bisa keluar dari kutukan sumber daya alam”.

Kalau omotenashi adalah bagian dari kurikulum sekolah di Jepang, maka Indonesia secara nasional harus mengejar kebutuhan akan SDM unggul yang toleran, yang berakhlak mulia, yang terus belajar, bekerja keras, dan berdedikasi. Perlu waktu berapa lama?

Kemudian diikuti cita-cita untuk mewujudkan Indonesia menjadi pusat teknologi dan inovasi.

Demi pariwisata Indonesia sebelum tergerus oleh jaman, anda dan saya perlu pemikir-pemikir dan pelaksana-pelaksana yang visioner.

Ini loh sudah masuk revolusi industri ke-4 yang kerennya disebut gen 4.0. dan sudah mencapai tingkatan IoT (Internet of Things) dan IoE (Internet of Everything) dimana instruksi dan operasional pengendalian suatu modul sudah bisa menggunakan sensor suara temasuk mengendari mobil tanpa hadirnya seorang sopir.

Lalu…..

Dimana posisi pariwisata Indonesia?

Buat saya keberagaman kearifan masyarakat dan keberagaman budaya lokal yang harus dipertahankan. Tetapi harus ditingkatkan dengan dukungan teknologi untuk menembus dunia yang sudah tanpa batas, sehingga disebut dunia maya. Dunia nyata yang imaginatif seperti film Avatar yang sangat sukses itu.

Bagaimana caranya?

Di dalam penglihatan saya, saya sangat berharap pentas-pentas kesenian tradisional dilengkapi dengan teknolgi lighting dan Augmented Reality (AR). Sehingga menjadi live show yang 5Dimensi yang interaktif. Kalau sudah begini bolehlah kalau kemudian kita sebut Wonderful Amazing Indonesia.

Promosi Pariwisata Indonesia saya rekomendasikan mulai menggunakan Virtual Reality (VR) seperti yang akan dilakukan juga oleh Facebook bagi penggunalnya. Selain itu masih ada Apps yang terdengar sudah kuno buat saya. Biaya produksi apps bisa dibilang  mahal dan masih ada kemungkinan teknologinya dikembangkan.

Palapa Ring telah tersedia yang artinya ini salah satu bagian infrastruktur teknologi yang disebut tol langit sebagai pendukung komunikasi dan transaksi yang efektif dan efisien untuk semua lini bisnis dari Sabang sampai Merauke dari Miangas sampai Pulau Rote. Proses jual beli bisa terjadi dalam hitungan menit sampai detik.

Saat ini yang saya mengerti, generasi milenial menghendaki banyak aktivitas baru, adventurous, mencari experience, travel light dan ini yang paling penting – liburan sambil bekerja dengan istilah baru staycation, workcation.

Kita yang lebih dewasa menyebutnya Milennial Disruption. Hahhaah…. kita merasa terganggu menghadapi perubahan preferensi dan perilaku konsumsi anak dan cucu kita.

Nah sekarang bagaimana mengantisipasi kelangsungan pariwisata Indonesia yang selanjutnya akan di kelola dan dikembangkan oleh Generasi Milenial kelahiran antara tahun 1981 sampai tahun 1994 dan iGeneration tahun 1995 sampai tahun 2010. Demikian pula usia wisatawannya.

Persiapan-persiapan ….. ini peringatan bagi Baby Boomer, gen X dan gen Y.

Di era ini, Gen Z dan iGeneration sangat tergantung dengan segala kemudahan suatu sistem dan sudah menular kepada para orangtua-nya. Kesabaran semakin menipis. Disuruh menunggu sebentar sudah ngambul dan bilang ndak direspek. Sebentar kemudian sosmednya penuh dengan pelampiasan pemikiran menuangkan emosi.

Lalu apa jalan keluarnya?

Kembali lagi ke implementasi teknologi dengan embel-embel “kemudahan” user friendly.

Dibutuhkan dimana? Tentunya harus dimana saja dan disemua bidang usaha. Partisipasi Teknologi yang inovatif untuk bekerjasama dengan manusia sebagai pengontrolnya.

Para Pebisnis dan Pengusaha Restoran, Rumah Makan, Warung, Hotel juga sarana pendukung pariwisata lainnya seperti Day-Cruise dan Taman Rekreasi sudah harus paham mengenai market segment berdasarkan Geographic, Demographic, Psychographic dan Behavioral. Pemahaman ini sangat diperlukan untuk berlangsungnya bisnis jangka panjang dan menyediakan fasilitas yang tepat.

Fasilitas apa?

Ya… contohnya membangun Digital Hotel dengan Pembayaran sistem Virtual, sudah bisa check-in pada saat dalam perjalanan menuju hotel dan masuk kamar dengan face detector. Memangkas beberapa masa tunggu. Untuk pengusaha, dengan menggunakan virtual account, artinya cashflow lancar.

On top of semua-semua ide teknologi ini, pastinya juga kita masih tergantung dengan birokrasi perijinan terhadap suatu badan usaha. Mestinya ini juga sedang dikerjakan oleh pemerintah kita, beyond our knowledge sebagai pengguna jasa.

Akhir kata

Sorry bro…

Saya secara pribadi suka dengan kata keberagaman dibandingkan ramah ini ramah itu yang mengangkat perbedaan.

Karena buat saya keramah-tamahan khas ini masih sangat abstrak dan menurut saya justru harus dibuat code of conductnya mengacu pada omotenashi-nya Jepang. Filosofi customer service yang bukan membanggakan diri sebagai orang Jepangnya, tetapi memberikan pelayanan sepenuh hati.

Bali, 18 November 2019

Jeffrey Wibisono V.

Share this:

Ayo kita bahas DMO untuk masuk ke dunia-nya Traveler Milenial

Gini loh bro ….

Pertama saya hendak  paparkan dulu usia generasi birokrat NKRI dan usia generasi potential market traveler, pelancong dan wisatawan dunia saat ini. Saya buat simple saja mengantisipasi  jangka pendek sampai lima (5) tahun ke depan.

Dari buku berjudul Mind The Gap yang ditulis oleh Graeme Codrington and Sue Grant-Marshall, kita diajak mengenal karakteristik antar generasi. Kita dan generasi di atas maupun di bawah kita,  menemukan generasi dan orang-orang yang berperanan membentuk hidup kita.

Apakah generasi birokrat NKRI dari …. ?

  • Generasi Baby Boomer kelahiran antara tahun 1946 sampai  tahun 1964 dengan karakteristik peduli dan peka terhadap perasaan orang lain (empati)
  • Generasi X kelahiran  antara tahun 1965 sampai tahun 1980 dengan karakteristik orang tuanya mengajak untuk peduli dan peka terhadap perasaan orang lain (simpati)
  • Generasi Y = Generasi Milenial kelahiran antara tahun 1981 sampai tahun 1994 dengan karakteristik orang tuanya lebih modern dan fokus pada hal-hal yang praktis dan instan. Waktu bersama antara orang tua dan anak menjadi sedikit.
  • Generasi Z = iGeneration = Generasi Internet kelahiran antara tahun 1995 sampai tahun 2010 dengan karakteristik orang tua hidup dengan gadget dan sibuk sendiri. Anak menjadi lebih individualistis.

Setelah anda dan saya memahami apa yang membuat kesenjangan generasi, maka inilah saatnya  untuk mengubah pola pikir dan lebih jauh mempelajari kebutuhan generasi penerus (kita sebut potensial market traveler).

Dalam hal ini sudah sampai dari generasi baby boomer sampai ke usia produktif generasi milenial dengan dengan kesuksesan finansiil dan gaya hidupnya!

Fokus kepada pariwisata, generasi milenial sebagai traveler  adalah easy going dan explore experience dan moment of truth nya adalah di digital camera dan sosial media.

Apakah generasi milenial mempunyai ketertarikan terhadap arkeologi dan antropologi selain teknologi yang sedang dalam genggaman mereka?

Jadilah flashback ke perencanaan pemerintah yang membahas tentang DMO – Destination Management Organization (DMO) di tahun 2012. Pastinya pada tingkat nasional, pengelolaan eksternal sangat dominan dan merencanakan strategi secara keseluruhan termasuk pemasaran dan diplomasi pariwisata. Ada Inbound ada Outbound.

Salah satunya yang baru terwujud realisasinya dan diumumkan oleh pemerintah secara resmi di  tahun 2019 ini, mengacu pada siaran Kemenparekraf tahun 2012 adalah Mandalika. Kepikir kan itu adalah perencanaan yang dibahas dari 7 tahun lalu. Artinya, bukankah semua program pemerintah itu berkelanjutan berkesinambungan walau harus gonta-ganti presiden juga jajaran para menteri pelaksananya dengan prestasi masing-masing?

Lalu apa sih Istilah dan Pengertian Destination Management Organization (DMO) ?

Ini adalah adalah struktur tata kelola destinasi pariwisata yang mencakup

  • perencanaan,
  • koordinasi,
  • implementasi,
  • dan pengendalian organisasi destinasi

secara

  • inovatif
  • dan sistemik

melalui pemanfaatan

  • jejaring,
  • informasi dan teknologi,

yang terpimpin secara terpadu dengan peran serta

  • masyarakat,
  • asosiasi,
  • industri,
  • akademisi
  • dan pemerintah

dalam rangka meningkatkan kualitas

  • pengelolaan,
  • volume kunjungan wisata,
  • lama tinggal
  • dan besaran pengeluaran wisatawan
  • serta manfaat bagi masyarakat

di destinasi pariwisata.

Wis ini saja dulu deskripsinya.

Lalu bagaimana tata kelola, monitoring dan tolok ukur pencapaiannya untuk wilayah tingkat Lokal, Regional dan Nasional?

Bisa dipastikan kegiatan membentuk dan mengelola serta menyempurnakan destinasi melalui suatu proses yang berkesinambungan. Perihal ini untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan bersama dengan pemasaran dan diplomasi pariwisata. Antara lain dengan menjalankan prinsip-prinsipnya yang bersifat multisektoral dan multi dimensi di dalamnya merujuk pada berbagai indikator yang telah ditetapkan.

Tentunya dalam perjalanan DMO ini ada perubahan-perubahan disesuaikan dengan zamannya.

Di tahun 2019 ini pergeseran perilaku bisnis telah berubah. Tahu-kan beberapa gerai supermarket jaringan nasional seperti Hero, Matahari sudah tutup? Mengapa?

Salah satunya karena convenient store nya ada di hape masing-masing. Pesan, Bayar, Terima Barang tanpa meninggalkan tempat. Apalagi sampai harus buang-buang waktu ngantri di kasir supermarket seperti sampai beberapa tahun lalu.  Entah, saya sudah lupa tahun berapa terakhir kali saya belanja di supermarket dan masih rela mengantri untuk membayar barang belanjaan di kasir.

Bulan Oktober lalu, saya mendapat hashtag/ tagar dari mentor Digital Marketing saya yaitu #GoOnlineOrGoAway. Disini, manusia harus teamwork dengan robot. Bukan robot menghilangkan manusia. Kalau dulu jam kerja disebut 9/5 sekarang menjadi 24/7. Dari sebutan diajari out of the box, sekarang saya berani membuat terminologi baru no box.

Perlu kita ketahui perilaku dan preferensi generasi milenial telah mengubah zaman begitu drastis. Beberapa kriteria industri dan produk menjadi tidak relevan dan telah musnah dimakan zaman dalam waktu yang sangat singkat. Seperti kisah dinosaurus.  Nyata, beberapa profesi baru telah eksis dan sebagian telah dihapuskan.

Apakah industri pariwisata akan musnah?

Hati-hati, sekarang di banyak mall di seluruh dunia telah diperkenalkan tour keliling dunia dengan Virtual Reality (VR) dan Augmented Reality (AR).

Bahkan dengan lantang anak teman saya bisa menjawab “Bisa, saya bisa berenang kok!” dan saya syok ketika mengetahuinya si anak teman saya itu belajar berenangnya di ….. “GADGET!”

Halu sekali bukan???

Lalu apakah polemik destinasi pariwisata dengan label ramah ini, ramah itu masih perlu di pertajam?

Dan pertanyaan saya apakah yang ramah ini ramah itu adalah yang memang diperlukan oleh target market generasi milenial dan yang segera akan disusul generasi alpha?

Tugas birokrat, semua perencana, semua pembuat keputusan dan pengemban kebijaksaan adalah menyiapkan masa depan bagi generasi penerus industri pariwisata nasional.

Well…. dari hitungan usia populasi Baby Boomers dan Gen-X akan semakin surut dan berkurang.

Dan bisa jadi suatu saat akan punah. Lalu apa peninggalan anda dan saya yang saat ini masih berada dalam lingkup generasi ini?

Ayo, kita bikin emergency red code! Ini bisa kita menurunkan ilmu ke generasi milenial atau bahkan menimba ilmu dari generasi milenial dalam hal cara berbelanja online maupun mengonsumsi pengalaman (experience dan leisure).

Mari kita temukan their want and their need.

Kita semua tahu kan generasi milenial ke mall bukan untuk berbelanja barang, tapi cuci mata, nongkrong dan dine-out mencari pengalaman penghilang stress.

Hospitality adalah jasa layanan, dan pariwisata adalah bisnis manusia dengan experience seutuhnya yang sangat personal. Setiap individu ingin dan mendapatkan experience yang ber-beda-beda di dalam memorinya. Dapat diketahui dari lontaran cerita tamu-tamu kita masing-masing, walaupun yang kita layani adalah satu keluarga.

Bali, sebagai destinasi wisata utama di Bulan Oktober dan November 2019 ini banyak yang mengeluh sepi atau pencapaian pendapatan di bawah budget dan target. Saya berharap bisa mendapatkan data untuk analisa. Apakah ini sudah masuk ke tahap  ini kondisi “bearish berkelanjutan” sebagai dampak terbentuknya “new normal” perekonomian kita yang melesu dalam jangka panjang. Maaf saya meminjam istilah perdagangan forex yang mempunyai istilah siklus “bullish-bearish”.

Di dalam pekerjaan, saya sudah sangat sering berbicara dengan generasi milenial yang  menuntut fleksibilitas dalam bekerja dan  menuntut pola kerja remote working, flexible working schedule, atau flexi job. Dan minta gaji di atas rata-rata yang telah diperhitungkan perusahaan. Dengan alasan pendidikannya tinggi dan mereka smart. Tren ke arah freelancer, digital nomad atau gig economy kini kian menguat.

Sampai disini saya punya hashtag #smile #nelenludah

Saya ini pengen melanjutkan karir saya di industri hospitality dan pariwisata. Bersaing dengan generasi milenial dengan peristilahan workcation (kerja sambil liburan). Melakukan kontrak kerja berpindah pindah misalnya 3 bulan di Bali, 3 bulan di Jakarta, 3 bulan Dubai dst.  Apakah masih bisa kita menuntut loyalitas dan integritas karyawan? Saya pikir ini bisa saya kembalikan kepada penyedia lapangan kerja dan kelahiran generasi apa-nya.

Di zamannya, saya disebut kutu loncat, karena seringnya pindah-pindah kerja.

Selamat datang masa depan pariwisata Indonesia. Bali dengan lima Bali barunya.

Siapkah generasi baby boomer dan generasi X  Indonesia menghadapi Era Disrupsi Ekonomi Digital dan Revolusi Industri 4.0 ? 

Karakter, Mindset, Wawasan dan Skillset apa yang dibutuhkan untuk estafet dengan generasi milenial dalam urusan Indonesia adalah destinasi pariwisata budaya dan perlu dilestarikan?.

Urusan pariwisata budaya dilestarikan, boleh tidak di VR (Virtual Reality) – kan?

Saya mengambil fakta generasi milenial Bali sekarang dengan latar belakang keluarga petani yang maunya bekerja di hotel.

Sehingga jumlah petani tradisional menjadi sangat minimum. Demikian  juga lahan pertaniannya telah berubah fungsi. Menjadi gedung-gedung atau sentra bisnis lainnya.

Maaf, ini saya jadinya seperti mempunyai dan membangun wild dream!

Saya ingin tahu berapa orang-kah profesional tour guide dari golongan usia generasi milenial di Bali pada saat ini?

Gitu bro….

Bali, 12 November 2019

Jeffrey Wibisono V.

Share this:

Jasa Konsultan Hotel di Indonesia

Anda dan saya pasti sudah tahu bahwa sumber kesuksesan dalam suatu bisnis apapun adalah mempunyai pelanggan, bukan hanya pembeli.  Beda antara pembeli dan pelanggan bisa di logic-kan seperti ini

  • Pembeli adalah orang yang datang berbelanja sekali datang dan tidak pernah datang lagi. Masuk dalam peristilahan beli putus.
  • Pelanggan adalah orang yang datang belanja berulang di tempat yang sama.

Sehingga tugas sukses para pebisnis adalah melayani pembeli  sebaik mungkin, sehingga terjadi pengulangan transaksi berkali-kali untuk menjadi pelanggan tetap.

Lalu apa hubungannya sukses bisnis dengan jasa konsultan dan disini akan kita soroti khusus Jasa Konsultan Hotel?

Baik, marilah kita pahami definisinya terlebih dahulu dari kutipan Wikipedia ini:

Konsultan (istilah alternatif: pakar runding) adalah seorang tenaga profesional yang menyediakan jasa kepenasihatan (consultancy service) dalam bidang keahlian tertentu, misalnya akuntansi, pajak, lingkungan, biologi, hukum, koperasi dan lain-lain. Perbedaan antara seorang konsultan dengan ahli biasa adalah sang konsultan bukan merupakan pegawai perusahaan sang penggunalayan (client), melainkan seseorang yang menjalankan usahanya sendiri atau bekerja di sebuah perusahaan kepenasihatan, serta berurusan dengan berbagai penggunalayan dalam satu waktu.

Maka, dari definisi tersebut, Konsultan adalah pekerja lepas yang dibutuhkan oleh institusi yang memerlukan pengembangan pemikiran untuk bidang tertentu dalam waktu tertentu. Dapat saya perkenalkan beberapa bidang yang termasuk dalam bidang jasa konsultan hotel di Indonesia, antara lain:

  1. Konsultan Teknis Pre dan Post Opening Hotel
  2. Konsultan Arsitektur, Landscape, M.E. dan Interior Hotel
  3. Konsultan Training
  4. Konsultan Sales & Marketing dan Public Relations
  5. Konsultan Food & Beverage
  6. Konsultan Manajemen Operasional

Karena membawa latar belakang keahlian masing-masing, maka tidak semua konsultan akan menguasai enam (6) poin bidang pekerjaan tersebut di atas. Dalam zaman online masa kini dengan alternative Build BIG or Join BIG, sehingga mudah sekali kami para konsultan bersinergi mengerjakan satu proyek hotel bersama-sama. Kami bergabung dan berbagi wilayah sesuai spesialisasi masing-masing sesuai kebutuhan pebisnis yang boleh juga kita sebut investor.

Di Indonesia yang secara natural peoplenya hangat, ramah tamah dengan budi pekerti baik, untuk saya yang spesialisasi di Customer Service dalam masa Transformasi Digital, perbedaan budaya dari satu daerah dan daerah lainnya adalah challenge dalam menyiapkan SOP (Standard Operating Procedure) nya.

Mengapa menjadi challenge, karena untuk saya yang hotelier menjual Jasa Konsultan Hotel di Indonesia , harus mengajarkan Customer Service yang diimplementasi untuk tamu skala internasional. Maka challenge untuk saya adalah saya harus tahu dan mempelajari terlebih dahulu kebiasaan-kebiasaan sehari-hari dari suatu daerah. Hal ini untuk saya menulis dan mengajarkan the Dos and the Don’ts dan memonitor pelajaran prakteknya. Anda dan saya pasti tahu, mengubah kebiasaan adalah hal yang cukup berat.

Saya, mantan hotelier – pekerja hotel dengan standard internasional, saat ini selalu mengajukan materi Customer Service untuk my potential clients. Ini karena saya sangat concern dengan people. SDM – Sumber Daya Manusia adalah aset nomer satu dalam berbisnis. Human Connections yang harus memberikan dan mendapatkan Layanan Prima dalam level apapun.

Nah, apa pula Layanan Prima yang harus Anda dan saya pahami?

  1. Responsif – Menanggapi secepat mungkin: Waktu adalah prioritas.
  2. Acknowledge – Kenali pelanggan:  Pembeli dan Pelanggan perlu personalisasi!
  3. Perbaiki kesalahan: Sediakan waktu untuk mendengarkan pembeli dan pelanggan, kemudian evaluasi dan analisa dan langsung perbaiki hal-hal dimana perlu untuk menghindari reputasi buruk suatu bisnis.
  4. Menyiapkan strategi  beyond expectation: Pembeli dan Pelanggan yang merasa bahagia seperti mempunyai hutang budi,  potensi besar untuk mereka keep coming back.
  5. Membuat strategi  CRM (Customer Relationship Management): strategi bisnis yang memadukan proses, manusia dan teknologi. Pebisnis berkomunikasi secara regular untuk  mengembangkan jaringan memanage Pelanggan Seumur Hidup – Lifetime Membership dengan semua privilege-nya.

Akhir kata, inilah latar belakang mengapa saya masuk ke industri Learning and Consulting dengan nama Telu mengusung branding Real Life Situation Training and Consulting. Semua ini karena saya punya harapan generasi penerus di industri hospitality maupun Jasa Layanan lainnya berkebangsaan Indonesia dengan kebhinekaan-nya mampu berkiprah secara internasional mengungguli bangsa lain.

Pasti bisa!

Jeffrey Wibisono V.

Bali, 7 November 2019

Share this:

Misteri Guest di Restaurant Hotel

Minggu lalu saya dikontak melalui Facebook Messenger oleh seorang Manager Akunting Departemen hotel berbintang lima yang berlokasi di pantai Jimbaran. Tentunya ini berkaitan dengan aktifitas komersial sesuai yang saya cantumkan di Main Profil Facebook Jeffrey Wibisono. Kali ini saya ditawari untuk terlibat dalam program misteri guest untuk restaurant di hotel ini. Dengan senang hati saya langsung meng-iya-kan peran kecil dari keseluruhan pekerjaan profesional saya sebagai seorang Hospitality Service Auditor.

Beberapa hari kemudian, saya menerima detil tugas yang harus saya laksanakan beserta form isian dalam bentuk format excel. Tugas kali ini adalah spesifik untuk meng-audit “Cash Sales Handling” di empat (4) outlets yang terdiri dari tiga (3) restaurant dan bar dan satu (1) akses kolam renang. Jadi saya bertugas di area tepi pantai yang mempunyai pemandangan sunset pada waktunya.

Sesuai komitmen, saya melaksanakan tugas saya tepat pada 31 Oktober 2019 (Halloween Day and Night), untuk memenuhi permintaan target pekerjaan harus sudah selesai di minggu pertama bulan November 2019. Dengan kuota anggaran yang telah ditentukan, saya bebas makan dan minum dan menggunakan waktu untuk mengingat dan mencatat dan merekam semua yang diperlukan untuk dicantumkan di dalam laporan.

Bagi Anda yang belum paham mengenai pekerjaan misteri guest ini, baiklah saya terangkan sedikit. Profesi misteri guest ini adalah pekerjaan seorang profesional yang hanya bisa dilakukan oleh orang yang sudah berpengalaman di bidangnya. Pada saat menjalankan misinya, seorang misteri guest berakting sebagai tamu selayaknya tamu yang lain dan fokus mengecek pada detil sesuai tugas yang diembannya. Tugas utama seorang misteri guest adalah menyajikan laporan untuk bahan analisa membantu manajemen perusahaan yang mempunyai tujuan mengecek konsistensi karyawannya dalam menjalankan SOP (Standard Operating Procedure).

Baik, saya kembali kepada tugas misteri guest ini.Saya sudah menjadwalkan untuk hadir di restauran pertama pada pukul dua (2) siang. Dengan perhitungan bisa menghabiskan waktu untuk tuntas menyelesaikan tugas. Ternyata siang itu gerah sekali. Badan saya meleleh. Dari makan siang selama satu jam, saya melanjutkan ke poin kolam renang dan menyempatkan meluangkan waktu duduk-duduk di tepi pantai. Ternyata saya tidak bisa enjoy, saya tidak betah karena gerah ditambah terterpa angin kencang dan waktu menunjukan pukul empat (4) sore. Daripada masuk angin, saya memutuskan merubah rencana. Saya pulang dulu untuk melakukan aktivitas lain (salah satunya adalah jalan sore), untuk kembali pada saat sunset dan melanjutkan untuk tugas makan malam.

Well… well.. well…. sampai di rumah saya segera mencari kesejukan, berganti baju olahraga dan mendapatkan wajah saya rupanya terbakar matahari. Ini resiko saya memiliki warna kulit yang disebut fair-skin

Pukul 19.00, saya tiba kembali di hotel berbintang 5 tersebut, ternyata saya seperti salah timing. Hari sudah gelap, sunset telah usai. Dengan lancar saya mengorder kopi di restoran tepi pantai. Menghabiskan waktu sekitar 30 menit dan berpindah ke restaurant ke-4 untuk makan malam dimana tugas misteri guest akan berakhir.

Akhirnya, pukul 21.00 saya sudah tiba kembali di rumah dan langsung membuat laporan secara detil sesuai yang ditugaskan. Buat saya ini tidak boleh ditunda, karena berhubungan dengan momentum. Ada experience yang harus segera dituangkan selagi masih fresh. Tidak boleh ada yang lupa, karena akan merugikan client.

Siapa yang tertarik dengan pekerjaan ini? Bagi saya, ini pekerjaan yang sangat menyenangkan setelah saya memutuskan untuk tidak melanjutkan karir profesional di sistem manajemen operasional hotel.

Jeffrey Wibisono V.

Bali, 1 November 2019

Share this: