"Hospitality isn’t just about service—it’s about soulfulness. When you’re empty, you cannot host the world. Be full again." – Jeffrey Wibisono V.
"Hospitality isn’t just about service—it’s about soulfulness. When you’re empty, you cannot host the world. Be full again." – Jeffrey Wibisono V.

Membangun Makna di Tengah Kekalutan: Thomas Bernhard, Pitutur Jawa, dan Industri Pariwisata yang Bertahan

“Being alone and feeling alone are not the same thing.” – Thomas Bernhard
“Sepi ing pamrih, rame ing gawe.” – Pitutur Jawa

Banyak dari kita berjalan di dunia kerja yang hiruk-pikuk dengan senyum dipoles, padahal jiwa tengah menjerit lirih di kedalaman batin. Dalam industri pariwisata dan perhotelan, yang tampak sering kali berbeda dengan yang dirasa. Di sanalah filsafat Thomas Bernhard menemukan relevansinya: kejujuran brutal dalam menelanjangi absurditas sosial dan tekanan eksistensial. Namun, lewat laku Jawa yang penuh pitutur luhur, kita temukan rem-nya, penawarnya. Artikel ini adalah sulaman dua dunia—yang menyakitkan dan menyembuhkan—dalam satu benang: menjadi manusia utuh di dunia kerja yang menuntut kepalsuan profesional.


I. Bernhard: Sang Perenung Gelap Dunia yang Terang Benderang

Thomas Bernhard (1931–1989), novelis dan dramawan asal Austria, dikenal lewat karya-karya yang mengangkat tema pesimisme eksistensial, kebosanan terhadap sistem, dan keterasingan sosial. Kalimat-kalimatnya panjang, berulang, dan membangun efek hipnotik. Gaya ini secara tak sadar menyentuh teknik yang kini kita kenal sebagai hypnowriting—ia tidak mengajak pembaca berpikir, tapi mengurung mereka dalam pikiran yang dipaksakan: tentang absurditas hidup, tentang palsunya masyarakat, dan tentang sakitnya menjadi waras di tengah kegilaan kolektif.

Bernhard menulis bukan untuk menghibur. Ia menulis untuk menggugah kesadaran yang tertidur dalam kenyamanan semu. Inilah pelajaran pertama bagi profesional hospitality:

“Dalam dunia pelayanan, yang paling butuh dilayani adalah diri kita sendiri—yang sering kita abaikan.”


II. Pitutur Luhur: Rem dan Penawar dari Filsafat yang Mengiris

Pitutur Jawa mengajarkan, “Urip iku mung mampir ngombe”—hidup hanyalah persinggahan. Tapi bukan berarti kita hidup asal-asalan. Kita tetap wajib menanam makna dalam setiap langkah, bukan menenggelamkan diri dalam nihilisme.

Bernhard memandang dunia sebagai panggung absurditas. Jawa mengajarkan: “Rame ing gawe, sepi ing pamrih.” Jadilah seperti sungai yang mengalir tanpa ribut, tetap memberi, tanpa menggugat. Maka, ketika Bernhard bicara tentang betapa menjengkelkannya dunia, kita diajak menyikapinya dengan prinsip Jawa: ngeli nanging ora keli—mengikuti arus, tapi tak hanyut kehilangan jati diri.


III. Paradoks Bernhard dalam Dunia Hospitality

Di industri pariwisata dan perhotelan, tuntutan keramahan kerap berseberangan dengan perasaan personal. Kita diminta tersenyum saat hati tak ingin. Diminta mendengar saat jiwa sendiri ingin didengar. Bernhard memotret paradoks ini secara ekstrem. Ia berkata:

“The art of not being governed by others’ idiocy is the ultimate freedom.”

Tapi dunia hospitality justru menjadikan “others’ idiocy” sebagai klien tetap. Bagaimana kita bisa tetap waras?

Jawabannya bukan melawan dengan amarah, tapi dengan seni menata ulang ruang batin: menerima, menyaring, dan mentransformasi energi negatif menjadi pelayanan bernilai luhur. Seperti filosofi Jawa, “Elmu iku kalakone kanthi laku.” Ilmu hidup harus dijalani, bukan hanya dibaca.


IV. Tips & Trik: Bagaimana Menyikapi “Absurdity” di Dunia Kerja

  1. Sadarilah, kamu bukan robot.
    Bernhard mengajarkan untuk tidak menyangkal perasaan getir. Kalau sedang lelah, akui lelahnya. Kalau kecewa, jangan ditelan. Ekspresikan secara sehat.
  2. Gunakan “senyum sadar” bukan “senyum palsu.”
    Senyum karena kamu memilih untuk memberi makna, bukan karena tuntutan SOP. Smiling with soul is better than smiling with strain.
  3. Latih dialog batin setiap hari.
    Seperti Bernhard yang berdialog dalam pikirannya melalui tulisan panjang, jadikan rutinitas reflektif harian sebagai benteng. Mulailah dengan journaling singkat: “Apa yang aku rasa, kenapa aku rasa, dan apa makna dibaliknya?”
  4. Jangan menjadi karakter sandiwara dalam hidup sendiri.
    Dalam pelayanan, sering kita menjadi “aktor profesional.” Tapi jangan sampai panggung peran membunuh identitas asli. Jadilah otentik meski terbatas.
  5. Kembangkan kebijaksanaan Jawa sebagai kompas moral.
    Pahami bahwa wong sabar rejekine jembar itu bukan mitos. Tapi strategi mental untuk menghadapi realitas yang sulit diubah secara langsung.

V. Remedi Filosofis: Dari Bernhard Menuju Transendensi

Filsafat Bernhard bersifat konfrontatif. Tapi dalam pendekatan hypnobranding, kita perlu mengarahkan konfrontasi itu menjadi kekuatan brand personal. Bernhard adalah lambang raw honesty. Itulah identitas yang bisa dikembangkan dalam dunia kerja yang penuh polesan: menjadi pribadi jujur, konsisten, dan berprinsip.

Tips Remedial untuk Dunia Kerja Hospitality:

  • Bangun citra diri yang berbasis pada purpose, bukan hanya performance.
  • Dekatkan diri dengan alam—karena alam tidak pernah palsu. Aktivitas seperti mindful walking, breath awareness, atau slow tea ritual adalah sarana pemulihan jiwa.
  • Jadikan kritik sebagai cermin, bukan cambuk. Bernhard sangat kritis terhadap Austria, tapi dari sana muncul kesadaran nasional. Kritik Anda terhadap sistem bisa jadi awal kontribusi perubahan.

VI. Solusi Praktis: Menyelamatkan Diri dalam Dunia yang Tidak Mau Diselamatkan

Dalam menghadapi realitas industri yang keras dan klien yang kadang kejam, kita bisa menerapkan prinsip:

“Gusti ora sare.”
Tuhan tidak tidur. Usahamu tidak sia-sia.

Solusi konkret:

  • Bangun support system dalam tim kerja. Ciptakan ruang berbagi yang bebas penghakiman.
  • Terapkan ritual decompression harian: 10 menit sunyi sebelum tidur, atau mandi tanpa distraksi dengan aroma favorit.
  • Gunakan affirmasi aktif dalam briefing pagi. Contoh: “Hari ini saya melayani bukan hanya dengan tangan, tapi dengan jiwa.”

VII. Refleksi Akhir: Filsafat Bernhard Sebagai Cermin, Bukan Takdir

Thomas Bernhard tidak menawarkan harapan kosong. Ia menawarkan kaca pembesar untuk melihat kenyataan dengan lebih jujur. Tapi tugas kita bukan berhenti di kejujuran yang getir, melainkan naik satu tahap: mengolahnya menjadi makna.

“Writing is a form of revenge.” – Bernhard
Tapi kita di hospitality tak menulis. Kita melayani. Maka, pelayanan adalah bentuk tertinggi balas dendam positif. Kita membalas kekasaran dunia dengan kelembutan hati.


Epilog: Ngelmu iku kelakone kanthi laku

Dalam dunia yang terkadang getir, tetaplah menjadi manusia yang menyala bukan karena lampu sorot, tapi karena cahaya dari dalam. Filsafat Bernhard mengingatkan kita untuk tidak pura-pura bahagia, tapi juga tidak larut dalam getir. Sementara pitutur Jawa mengajarkan bagaimana tetap elegan dalam menata rasa.

Jadikan filosofi ini sebagai bagian dari pelatihan kerja, program pengembangan diri, hingga modul hospitality leadership. Karena sesungguhnya, dunia pariwisata dan perhotelan bukan hanya soal menjual kamar dan makanan, tapi menjual harapan dan menyambungkan rasa kemanusiaan yang mulai terputus.

“Hospitality isn’t just about service—it’s about soulfulness. When you’re empty, you cannot host the world. Be full again.” – Jeffrey Wibisono V.

Jember, 18 May 2025

Jeffrey Wibisono V.

Praktisi Industri Hospitality dan Konsultan

Share this:

Leave a Reply

WhatsApp chat