Makna ganda strategi diskon. Apa saja?

Sama seperti arti sebuah nama, maka diskon pun memiliki sejumlah makna.

Di dalam strategi sales & marketing, praktek obral diskon ini adalah untuk meningkatkan volume penjualan. Targetnya untuk mencapai revenue/omzet yang telah dianggarkan. Kalau obral diskon sudah dilakukan dan didalam proses penjualannya ternyata respon pasar kurang, maka sebaiknya praktek diskon itu dibatalkan di tengah jalan. Karena resiko-nya adalah malah akan mengurangi pendapatan bahkan sampai merugi kalau diteruskan.

Teman-teman pasti sering melihat Obral besar DISKON Sampai 90% di banyak pasar swalayan seperti Metro, Centro dan beberapa lagi. Tujuannya hanya untuk mengosongkan gudang, dan menjual sampai serendah biaya produksi. Disini kita mengabaikan unsur estetika tren mode dan kualitas.

Nah, yang saya tulis di atas lebih kepada teknik perdagangan retail.

Di industri hospitality, kita harus lebih seksama untuk bermain-main dengan kata diskon ini. Karena ada beberapa etika sampai ke tingkatan filosofis. Kita dealing dengan beragam kelas dan komunitas customer.

Jenis customer khusus yang hendak saya angkat adalah customer yang harus kita kategorikan VIP (Very Important Person). Ini ada ke-khusus-an berdasarkan kebiasaan customer sehingga kita harus memasang plat VIP. Jenis customer ini adalah tipe orang yang hendak menunjukkan dirinya istimewa di tempat beliau-beliau mentraktir/ hosting/ entertaint rekan-rekan bisnis dan komunitasnya. Pasti, biasanya bukan anggota keluarga yang besertanya.

Di beberapa hotel dimana saya menjadi General Manager, tipe beliau-beliau adalah kelas pengusaha dan pemilik perusahaan. Dan diskon sangat penting bagi beliau-beliau  ini. Mengapa? Bukan karena duitnya kurang, tetapi untuk menunjukkan bahwa beliau-beliau mempunyai keterdekatan dengan pimpinan dimana mereka men-traktir rekan-rekan bisnis ataupun komunitasnya. Beliau-beliau hanya membawa rekan-rekan bisnis dan komunitasnya dimana dia merasa nyaman dan sudah dikenal sehingga mendapat perlakuan khusus. Pastinya, sebelum itu semua terjadi, beliau-beliau sudah melakukan reservasi langsung kepada saya dan minta diskon. Pada saat pembayaran, beliau-beliau akan dengan lantang memberi komando kepada waiter (kalau beliau-beliau di restoran). Beliau-beliau ini biasanya akan bilang “Mas, minta bill-nya. Jangan lupa diskon-nya ya yang sudah dikasih Pak Jeffrey”.

Setelah selesai close bill, beliau-beliau wajahnya tampak puas dan sumringah bahagia sambil menerima kembali credit card bersama nota konsumsinya. Klasik kalimatnya “tuh kan guwa kalau disini selalu dapet diskon dari Manager-nya. Lain kali kalau kalian kesini bilang guwa ya, biar guwa mintain diskon”

Jadi manajemen di hotel dan outlet semacam ini, kita harus memastikan bahwa tidak ada promosi diskon yang tersebar ke publik. Kalaupun ada, maka yang kita berikan harus di atas rata-rata diskon promo.

Penting kah hal seperti ini?

Di dalam bisnis hospitality, ini PENTING BANGET! Ini adalah teknik customer service juga sales & marketing untuk mendapatkan repeat guest dan mengembangkan pangsa pasar melalui jaringan beliau-beliau yang sudah secara tidak sadar menjadi brand ambassador kita. Istilah kasarnya kita harus ngasih muka ke beliau-beliau yang menjadi loyal customer  dan imbal baliknya mereka, kita kategorikan VIP. Jadi VIP treatment-nya ya jangan tanggung-tanggung. Pokok-nya harus full service dengan dedicated attendants yang siap dan sigap senantiasa. Diskon-diskonnya biasa masuk ke biaya marketing advertising & promotion Kategorinya apa? Mari kita pakai saja istilah radio, yaitu Ads-Lips.

Keren kan teknik diskon customer engagement ala selebriti gini. Tipe tamu seperti ini harus sering-sering hadir karena bisa mendongkrak revenue/omzet. Sebab beliau-beliau itu jarang sekali datang sendirian, selalu membawa massa atau grup kecil. Hubungan baik harus selalu dijaga. Tetapi, kalau hendak foto bareng dan apalagi untuk di-upload di media sosial, please harus minta ijin dulu. Jangan main candid. Ini urusan privasi.

Melanjutkan tentang diskon, salah satu merek ternama dunia Louis Vuitton , perusahaannya mengambil keputusan untuk membakar  Tas dan produk lainnya yang tidak laku. Sebelum masuk proses pembakaran, sebelumnya ada tahapan produk boleh di beli oleh karyawan dengan harga khusus. Tetapi tidak boleh sampai dijual ke publik. Pemegang merek ini menjaga eksklusifitas dan dengan mengremasi tas-tas-nya ini juga cara untuk mengatasi limbah industrinya.

Teman-teman silakan cek sendiri harga produk brand Louis Vuitton tersebut. Yang saya mengerti dalam ilmu hitung dagang, proses penetapan harga sudah melalui proses perhitungan laba rugi dengan latar belakang pemusnahan produk yang tidak laku.

Apakah teman-teman punya pengalaman dan pemikiran lain tentang strategi diskon. Silakan di-sharing-kan di kolom komen yang tersedia.

Bali, 22 February 2020

Jeffrey Wibisono V.

Share this:

Begini cara kerja yang sopan menenangkan customer yang marah

Buat saya, membahas ilmu customer service adalah tiada habisnya. Materinya banyak banget, masih bisa digali terus, dan tidak perlu dihafalkan, karena penggunaannya dinamis dan situasional. Disini kita berbicara tentang sumber segala bisnis yaitu people dengan spesifikasi everyone is unique.

Yang kita perlukan adalah menemui banyak orang supaya mempunyai kesempatan berlatih dengan cara yang faktual, mengasah diplomasi yang mengedepankan simpati dan empati tetapi harus logis.

Sehingga perlu saya sampaikan terlebih dahulu bahwa materi customer service yang saya tulis kali ini, bukanlah kemudian yang mutlak paling benar. Karena masih ada banyak lagi varian teknis taktis yang bisa saling melengkapi pada saat yang tepat.

Sebagai ilustrasi; mengacu pada kasus customer di hadapan kita telah melantunkan nada tinggi dengan syair hafalannya yang indah, maka inilah saatnya kita, praktisi customer service dituntut untuk mampu melakukan harmonisasi, supaya nada tinggi si customer menjadi lebih seimbang dan enak didengar.

Caranya?

Praktisi customer service harus secara cepat menyesuaikan situasi dan mengabaikan segala teori analisa tentang latar belakang terjadinya komplain customer. Tentu kita tadi sudah mendengarkan dengan seksama semua syair indah yang terlontar dari mulut customer sampai mencapai oktaf tertinggi bukan?

Buat saya, sekarang untuk satu kasus ilustrasi ini, langkah recovery yang harus kita lakukan adalah Agree – Apologize  – Act artinya mari kita pergunakan bahasa tutur diplomasi dengan  pemilihan kata yang tepat, sopan dan tegas. Contohnya sebagai berikut:

  • Setuju bahwa customer benar dengan mengatakan “Bapak benar, kami menjanjikan pesanan Bapak siap hari ini”.
  • Minta maaf dengan mengatakan “Sekali lagi mohon maaf, karena terjadi keterlambatan dari pihak kami”
  • Aksi Solusi menginformasikan batas waktu dengan mengatakan “Kami akan membereskan pesanan Bapak dan akan kami antar paling lambat pukul tiga (3) sore sudah sampai di alamat Bapak”.

Apakah kemudian persoalan ini selesai?

Tentu saja kalau aksi solusi yang kita janjikan kita tepati. Mari kita pastikan pesanan telah diterima pihak pemesan dan kita hubungi customer sekali lagi untuk menanyakan kondisi pesanan yang diterima apakah sudah sesuai sekaligus memastikan kepuasan customer..

Panduan teknis selanjutnya.

Kita harus menghadapi customer bernada tinggi tersebut yang omongannya membuat kita gagal paham insight dari komplainnya. Pokoknya si customer nyerocos saja, dan kita tidak mengerti juntrungannya.

Pada kasus yang seperti ini, harus kita perjelas dengan mempertanyakan maksud komplain sebenarnya dari customer untuk kita bisa sampai ke penyebab sebenarnya dari masalah tersebut.

Misalnya, seorang customer yang tidak jelas dengan menyampaikan kalimat “Anda tidak peduli dengan customer!“.

Kalimat seperti ini tentunya sangat sulit kita pahami. Maka kita harus mendapatkan jawaban dari pernyataan customer yang seperti ini supaya dapat mulai menyelesaikan masalah.

Langkah jitu selanjutnya untuk praktisi customer service yang menghendel customer yang sedang melantunkan nada tinggi tersebut adalah jangan coba-coba mengancam/ menakut-nakuti customer tersebut. Sebagai gantinya, beri tanda aba-aba “berhenti” atau “stop” dengan telapak tangan terangkat keluar, atau bahkan paling gampang dan umum dan mestinya sopan kita juga bisa memberikan tanda “time out”. Ketika customer merespon sinyal kita, kemudian kita mengambil kersempatan mengucapkan sesuatu seperti “Mari kita lanjutkan berbicara dengan hal-hal yang fokus pada solusi komplain Bapak”

Yang terakhir dalam ilmu diplomasi menghadapi customer yang sedang melantunkan nada tinggi adalah penggunaan kalimat yag tepat. Hindari frasa yang menyebabkan pelanggan menampilkan tiga R dalam bahasa Inggris, yaitu Resentment – Reluctance – Resistance yang kalau dibahasa Indonesiakan menjadi Antipati, Enggan dan Malawan/Menantang.

Contoh kalimat yang harus kita hindari adalah “Kalau begitu, Bapak harus ……”

Sebagai penggantinya, kita bisa mengatakan kepada customer dengan menggunakan kalimat  untuk  merekomendasikan agar kita melakukan sesuatu. Atau bahkan kita bisa minta customer melakukan sesuatu sebagai solusi.

Inti dari diplomasi dalam ilmu customer service adalah tutur bahasa yang baik dan jelas dan tegas. Ini berlaku di seluruh dunia dengan menggunakan bahasa apapun. Saat kita berkomunikasi dengan customer sangat penting untuk menggunakan istilah yang tepat tanpa multi tafsir. Jadi ya… Bagi kita menjadi sangatlah penting untuk menguasai bahasa nasional dengan tambahan bahasa asing lainnya. Di Indonesia sini misalnya tambahannya adalah menguasai bahasa Inggris verbal demi lancarnya komunikasi dan diplomasi.

Berikut di bawah ini, saya dapat memberikan  beberapa contoh pernyataaan berhubungan dengan pesanan dan pengiriman. Saya sajikan beberapa contoh kalimat yang harus dihindari dan mengganti rangkaian kalimat dengan menggunakan kata-kata penggantinya yang lebih tegas.

“Bapak akan segera menerima pesanan Bapak” atau “Kami akan segera mengabarkan kepada Bapak”.

Kalimat yang lebih baik adalah “Bapak akan menerima pesanan Bapak pada jam 5 sore hari ini”

“Kami akan mempercepat pengiriman pesanan Bapak,”

Kalimat yang lebih baik adalah “Kami akan mengirim pesanan Bapak hari ini dengan menggunakan JNE Express yang YES (Yakin Esok Sampai)

“Kami akan menelepon Bapak kembali,”

Kalimat Lebih baik adalah “Kami akan menelepon Bapak kembali sore ini pukul 5”

“Kami akan melakukan yang terbaik untuk Bapak” atau “Akan kami usahakan”

Kalimat yang lebih baik ” Kami akan melakukan sesuai permintaan Bapak”

“Kami sedang mengerjakannya”

Kalimat yang lebih baik adalah “Kami sudah berkoordinasi dengan tim akunting untuk mempercepat proses pengecekan dan Bapak akan menerima jawabannya pada hari Jumat”

Demikian teman-teman sharing saya mengenai Ilmu Customer Service yang pernah saya praktekkan. Teman-teman pembaca silakan memberikan komen atau bahkan berbagi experience tentang Best Practises Customer Service di tempat kerja masing-masing.

#IndahnyaBerbagi dan semoga tulisan saya memberikan manfaat baik bagi teman-teman.

Bali, 15 February 2020

Jeffrey Wibisono V.

Share this:

Jasa Konsultan Hotel di Indonesia

Anda dan saya pasti sudah tahu bahwa sumber kesuksesan dalam suatu bisnis apapun adalah mempunyai pelanggan, bukan hanya pembeli.  Beda antara pembeli dan pelanggan bisa di logic-kan seperti ini

  • Pembeli adalah orang yang datang berbelanja sekali datang dan tidak pernah datang lagi. Masuk dalam peristilahan beli putus.
  • Pelanggan adalah orang yang datang belanja berulang di tempat yang sama.

Sehingga tugas sukses para pebisnis adalah melayani pembeli  sebaik mungkin, sehingga terjadi pengulangan transaksi berkali-kali untuk menjadi pelanggan tetap.

Lalu apa hubungannya sukses bisnis dengan jasa konsultan dan disini akan kita soroti khusus Jasa Konsultan Hotel?

Baik, marilah kita pahami definisinya terlebih dahulu dari kutipan Wikipedia ini:

Konsultan (istilah alternatif: pakar runding) adalah seorang tenaga profesional yang menyediakan jasa kepenasihatan (consultancy service) dalam bidang keahlian tertentu, misalnya akuntansi, pajak, lingkungan, biologi, hukum, koperasi dan lain-lain. Perbedaan antara seorang konsultan dengan ahli biasa adalah sang konsultan bukan merupakan pegawai perusahaan sang penggunalayan (client), melainkan seseorang yang menjalankan usahanya sendiri atau bekerja di sebuah perusahaan kepenasihatan, serta berurusan dengan berbagai penggunalayan dalam satu waktu.

Maka, dari definisi tersebut, Konsultan adalah pekerja lepas yang dibutuhkan oleh institusi yang memerlukan pengembangan pemikiran untuk bidang tertentu dalam waktu tertentu. Dapat saya perkenalkan beberapa bidang yang termasuk dalam bidang jasa konsultan hotel di Indonesia, antara lain:

  1. Konsultan Teknis Pre dan Post Opening Hotel
  2. Konsultan Arsitektur, Landscape, M.E. dan Interior Hotel
  3. Konsultan Training
  4. Konsultan Sales & Marketing dan Public Relations
  5. Konsultan Food & Beverage
  6. Konsultan Manajemen Operasional

Karena membawa latar belakang keahlian masing-masing, maka tidak semua konsultan akan menguasai enam (6) poin bidang pekerjaan tersebut di atas. Dalam zaman online masa kini dengan alternative Build BIG or Join BIG, sehingga mudah sekali kami para konsultan bersinergi mengerjakan satu proyek hotel bersama-sama. Kami bergabung dan berbagi wilayah sesuai spesialisasi masing-masing sesuai kebutuhan pebisnis yang boleh juga kita sebut investor.

Di Indonesia yang secara natural peoplenya hangat, ramah tamah dengan budi pekerti baik, untuk saya yang spesialisasi di Customer Service dalam masa Transformasi Digital, perbedaan budaya dari satu daerah dan daerah lainnya adalah challenge dalam menyiapkan SOP (Standard Operating Procedure) nya.

Mengapa menjadi challenge, karena untuk saya yang hotelier menjual Jasa Konsultan Hotel di Indonesia , harus mengajarkan Customer Service yang diimplementasi untuk tamu skala internasional. Maka challenge untuk saya adalah saya harus tahu dan mempelajari terlebih dahulu kebiasaan-kebiasaan sehari-hari dari suatu daerah. Hal ini untuk saya menulis dan mengajarkan the Dos and the Don’ts dan memonitor pelajaran prakteknya. Anda dan saya pasti tahu, mengubah kebiasaan adalah hal yang cukup berat.

Saya, mantan hotelier – pekerja hotel dengan standard internasional, saat ini selalu mengajukan materi Customer Service untuk my potential clients. Ini karena saya sangat concern dengan people. SDM – Sumber Daya Manusia adalah aset nomer satu dalam berbisnis. Human Connections yang harus memberikan dan mendapatkan Layanan Prima dalam level apapun.

Nah, apa pula Layanan Prima yang harus Anda dan saya pahami?

  1. Responsif – Menanggapi secepat mungkin: Waktu adalah prioritas.
  2. Acknowledge – Kenali pelanggan:  Pembeli dan Pelanggan perlu personalisasi!
  3. Perbaiki kesalahan: Sediakan waktu untuk mendengarkan pembeli dan pelanggan, kemudian evaluasi dan analisa dan langsung perbaiki hal-hal dimana perlu untuk menghindari reputasi buruk suatu bisnis.
  4. Menyiapkan strategi  beyond expectation: Pembeli dan Pelanggan yang merasa bahagia seperti mempunyai hutang budi,  potensi besar untuk mereka keep coming back.
  5. Membuat strategi  CRM (Customer Relationship Management): strategi bisnis yang memadukan proses, manusia dan teknologi. Pebisnis berkomunikasi secara regular untuk  mengembangkan jaringan memanage Pelanggan Seumur Hidup – Lifetime Membership dengan semua privilege-nya.

Akhir kata, inilah latar belakang mengapa saya masuk ke industri Learning and Consulting dengan nama Telu mengusung branding Real Life Situation Training and Consulting. Semua ini karena saya punya harapan generasi penerus di industri hospitality maupun Jasa Layanan lainnya berkebangsaan Indonesia dengan kebhinekaan-nya mampu berkiprah secara internasional mengungguli bangsa lain.

Pasti bisa!

Jeffrey Wibisono V.

Bali, 7 November 2019

Share this: