“Monkey See, Monkey Do”: Cermin Pembelajaran dan Tantangan Industri Pariwisata & Perhotelan di Daerah

“Imitation is not just the sincerest form of flattery – it’s also the most primitive form of learning.”
Unknown

Ketika Tiruan Menjadi Guru

Dalam dunia pariwisata dan perhotelan, terutama di wilayah-wilayah Indonesia yang sedang berkembang, ada satu fenomena yang diam-diam namun terus berlangsung: Monkey See, Monkey Do. Istilah ini, yang secara harfiah berarti “monyet melihat, monyet meniru”, bukan sekadar guyonan atau metafora semata. Dalam konteks yang lebih mendalam, ia adalah cara dasar manusia—dan organisasi—belajar melalui peniruan, pengamatan, lalu tindakan.

Dalam filsafat Jawa, kita mengenal pepatah:
“Guru sejatine yaiku pengalaman.”
Artinya, guru sejati adalah pengalaman itu sendiri. Maka, proses meniru, jika disadari secara sadar, bisa menjadi bagian dari pembelajaran yang bermakna, bukan sekadar replika tanpa jiwa.

Namun, bagaimana agar peniruan ini tidak menjadikan kita sekadar bayangan dari pihak lain? Bagaimana agar proses ini mengandung keilmuan, strategi, bahkan nilai-nilai luhur yang bisa membawa daerah dan SDM-nya menuju lompatan peradaban di bidang hospitality?

Mari kita bahas satu per satu, secara naratif dan reflektif.

Dalam perjalanan kita membangun industri pariwisata dan perhotelan di daerah, Monkey See Monkey Do tidak selalu buruk. Ia bisa menjadi awal dari kebangkitan. Tapi jangan berhenti di meniru.

Bab 1: Dari Imitasi Menuju Inovasi

Ketika satu destinasi wisata sukses—entah karena viral di media sosial, atau karena kebijakan pemerintah daerah—maka tempat-tempat lain pun akan berlomba-lomba membuat copycat.

Misalnya, muncul satu glamping site yang viral di pegunungan, dalam waktu dekat pasti muncul lima hingga sepuluh “kloning”-nya. Di sinilah kita harus hati-hati. Imitasi boleh, tapi blind replication adalah jebakan.

Tips #1: Amati, Tiru, Modifikasi, Tambahkan Jiwa

Dalam hospitality, meniru desain, sistem, atau program itu sah-sah saja. Tapi, berilah sentuhan lokal, personalisasi budaya, dan pemaknaan filosofis. Inilah yang akan membedakan antara “sekadar mirip” dan “memiliki karakter”.

“Don’t copy the style, capture the spirit.”
Jeffrey Wibisono V.


Bab 2: Apa yang Harus Kita Siapkan?

Jika ingin bertransformasi dari monkey see monkey do menjadi wise see wise do, maka ada beberapa hal yang perlu disiapkan oleh pelaku industri pariwisata dan perhotelan di daerah:

1. SDM yang Mau Belajar dan Diajar

Pelatihan bukan hanya tentang skill, tetapi juga mindset. Kita harus mencetak insan pariwisata yang:

  • Punya open mind, bukan hanya open house.
  • Siap menjadi lifetime learner, bukan sekadar pemungut sertifikat.

2. Infrastruktur Berbasis Identitas

Tempat kerja kita bukan hanya bangunan, tapi wajah peradaban. Jangan asal bangun, tapi bangunlah berdasarkan akar budaya dan potensi unik daerah.

3. Kurikulum Pelatihan yang Holistik

Gabungkan:

  • Hard skill (operasional, teknologi, bahasa)
  • Soft skill (etika, keramahan, empati)
  • Deep skill (filsafat kerja, kesadaran nilai, integritas)

Bab 3: Apa Pengajaran dari Proses Ini?

“Learn from others. But walk your own path.”
Zen Proverb

Fenomena monkey see monkey do menjadi pengingat bahwa:

  • Banyak daerah masih lapar akan validasi eksternal.
  • Banyak pelaku industri masih mengukur sukses dengan jumlah likes dan followers, bukan sustainability dan legacy.
  • Banyak tempat kerja terjebak dalam ego membandingkan, bukan berfokus pada peningkatan diri.

Pitutur Jawa: “Ajining dhiri ana ing lathi, ajining raga saka busana.”

Harga diri ada pada tutur kata, harga ragamu dari cara engkau membungkusnya. Dalam konteks hospitality, tutur kata adalah pelayanan, dan “bungkus” adalah desain tempat kerja.


Bab 4: Menentukan Posisi Terhadap Kompetitor

Salah satu pelajaran utama dari Monkey See, Monkey Do adalah bagaimana kita belajar memposisikan diri. Tidak perlu menjadi “yang paling” dalam segala hal, tetapi jadilah “yang paling punya nilai”.

Tips #2: Kenali Diri Sendiri (dan Jangan Terobsesi Kompetitor)

  • Apa DNA tempat kerjamu?
  • Apa yang membuat pengalaman pelangganmu tak terlupakan?
  • Apa filosofi pelayananmu?

Terkadang, terlalu banyak mengintip kompetitor membuat kita lupa pada misi kita sendiri.

“Comparison is the thief of joy.”
Theodore Roosevelt


Bab 5: Manfaat dan Tujuan Besar untuk Industri

Proses peniruan, jika disadari dan disempurnakan, bisa menjadi blessing. Sebab:

  • Meniru membuka akses pembelajaran cepat.
  • Meniru memicu kompetisi sehat.
  • Meniru menguji orisinalitas.

Namun, tujuan akhirnya bukanlah saling meniru, melainkan saling menginspirasi dan bersama-sama naik kelas.

Tips #3: Jadikan Tempat Kerjamu ‘Center of Excellence’

Jika satu tempat kerja di daerah bisa menjadi “contoh baik”, maka efek tiruannya justru akan memperluas kualitas industri.


Bab 6: Peran Pemerintah NKRI: Pembibitan, Pendampingan, dan Perlindungan

Pemerintah adalah pengatur nada. Bukan hanya regulator, tapi juga fasilitator dan akselerator.

Apa yang Bisa Dilakukan Pemerintah?

  • Membuat Inkubator SDM Lokal: Pelatihan yang berjenjang dan berkelanjutan.
  • Menghargai Kearifan Lokal: Memberi insentif pada inisiatif berbasis budaya.
  • Melindungi Originalitas: Mendaftarkan hak cipta desain, produk wisata, dan praktik layanan.
  • Memberi Ruang Eksperimen: Mendukung destinasi untuk jadi laboratorium hidup.

“The future of tourism is not in replication, but in distinction.”


Bab 7: Solusi Praktis & Remedi untuk Kemajuan Industri

1. Benchmark ke Luar, Tapi Adaptasi ke Dalam

Jangan hanya study tour, tapi lakukan studi adaptasi.
Kembangkan apa yang cocok dengan iklim, budaya, dan karakter lokal.

2. Latihan Kecil, Dampak Besar

Buat simulasi layanan sederhana yang menyentuh hati.
Contoh: sapaan khas daerah, minuman sambutan tradisional, cara berpakaian yang sopan tapi identik.

3. Kolaborasi Lintas Tempat

Jangan saling sikut. Buat jaringan antar destinasi di satu kabupaten.
Bersama-sama membuat paket wisata lintas desa, lintas hotel, lintas generasi.

4. Kampanye Kesadaran Diri

Buat gerakan kecil di tempat kerja:

  • “Berani Asli”
  • “Berani Menjadi Teladan”
  • “Berani Belajar dari Gagal”

Penutup: Dari Bayangan Menjadi Sumber Cahaya

“We first imitate, then we evolve. We must honor the source, but we must also become the source.”
Jeffrey Wibisono V.

Dalam perjalanan kita membangun industri pariwisata dan perhotelan di daerah, Monkey See Monkey Do tidak selalu buruk. Ia bisa menjadi awal dari kebangkitan. Tapi jangan berhenti di meniru.

Beranilah menjadi:

  • Tempat kerja yang menginspirasi, bukan hanya mengikuti.
  • Destinasi yang menjadi panutan, bukan sekadar bayangan.
  • Tim hospitality yang tidak hanya see and do, tapi juga feel and transform.

Sebagai penutup, mari renungkan pitutur luhur Jawa ini:

“Sura dira jayaningrat lebur dening pangastuti.”
Segala kekuatan dunia akan luluh oleh kelembutan dan kasih sayang.

Begitu pula dalam pelayanan: bukan kekuatan, tapi welas asih, yang akan membawa kita pada keunggulan sejati.

Jember, 4 April 2025

Jeffrey Wibisono V.

Praktisi Hospitality Industry dan Konsultan

Share this:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *