Rekrutmen SDM Berkualitas yang Paling Mudah

UMUMNYA, para pebisnis di bidang pariwisata seperti perhotelan dan sarana pendukung pariwisata lainnya, merekrut tenaga kerja yang “siap pakai” dengan minimum tambahan pelatihan —sesuai keperluan perusahaan—. Rekrutmen SDM (Sumber Daya Manusia) berkualitas merupakan percepatan mengakomodasi kebutuhan para wisatawan baik domestik mau pun mancanegara. Mulai dari karyawan operasional seperti security, housekeeping, driver, pool attendant, front office, waiter sampai ke tour guide yang bekerja di travel agent. Pekerjaan multi dimensi dalam ekosistem pariwisata, tidak hanya memerlukan tenaga kerja terampil secara  fisik, juga memiliki kemampuan mengelola mood dan emosi kastemer.

Tahun ini dan 2023 nanti, berapa besar target  kunjungan wisatawan mancanegara yang ditetapkan pemerintah?

Berapa pun target optimis yang hendak dicanangkan pemerintah, tetap menjadi stimulan menggembirakan dan harus didukung semua pihak, terutama para pekerja pariwisata —Sumber Daya Manusia (SDM) pariwisata itu sendiri—.

Lalu, bagaimana ketersediaan SDM dengan kualitas dan kuantitas untuk mencapai keberhasilan pariwisatanya? Dan bagaimana minat SDM untuk bekerja di kepariwisataan?

Secara random, saya perkecil area misalnya khusus untuk wilayah Jawa Timur dan Jember. Berapa serapan tenaga kerja untuk sektor perhotelan, jika “endemi” COVID-19 diberlakukan? Dengan perhitungan rekrutmen konservatif 1: 1—artinya per kamar satu orang tenaga kerja yang ditempatkan sesuai bidangnya—, ini baru untuk hotel saja.

Bagaimana dengan  bisnis sektor pendukung pariwisata seperti kuliner dan rekreasinya? Masih diperlukan ribuan untuk bekerja di restoran independen, lapangan golf, taman rekreasi, transportasi dan seterusnya.

Tetapi,  apakah mereka — SDM pariwisata—sudah siap kerja dengan performa maksimal untuk melayani wisatawan?

Multi dimensi dalam melayani di industri pariwisata adalah kecukupan  pembekalan pengetahuan seperti:

  • Statistik pariwisata: Kita belajar menghitung jumlah kunjungan wisatawan yang masuk melalui jalur darat, laut dan udara. Kemudian demografi dan geografinya. Lalu objek wisata sampai ke psikografi. Semua adalah acuan akurasi  menggunakan analisa data untuk  melengkapi salah satu strategi sales & marketing.
  • Tourism behaviour: Kita belajar kultur dan kebiasaan bangsa-bangsa lain. Tahap awal, fokus pada kebangsaan mayoritas yang sudah siap masuk ke destinasi kita. Misal, saat ini pemerintah sedang menggalakkan kerjasama dengan Timur Tengah, Eropa dan ASEAN.
  • Ekonomi pariwisata: Kita belajar ilmu ekonomi. Seberapa besar dampak pariwisata di suatu destinasi atau objek wisata, secara makro dan mikro.?
  • Tourism law: Kita belajar tentang aturan-aturan dasar saat memulai membangun objek wisata, hotel, restoran, dan usaha pariwisata lain. Mata pelajaran ini wajib, agar pelaku industri tidak buta hukum yang digunakan untuk menjalankan dasar-dasar normatif pelaksanaan peraturan pemerintah dan kebijakan perusahaan tempat bekerja.
  • Studi Wilayah atau perencanaan destinasi: Kita perlu memahami roadmap pembangunan wilayah sehingga usaha yang hendak dikembangkankan sesuai “kelayakan” peruntukan wilayahnya.
  • Manajemen perhotelan dan objek wisata: Kita belajar mengelola bisnis sesuai konsep produk dan mengoperasikan berdasarkan panduan Policy & Procedure yang didetilkan ke Standard Operation Procedure.
  • Ekowisata: Kita belajar tentang mengembangkan pariwisata berbasis alam. Belajar ilmu kehutanan atau lingkungan!
  • Tourism philosophy: Pengetahuan ekstra yang selayaknya kita miliki adalah mempelajari perihal filosofi dan motivasi manusia melakukan perjalanan wisata.
  • Bahasa asing: Wajib bagi SDM kepariwisataan, minimum menguasai bahasa Inggris. Tambahannya seperti bahasa Arab, Perancis, Jepang, Mandarin, Belanda, Rusia, dan ada beberapa lagi lainnya. Menguasai bahasa asing, menaikkan harga jual profesi secara proporsional—profesionalisme—.
  • Geografi pariwisata: Kitabelajar  memahami peta potensi potensi wisata di daerah, provinsi, sampai nasional.
  • Pariwisata budaya: Indonesia “masih” menetapkan pembangunan kepariwisataan berdasarkan pariwisata budaya Nusantara didasarkan pada kearifan budaya lokal.

Pengetahuan tambahan tersebut memperkaya kompetensi utama SDM di front office, food & beverage dan house keeping. Tidak kalah penting adalah penguasaan code of conduct untuk  diimplementasikan disetiap dimensi fungsi tugas SDM pariwisata —integritas profesi—.

Pekerja pariwisata diajarkan dan dituntut untuk disiplin, menghargai orang lain, mandiri, kerja keras dan tahan banting; agar siap, sigap memberikan layanan sesuai ekspektasi wisatawan. Salah satu critical point misalnya kesopanan,  penampilan, kebiasaan greeting —memberi salam, sapa dan senyum – kepada siapapun. Kerapian penampilan cara berpakaian, penataan rambut dan pemilihan sepatu.

Belum Layak Rekrut 

Lalu siapa pekerja yang siap pakai, mudah direkrut dan berkualitas untuk mendukung program pemerintah yang sudah membuka “gerbang masuk”, memberikan kemudahan aturan warga negara asing berlibur ke Indonesia, sekaligus sebagai upaya mencapai target kunjungan tahun 2022 dan 2023 — meski angka belum terpublikasi–?

Jawaban saya adalah bermula dari SMK Pariwisata.  SMK adalah salah satu jalur praktis  menuju dunia kerja,  diajarkan untuk jadi pribadi yang mandiri, siap kerja. SMK pariwisata umumnya memiliki dua jurusan keilmuan yaitu iIlmu perhotelan dan usaha perjalanan wisata. Dengan kurikulum mata pelajaran dari Departemen Pendidikan, mendapat tambahan tentang perhotelan umum dari front office, house keeping dan food & beverage product dan service.

Jurusan usaha Perjalanan Wisata, mata pelajarannya antara lain tour planning, ticketing, guiding, MICE (Meeting Incentive Convention Exhibition), etika komunikasi dan pengantar ilmu pariwisata.

Apakah lulusan SMK sudah memenuhi kualifikasi ketersediaan tenaga kerja?

Saya yang berada di dalam lingkup praktisi industri perhotelan bisa menyatakan bahwa, lulusan SMK “belum” mencapai poin layak rekrut. Terutama untuk kebutuhan SDM di hotel-hotel bintang 4 dan 5 dengan tamu internasional. Penguasaan bahasa Inggris verbal dan tulisan masih di bawah angka rata-rata, demikian juga ketrampilan khusus seperti  food & beverage dan house keeping.

Nilai Suksesi

Belum layak direkrut sebagai SDM pariwisata, tidak berarti salah langkah. Upaya yang dapat dilakukan stake holder kepariwisataan antara lain:

– Memberi kesempatan guru dan murid mendapatkan pengalaman lapangan melalui pelatihan dan magang di industri perhotelan dan biro perjalanan wisata.

Khusus untuk perhotelan, hal ini sangat penting karena harus menjalankan standar internasional. Menjadi sangat “tidak kompetitif”, bila guru, tenaga pendidik tidak berpengalaman hal tata cara pergaulan internasional. Baik dari urusan hunian, layanan perjalanan sampai di meja makan.

– Departemen, Dinas Ketenaga Kerjaan selayaknya  membuka kursus-kursus bahasa asing, menyediakan laboratorium aplikasi bisnis dan pariwisata di setiap Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) kepariwisataan di masing-masing kabupaten dan kota di Jawa Timur. Peran sistem triple helix —industri, kebijakan pemerintah, dan institusi Pendidikan– salah satu solusi untuk memaksimalkan SDM.

– Alternatif lain, pihak industri melakukan fostering/adopsi salah satu SMK untuk memberikan training, praktek sesuai kualifikasi perekrutan di hotel dan biro perjalanan wisata. Sehingga magang di hotel tak sekadar mengisi nilai kurikulum, tetapi praktik dengan “benar, bertanggungjawab” dan menjadikan peserta training/magang tenaga terampil siap pakai sesuai kualifikasi wadah penempatan pekerja.

Afdal?

Jember, 1 Mei 2022

Jeffrey Wibisono V.

Praktisi Perhotelan dan Konsultan

Naskah juga tayang di

https://www.timesindonesia.co.id/read/news/408281/rekrutmen-sdm-berkualitas-yang-paling-mudah

https://www.opini.beritabali.com/read/2022/05/09/202205090056/rekrutmen-sdm-berkualitas-yang-paling-mudah?page=all#

Share this:

Wajah SDM Industri Hospitality Indonesia 2022

SDM seperti  apa yang diperlukan bisnis pariwisata jika Pandemi COVID-19 berakhir?

Pada tahun 2022 dan 2023 apakah pemerintah Indonesia hendak mentargetkan kunjungan wisatawan mancanegara sebanyak 20 juta orang untuk me-refresh target tahun 2019? Tentunya menurut opini saya angka tersebut adalah target yang over-optimist dengan menganalisa kondisi dunia. Apakah juga akan didukung sepenuhnya oleh terutama para pekerja pariwisata atau Sumber Daya Manusia (SDM) pariwisata itu sendiri?

Sektor pariwisata akan berkembang seiring dengan kemajuan industri perhotelan, restoran ditambah sarana rekreasi pendukung lainnya. Menciptakan suatu destinasi yang terintegrasi dengan fasilitas umum di suatu area. Akan tetapi kendala praktisi profesional sampai saat ini di beberapa daerah terkait dengan SDM adalah rendahnya tingkat penyerapan tenaga kerja. Dapat menjadi demikian  karena ketidak-sesuaian kompetensi yang dimiliki pencari kerja dengan kebutuhan industri. Saya merasakan proses rekrutmen menjadi sangat lambat di wilayah tempat kerja saya saat ini; di Kabupaten Jember, Jawa Timur. Kira-kira peran sistem triple helix yaitu gabungan industri, pemerintah dan akademisi dalam menyusun model peningkatan kompetensi SDM dapat terjadi dalam jangka waktu satu semester ke depan?

Wajah SDM Industri Hospitality Indonesia 2022 SDM seperti apa yang diperlukan bisnis pariwisata Pasca Pandemi COVID-19?
Career Compass from pixabay

Seperti kita ketahui pada tahun 2018 Kementrian Pariwisata telah menyusun cetak biru sektor pariwisata yang di dalamnya ada 88 kawasan strategis pariwisata nasional yang tersebar di seluruh provinsi di Indonesia. Fokusnya secara tradisional masih di Bali, Yogyakarta dan Batam Kepulauan Riau, karena tiga daerah itu menyumbang 90 persen devisa dari sektor pariwisata sampai dengan akhir tahun 2019, sebelum pandemi COVID-19 menghantam dunia dan meruntuhkan hampir semua lini bisnis dengan yang terparah adalah industry pariwisata. Apakah masih berlaku di 2022 pernyataan “Untuk pariwisata Indonesia adalah lapangan kerja yang paling mudah dan murah”

Yang menarik dan sedikit membingungkan adalah data pada tahun 2019 dari berbagai sumber mengungkapkan 58 persen dari 133 juta jumlah angkatan kerja Indonesia berasal dari lulusan SMP. Sedangkan pariwisata dalam hal ini bisnis perhotelan hanya akan menerima staff minimal lulusan SMK khususnya pariwisata.  Jadi akan dibawa kemanakah para lulusan SMP itu? Jika dipaksakan, bagaimanakah cara men-training mereka? Seperti kita ketahui SMK adalah pendidikan jalur cepat kejuruan siap pakai. Mata pelajarannya fokus pada keterampilan dan praktek kerja magang sebagai trainee. Mereka mendapat teori yang sedikit. Jadi biasanya hotel yang menerima trainee SMK harus ekstra keras dalam memberikan supervisi supaya mereka bisa menyetarakan diri dengan standar operasional hotel berbintang 4 ke atas.

Sebagai praktisi hotel yang sudah malang melintang selama lebih dari 20 tahun, sempat bekerja dibagian sales marketing hotel-hotel bintang 5  hingga General Manager hotel bintang 4,  pengalaman saya selama sekitar 3 dekade itu saya tulis dalam sebuah   buku berjudul Hotelier Stories Catatan Edan Penuh Teladan. Kekinian jika pandemik COVID-19 berakhir menggelitik hati saya dan membuat saya bertanya pada diri saya bagaimana sesungguhnya wajah SDM pariwisata kita terutama perhotelan masuk ke triwulan ke-2 tahun 2022. Apakah mereka dapat kembali dirasuki roh hospitality yang multi dimensi? Apakah gaji semampunya perusahaan dan senerimonya karyawan akan mampu menghasilkan SDM unggul? Tentunya mengingat hotel adalah sebuah  bisnis yang menuntut sebuah performa yang tinggi untuk menjaga mood tamu yang masuk happy dan keluar juga harus tetap happy. Standar remunerisasi pekerja hotel adalah UMK/UMP atay yang disetarakan. Memang ada sedikit pendapatan tambahan bagi staff hotel melalui  persentase service charge;  walaupun tidak banyak mengingat staff rank & file adalah pekerja dengan sistem Kesepakatan Kerja dengan Waktu Tertentu-nya masa berlaku minimum 1 tahun. Dibisnis perhotelan, staff   rank & file seperti waitress dan housekeeping attendant  saja sudah dituntut untuk bisa berbahasa inggris yang baik dan benar dan mengerti grooming

Lalu bisakah kita mencapai efisiensi dan hasil seperti yang diharapkan wisatawan dengan standar internasional luxury dengan memperkerjakan SDM yang mudah dan murah?  Seperti kita ketahui bahwa bila dikatakan pekerja yang murah dan meriah maka harapan kita tentunya bertumpu pada para lulusan SMK Pariwisata yang sudah tersebar di beberapa provinsi.

Lalu akan muncul pertanyaan seberapa unggulkah sudah lulusan SMK Pariwisata kita? Bisakah mereka menjadi SDM yang handal yang menjadi duta pariwisata Indonesia?

Berdasarkan pengalaman penulis yang lebih dari 20 tahun bekerja dan berkarya di Bali bisa berpendapat “Bali yang menjadi tolak ukur SDM tingkat internasional – disini kita bicara perihal wisatawan mancanegara – punya permasalahan beberapa hal yang masih kedodoran dan menjadi pekerjaan rumah yang besar”. Kesenjangan itu nyata terlihat jika kita membandingkan skill dan attitude para pekerja hotel bintang 4 dan 5 dibandingkan dengan hotel bintang tiga ke bawah. Hotel-hotel chain internasional berbintang 5 biasanya tidak memiliki masalah, tetapi ada juga hotel bintang 5 non-chain internasional yang bahasa Inggris staffnya masih pas-pas-an dan belum mempunyai kemampuan diplomasi.

Hal yang paling utama adalah masalah berbahasa Inggris dengan baik dan benar. Kebanyakan  lulusan SMK Pariwisata belum bisa berbahasa Inggris dengan baik dan benar sesuai dengan ekspektasi hotel berbintang. Nah kalau di Bali saja yang merupakan tolok ukur SDM pariwisata masih bermasalah, lalu bagaimana dengan di pulau-pulau sana yang sedang dikembangkan menjadi destinasi pariwisata skala prioritas?

Pihak hotel di Bali biasanya tidak ingin mengeluarkan uang ekstra untuk memberi kursus bahasa Inggris kepada karyawannya yang notabene bekerja dengan ikatan KKWT (Kesepakatan Kerja Waktu Tertentu). Karena banyak kejadian setelah pintar berbahasa Inggris mereka akan pindah ke hotel yang lain. Lalu bagaimana jalan keluarnya? Ini menjadi pekerjaan rumah Kementrian Pariwisata dan Kementrian Tenaga Kerja tentunya dalam menghasilkan SDM pariwisata yang unggul. Terutama penguasaan bahasa Inggris verbal untuk front liner staff. Lebih baik lagi jika para staff back office seperti reservation dan ecommerce dan digital marketing juga bisa menguasai grammar bahasa Inggris yang baik

Hal yang lain yang penulis harapkan  adalah alangkah bijak jika Kementrian Pariwisata dan Kementrian Tenaga Kerja membuka pelatihan grooming untuk para pekerja hotel demi memperkuat SDM. Termasuk di dalam modul pelajaran sertifikasi kompetensi tenaga kerja? Kebiasaan yang terjadi adalah banyak pihak hotel tidak ingin mengeluarkan uang ekstra untuk pelatihan. Bisa dimengerti karena biasanya para pekerja akan pindah ke lain hotel ketika merasa mereka sudah semakin pintar dan mempunyai nilai jual lebih.

Hal-hal yang paling gampang dilihat dalam kehidupan hotel sehari-hari adalah masalah grooming, tata cara membawa diri. Hal yang sederhana saja seperti – Sudahkah memberi salam kepada tamu ketika berpapasan?

Kenapa para waiter dan waitress mengobrol di restoran dan tidak memperhatikan kebutuhan tamu yang sedang duduk di restoran dan memerlukan perhatian?

Kenapa staff hotel memaksakan diri masuk lift bersama para tamu hotel – padahal sudah jelas peraturannya, bahwa mereka tidak boleh menggunakan fasilitas untuk tamu dengan fleksibilitas sesuai peraturan perusahaan. Apabila ada tamu di dalam lift yang terbuka, staff tidak boleh ikut masuk ke dalamnya.

Jika Bali saja yang menjadi tolak ukur pariwisata Indonesia masih kedodoran dalam hal rekrutmen SDM yang skillfull  dan wellgroomed sesuai jenjang karir dan kualifikasi jabatan yang disandang, yaitu dari Rank & File, Supervisor sampai Manager, bagaimana dengan destinasi lainnya yang sedang dikembangkan termasuk daerah-daerah di luar Bali?

Seperti kita ketahui di  industri hospitality paket kompeten dan kompetensi pekerjanya sangat kompleks, sebab berhubungan dengan bisnis emosi manusia lainnya sebagai sumber interaksi; terutama tamu-tamu hotel, dan solusi yang dibuat harus selalu tepat waktu.

SDM hotel harus mengerti psikologi pelayanan, latar belakang kultur kastemer,  komunikasi sampai bahasa untuk bisa memberikan pelayanan yang terbaik.

Secara psikologis pemetaan parameter kepuasan tamu adalah abstrak bisa jadi menyesuaikan personal demand. Sebagai contoh untuk wisatawan backpacker mungkin hanya perlu standar akomodasi yang aman dan bersih. Tetapi untuk kelas wisatawan luxury memerlukan banyak hal detil yang  harus disediakan untuk mendapat nilai excellent.

Tentu pertanyaannya adalah, SDM sekelas apa yang ingin kita miliki untuk mencapai target kunjungan wisman yang tiap tahun targetnya dibuat selalu meningkat?

Apakah pemerintah bersedia memfasilitasi pelatihan bahasa dan membuka grooming school untuk SDM pariwisata terutama untuk para pekerja hotel bintang 4 ke bawah?

Strategi Peningkatan Kompetensi SDM apabila di suatu daerah tidak terdapat sekolah tingkat menengah maupun perguruan tinggi, maka perlu dibuka beberapa Lembaga Pendidikan dan Pelatihan untuk meningkatkan kompetensi pencari kerja melalui program sertifikasi. Peran sistem triple helix yaitu industri, kebijakan pemerintah, dan institusi pendidikan. sangat direkomendasikan dengan tujuan menghasilkan Model Peningkatan Kompetensi SDM yang sinkron pada Sektor Pariwisata, Perhotelan dan Restoran.

Jember, 2 April 2022

Jeffrey Wibisono V.

Praktisi Perhotelan dan Konsultan

Juga tayang di

Share this:

Nyolong Pêthèk

Surprisingly Capable

Sering saya menerima pertanyaan dari beberapa teman pekerja perhotelan yang mengecek kepribadian dan kapabilitas incoming pimpinannya.  Seorang Director of Sales yang mempertanyakan seorang General Manager, ataupun Sales Manager yang mempertanyakan Director of Sales and Marketing.

Repetitif pertanyaannya “Jeff, lu kenal Weice-kah. Gimana sih orangnya?” – demikian salah satu contoh kalimatnya.

Buat saya ini menunjukkan insecurity dari teman-teman saya yang belum apa-apa bersiap melakukan tindakan antisipasi yang menjurus antipati.  Salah satu dari kitakah yang lebih menyukai menerima berita buruk?

Di zaman revolusi industri gen 4.0, piranti digital memfasilitasi hampir semua orang untuk dapat me-marketing-kan setiap individu dalam hitungan detik. Viralogi?!

Apakah eksposur personal branding dengan tujuan khusus menjual suatu skill tertentu termasuk dalam tindakan menyombongkan diri?

Tunggu dulu, mari kita lihat dari sudut pandang konvensional yang berbeda. Saya mengambil dari ungkapan peribahasa bahasa Jawa Nyolong Pethek yang saya pelajari. Pitutur ini seperti merujuk kalimat “tak kenal maka tak sayang”. Nyolong pethek artinya tidak mengira/menyangka. Nyolong pethek artinya; meleset dari perkiraan. Arti “pethek” (dibaca pêthèk) adalah “terka”. Kata majemuk nyolong pethek berarti sesuatu yang tidak cocok dengan terkaan kita; sesuatu yang lain sama-sekali dari apa yang kita duga, sehingga kita salah memberi penilaian di awal, salah menduga. Contoh faktanya adalah sering kita tonton di acara televisi “Got Talent” yang disiarkan di banyak negara; mulai dari Amerika, Inggris dan banyak lagi. Seorang sosok yang sebelumnya tidak kita kenal ternyata surprisingly very capable. Kapabilitas individu yang rendah hati dengan keahlian khusus yang mempesona semua orang.

Selanjutnya, disini saya mempergunakan humility – kerendahan-hati dari filosofi nyolong pethek dalam keilmuan leadership-kepemimpinan. Ada ekspresi dalam bahasa Jawa yang sering terucap yaitu “Gak ndayani!”, ini kesamaaan makna dari nyolong pethek.

Apakah sebenarnya harapan kita untuk dapat mengakui seseorang itu adalah pemimpin yang hebat?

Ketika kita memikirkan kualitas pemimpin yang hebat, hal pertama yang muncul di benak saya adalah sifat-sifat seperti karisma, keberanian, dan visi. Sebagian besar dari kita, tidak berharap untuk melihat kerendahan hati dalam daftar itu.  Akan tetapi seorang born-leader pasti memiliki humility tersebut sebagai partikel di dalam karisma individunya.

Buat saya, dasar dari kepemimpinan yang hebat adalah seseorang yang rendah hati. Leader  tahu bahwa tugasnya adalah membangun kepercayaan yang diperolehnya. Kita kemudian  memberikan kepercayaan yang setara kepada publik, dan membangun kepercayaan tersebut berkesinambungan, terus menerus dan selalu meningkat setiap saat. Namanya juga membangun kan?!

Leader yang rendah hati akan konsisten dan disiplin dalam memperlakukan orang lain dengan hormat penuh respek terlepas dari posisi, peran, atau jabatan kita baik itu dalam organisai informal kemasyarakatan maupun formal lingkungan kerja.

Dalam pekerjaan saya sebagai pekerja di dalam industri hospitality pariwisata dan perhotelan, saya menekankan pentingnya skill dan ketrampilan tetapi juga fakta bahwa know our worth adalah kerendahan hati, semangat melayani.

Saya memperhatikan banyak humble leaders menjadi lebih berpengaruh menunjukkan keefektifan. Mereka memiliki energi positif dan menarik orang yang memiliki energi baik yang sama. Tentunya dari tatacara dan etika tersebut, kepercayaan diri mereka meningkat.  Apakah kita mau dan mampu menjadi figur panutan seperti mereka?

Berikut adalah beberapa keterampilan kunci – soft skills yang dapat kita pelajari untuk menjadi pemimpin yang rendah hati. Pastinya, ada sebagian dari kita yang sudah memiliki beberapa kemampuan yang diperlukan yang akan saya angkat dan tinggal dengan a little twist untuk mengembangkannya supaya lebih mantap. Semuanya perlu konsistensi dan relevansi pelatihan.

  1. Memimpin dari dalam: Kita sadar bahwa kita selalu memiliki ruang untuk menjadi lebih baik setiap saat sebagai seorang pemimpin yang unggul maupun jati diri pribadi. Apabila kita mau memupuk kerendahan hati sebagai salah satu keterampilan, maka kita bisa menjadi kuat disaat lemah dan menjadi berani saat diliputi rasa takut.
  2. Menjadi teladan/contoh/panutan:  Humble leader pasti mampu menjadi teladan. Kita dituntut untuk mau dan mampu memberi contoh perilaku yang baik dan benar. Kepemimpinan kita bukan berdasarkan ekspresi otoritas yang mengatakan “karena saya adalah bos”.  Tetapi keteladanan kita ada dalam setiap tindakan nyata.
  3. Pemimpin yang melayani: Humble leader mengarahkan perhatian dan fokus pada berkontribusi terhadap kebutuhan orang-orang di sekitarnya.
  4. Bisa dipercaya: Kita sebagai pemimpin yang rendah hati harus tahu dan sadar cara memperoleh, memberikan, dan membangunnya  kepercayaan sebagai dasar dari kepemimpinan yang hebat.
  5. Memiliki kuota kekuatan batin: Menjadi humble leader bukanlah tanda kelembutan atau ketidakberdayaan, tetapi humility adalah modal tenaga dalam unggul. Pemimpin yang terpandang adalah memiliki kerendahan hati di dalamnya dan kepercayaan diri pada penampilan luarnya.
  6. Mengenali kemampuan diri: Pemimpin yang rendah hati akan mengetahui siapa dirinya dan berperilaku sesuai kemampuannya. Kita juga menyadari sisi-sisi kelemahan diri sendiri untuk perbaikan ataupun ditutup dengan cara membangun tim sesuai kapasitas yang diperlukan.
  7. Berkepribadian asli: Humble leader tahu betapa pentingnya bersikap otentik, murni dan asli. Kita adalah orang berkepribadian sama – baik ketika sedang sendirian, di depan umum, juga di dalam kehidupan pribadi dalam segala situasi bersama dengan setiap orang yang berbeda-beda.
  8. Respek terhadap orang lain: Humble leader selalu konsisten dan disiplin dalam memperlakukan setiap orang lain dengan hormat terlepas dari memandang posisi, peran maupun jabatan mereka di publik.  
  9. Memahami keterbatasan: Pemimpin yang rendah hati memiliki percaya diri dalam mengenali kelemahan diri sendiri. Untuk mengatasi keterbatasan,  kita perlu memiliki tim pendamping dengan kemampuan berbeda saling melengkapi.
  10. Berani mengakui kesalahan: Semua pemimpin pernah melakukan kesalahan dari waktu ke waktu. Ketika kita bersedia untuk berbagi dan mengakui salah-langkah dan kesalahan yang kita buat sendiri, tindakan ini sangat memungkinkan orang lain untuk menaruh simpati-empati dan terhubung lebih erat dengan kita. Kerendahan hati adalah kualitas yang membuat orang lain menelaah sisi manusiawi kita.
  11. Mencari masukan: Keputusan awal untuk bisa meminta masukan dari orang lain bisa jadi cukup rentan untuk mengakui bahwa kita membutuhkan bantuan dan wawasan orang lain. Padahal tindakan meminta masukan ini merupakan simbol karakter hebat itu sendiri.

Akhirnya, apakah ada ajang lomba untuk menjadi seorang Leader?

Maka silakan teman-teman good people, great leaders, menjadi humble. Mengusung humility dan nyolong pethek adalah pilihan dari diri kita pribadi masing-masing. Prinsip ini sama halnya dengan trust-kepercayaan. Percaya terhadap seseorang itu adalah juga pilihan.

Salam seger-waras untuk semuanya.

Bali, 09 Maret 2021

Jeffrey Wibisono V.  namakubrandku

Hospitality Industry Consultant Indonesia in Bali,  Telu Learning Consulting, Digimakz Skill-up Digital Marketer, Copywriter, Jasa Konsultan Hotel

Share this:

Ganti Watang Alih Profesi

Well … ketika kini anda dan saya – kita semua – telah berada di penghujung triwulan ke-empat masa pandemi COVID-19. Belum puas juga rasanya  membahas segala konklusi solusi dalam menghadapi problematika dan romantika kehidupan sehari-hari. Di poin ini, khususnya kita rakyat sebagai penikmat layanan penanganan pemerintah dengan  common practise ciri khas Indonesia.

Apakah implikasinya terhadap masyarakatnya?

Ya, pada twiwulan pertama pandemi COVID-19, para pekerja masih belum dalam kehilangan pekerjaan tetapi telah kehilangan penghasilan. Mau tidak mau untuk bisa bertahan, kita ganti watang memberdayakan diri mendapatkan sumber pendapatan yang baru. Pitutur luhur dari bahasa Jawa ini secara harafiah artinya ganti batang. Apabila diterjemahkan secara luas adalah ganti pekerjaan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Setiap orang hidup menghadapi pilihan-pilihan masing-masing. Kekinian, mungkin pada awalnya daripada menganggur ingin bekerja secepatnya apa saja asal kita bisa mandiri, berpenghasilan untuk membayar biaya hidup dan cicilan. Setelah dalam kurun waktu tertentu dirasa tidak cukup baik perkembangannya maka kitapun ingin pindah haluan. Apapun boleh dilakukan oleh setiap orang. Selama masih memungkinkan seseorang harus mencari apa yang lebih baik untuk kehidupannya.

Di-zaman saya berkarir ada istilah Kutu Loncat. Citra negatif yang berarti seseorang pindah-pindah atau berganti pekerjaan seenaknya pada pekerjaan dan jabatan yang sama. Kalau ini dilakukan, kita akan menjadi kutu loncat yang tak pernah sempat membangun karir. Sehingga sepanjang hidup kita hanya sibuk mencari-cari kerja. Tidak pernah fokus dan tidak pernah betah dengan pekerjaannya. Saya ada menyinggung sedikit tentang ini di Buku Hotelier Stories Catatan Edan Penuh Teladan sub judul nomer 2. Takkan Lari Cita-Cita Dikejar.

Bagaimana dengan tahun 2020 ini?

Justru kita dipaksa untuk ganti watang menambah profesi yang sebagian besar menjadi entrepreneur UMKM. Pebisnis mikro dalam cakupan kuliner dan sembako. Banyak yang gugur dalam perjalanan entrepreneurship ini. Tetapi banyak juga yang mencapai titik nyaman dan telah berpikir untuk mempatenkan usahanya. Fokus menjadi pebisnis, entrepreneur dan dapat membuka lapangan kerja. Di Bali yang 85% adalah pekerja pariwisata, sebagian kecil saat ini sudah memutuskan untuk tidak menjadi pencari kerja lagi. Ganti Watang Permanen, Alih Profesi sebagai solusi.

Industri Pariwisata 2021, apa kabar?

Mari kita matangkan perencanaannya, kita nantikan kedatangannya dan kita sukseskan pelaksanaannya demi memenuhi harkat hidup orang banyak.

Bali, 06 November 2020

Jeffrey Wibisono V. @namakubrandku

Hospitality Consultant Indonesia in Bali –  Telu Learning Consulting – Commercial Writer – Copywriter – Jasa Konsultan Hotel

Hospitality Consultant Indonesia in Bali - Telu Learning Consulting – Commercial Writer - Copywriter - Jasa Konsultan Hotel
Alih Profesi Alih Warna Seragam Uniform
Share this:

Mentorship in Workshop Series Skill-up Digital Marketer

Aku tak biasa ..

.

Kali ini Suzana Widiastuti and I dengan modal latar belakang keilmuan yang berbeda, kami ber-kolaborasi membuat bendera persatuan dengan branding DIGIMAKZ.

.

Program bisnis kami adalah bimbingan pelatihan fokus ke praktek dengan kelas konvensional tatap muka MENTORSHIP in WORKSHOP SERIES dengan visi Skill-up Digital Marketer.

.

Kami mulai Seri #1 pada Sabtu, 14 November 2020.

Workshop akan dimulai pukul 9:00 pagi sampai diperkirakan selesai pukul 14:00 siang WITA.

Bertempat di Fame Hotel Sunset Road Kuta, Bali

Karena ini kelas bimbingan dengan praktek, maka kami membatasi peserta maksimum sebanyak 20 orang.

Pendaftaran via Whatsapp link https://wa.me/6281388808076 (Jeffrey)

Investasi sebesar Rp. 250ribu per orang dan termasuk makan siang.

Mentoring seri #1 dengan materi Cara Cerdas Monetisasi Media Sosial adalah

Suzana Widiastuti seorang Digital Maker — Maker istilah yang sedang trend di kalangan Startup — intinya orang yang bisa membangun dan meluncurkan produk (tentang apa saja). Dan saya sendiri, Jeffrey Wibisono V. seorang Praktisi Branding yang cukup dikenal di industri perhotelan dan pariwisata.

Kami telah menyusun Jadwal Seri Menjadi Digital Marketer dengan penyampaian materi berjenjang menjadi serial mentorship workshop. Pertemuan dengan jarak dua (2) minggu dari setiap seri-nya dengan total enam kali (6 X).

Berikut adalah jadwal lengkapnya yaitu 14 dan 28 Nov 2020, 12 dan 26 Des 2020, 16 dan 30 Jan 2021.

Pendaftaran seri #2 dan seterusnya akan kami buka setelah selesai setiap seri workshop secara berurutan.

Teman-teman, terima kasih sebelumnya atas minat dan perhatiannya. Kami tunggu pendaftaran teman-teman secepatnya mengingat kuota peserta yang telah kami tentukan.

Salam sehat senantiasa untuk kita semua.

Bali, 26 Oktober 2020

Jeffrey Wibisono V. namakubrandku

Hospitality Consultant Indonesia in Bali –  Telu  Learning  Consulting – Commercial Writer – Copywriter – Jasa Konsultan Hotel

Share this:

Let’s Go! Tetaplah Bergerak Agar Tak Tenggelam

KITA semua sudah paham, semua kesusahan dalam masa pandemi COVID-19 ini disebabkan oleh terbatasi ruang gerak secara global. Masyarakat, baik pengusaha mau pun pekerja hanya dalam posisi bertahan hidup selama dua triwulan berturut-turut. Untuk pemulihan ekonomi kuncinya hanya ada di pandemi.

Aksi pemerintah melakukan percepatan dengan membuka akses lintas-batas domestik masih terhambat dengan peningkatan area-area yang secara paparan  angka menunjukkan peningkatan resiko tertular dari sang virus tipe super-spreader ini. Pemerintah telah menawarkan dan melakukan aksi solusi berjenjang.

Kalau kita amati, masa pandemi di Indonesia bisa menjadi lebih lama lagi, karena faktor ketaatan masyarakatnya.

Mengapa bisa tidak taat?

Pasalnya penduduk kehilangan penghasilan dan harus tetap bergerak —terutama yang bergantung pada penghasilan harian—. “Tetaplah bergerak supaya kau tidak tenggelam.” Begitu kata salah satu kata bijak. Maka tidak ada pilihan, interaksi jual-beli harus tetap berlangsung, bahkan naik tajam di area mikro — UMKM–.

Selanjutnya, kita yang mengikuti berita dan menelisik data-data yang disampaikan oleh para juru bicara pemerintah dan otoritas terkait, sekarang sudah bisa mengambil kesimpulan.– Ini bisa menjadi suatu kelegaan karena parameternya tersedia–.

Secara umum bisa dikatakan pemerintahan NKRI dalam menanggulangi pandemi COVID-19 saat ini fokus pada ketersediaan vaksin. Penanggulangan berdasarkan adanya vaksin, “bukan” terhadap pandeminya, walau pun pemerintah daerah berkoordinasi dengan pemerintah pusat melakukan PSBB – lockdown locally – termasuk pembuatan peraturan dan payung hukumnya.

Yang menarik dari sini adalah informasi “jadwal” ketersediaan vaksin. Sehingga kemudian bisa kita perhitungkan dan tentukan periode pandemi COVID-19 di Indonesia akan masuk dalam fase under-control tertanggulangi. Kemudian diikuti pergerakan pemulihan ekonomi dan kontraksi sektor industri pariwisata yang bisa bergerak lebih awal.

Terkonfirmasi Presiden Joko Widodo atau Jokowi telah menandatangani Peraturan Presiden Nomor 99 Tahun 2020 tentang vaksin COVID-19. Aturan tersebut mengatur pengadaan dan pelaksanaan vaksin virus corona — rencananya dimulai pada akhir tahun 2020–. Impor vaksin COVID-19 tiba di Indonesia bulan depan (November 2020). Vaksin virus corona yang didatangkan dari luar negeri tersebut tahap pertama akan diberikan untuk tenaga medis atau garda depan.

 Selain vaksin impor, Indonesia tengah mengembangkan vaksin di dalam negeri. Vaksin tersebut saat ini masih dalam tahap III uji klinis yang kemudian akan diproduksi secara massal oleh Biofarma. Keputusan relevan dari hasil uji klinis masih harus kita tunggu sampai bulan Desember mendatang. Kita semua tentu berharap  vaksin produksi dalam negeri dinyatakan berhasil. Dengan begitu, vaksin bisa diproduksi secara massal pada Januari 2021. Masyarakat dengan risiko tinggi kemungkinan mendapatkan vaksin pada awal tahun depan, triwulan pertama memasuki tahun baru.

Baru-baru ini dari hasil berbincang bersama Direktur Riset CORE Indonesia, Piter A. Redjalam pada  webinar iDEATE, saya mendapatkan insight tentang dampak pandemi bagi perekonomian bangsa. Pak Piter pada penutupan presentasinya menyuntikkan semangat akan adanya kontraksi di sektor industri pariwisata Bali, bahkan mampu menyampaikan periodenya.

CORE adalah kependekan dari Center of Reform on Economics atau terjemahannya Pusat Pemulihan Ekonomi Nasional. Sedangkan acara webinar berbayar diprakarsai oleh KHAS Studio dengan moderator Elprisdat Zen yang juga adalah Managing Director studio tersebut.

Berita baiknya, tinggal satu langkah lebar lagi untuk masuk ke momentum “pemulihan ekonomi nasional”. Tentunya termasuk industri pariwisata dimana Bali sebagai fokus utama untuk percepatan.

Status under control adalah triwulan pertama 2021 karena sudah ada vaksin untuk garda depan.

Lalu masuk triwulan kedua mulai April 2021, kita  sudah masuk masa pemulihan/recovery dengan  vaksin  buatan Indonesia sendiri mulai dipakai.

Selanjutnya pada triwulan ketiga pada Juli  2021, bisa dipastikan  lalu lintas pariwisata sudah meningkat dengan perhitungan pemulihan ekonomi telah berjalan dan mayarakat mulai berpenghasilan baik.

Sehingga pada triwulan keempat mulai bulan Oktober 2021 akan ada lonjakan minat berwisata yang utuh. Permintaan sudah bisa dikatakan menuju normal karena euforia para pelaku wisata untuk melakukan perjalanan.

Apa rekomendasi kita terhadap pemerintah dalam konsep pentahelix pariwisata untuk memasuki triwulan per triwulan?

Ini adalah momentum. Jangan sampai dilewatkan.

Saat pandemi berakhir pemerintah hendaknya siap dengan program-program pemulihan ekonomi. Salah satu untuk mendukung pariwisata adalah memberikan berbagai diskon tiket pesawat dan saran transformasi lainnya yang diluncurkan lebih awal,— early-bird.

Jadi, apakah pekerjaan rumah  kita dalam dua triwulan ini supaya bisa tepat waktu masuk ke masa recovery yang secara logis realistis kita perhitungkan di atas kertas?

  1. Fokus pada penanggulangan wabah dengan keterlibatan seluruh lapisan masyarakat.
  2. Pemerintah turut andil untuk memberikan jaring pengaman sosial dan meningkatkan ketahanan masyarakat terdampak
  3. Pemerintah memberikan bantuan untuk meningkatkan ketahanan dunia usaha.

Bagaimana pemikiran Anda?

Bali 16 Oktober 2020

Jeffrey Wibisono V. @namakubrandku

Hospitality Consultant Indonesia in Bali –  Telu Hospitality Learning Consulting

Artikel juga tayang di https://jeffreywibisono.com/lets-go-tetaplah-bergerak-agar-tak-tenggelam/

Hospitality Consultant Indonesia in Bali -  Telu Learning Consulting – Commercial Writer - Copywriter - Jasa Konsultan Hotel
Share this:

Kepariwisataan Berkelanjutan Setelah Era Pandemi

NEGARA Kesatuan Republik Indonesia, dengan 17.504 pulau, secara de facto terdiri dari 34 provinsi. Di dalamnya ada 416 kabupaten dan 98 kota atau 7.024 daerah setingkat kecamatan dengan 81.626 daerah setingkat desa. Populasi hampir 270.054.853 jiwa pada tahun 2018. Mari kita tunggu pengumuman hasil sensus penduduk 2020 yang dilakukan secara online — hasilnya akan diumumkan sebelum tahun 2020 berakhir—.

Berita hari ini yang saya baca, dari 34 provinsi, terekam 15 provinsi di Indonesia tidak terjadi penambahan kasus positif COVID-19 (data per 5 Juni 2020). Berarti, hampir 50% provinsi di Indonesia sudah tidak ada penambahan kasus positif baru. Kabar baik.

Bagaimana dengan kepariwisataan setelah era pandemi?  Kalau di kumpulkan sudah ada ratusan prediksi perilaku dan bisnis yang akan berkembang berkenormalan baru dengan pemikiran life after COVID-19

Di dalam bukunya berjudul “Kepariwisataan Berkelanjutan Rintis Jalan Lewat Komunitas”, tertuang pemikiran pak I Gede Ardika, Menteri Pariwisata 2000 – 2004.

Pak Ardika mengulas bagaimana pembangunan pariwisata di Indonesia yang bertumpu pada konsep, prinsip-prinsip, serta cita-cita dan tujuan sebagai bagian integral dalam pembangunan nasional.

Mulai ulasan makna dan hakikat kepariwisataan, falsafah kepariwisataan yang berakar pada kearifan lokal. Serta contoh konkrit dari beberapa wilayah di Indonesia, diantaranya Yogyakarta dan Bali. Sebagai ilustrasi, Pak Ardika mencontohkan sejumlah desa wisata yang berhasil menerapkan nilai-nilai dasar dalam upaya mensejahterakan kehidupan mereka di antaranya; Desa Wisata Pentingsari di kaki Gunung Merapi Daerah lstimewa Yogyakarta dan Desa Pemuteran, Kabupaten Buleleng, Bali.

Pak Ardika melalui buku ini juga menyampaikan bahwa nilai-nilai dasar yang dijadikan sebagai acuan (di antaranya dalam UU Kepariwisataan No.10 Tahun 2009 yang telah memasukan Kode Etik Kepariwisataan Dunia) dalam kepariwisataan nasional itu bukan ilusi kosong semata. Prinsip-prinsip ini telah diterapkan dalam mengembangkan kepariwisataan pedesaan berbasis masyarakat di Indonesia.

Alternatif jawaban dalam mewujudkan cita-cita itu adalah kepariwisataan berbasis komunitas, yaitu masyarakat sebagai pelaku.

Insight kepariwisataan adalah alat pembangunan yang strategis dan inklusif. Kepariwisataan menyentuh beragam aspek sekaligus menciptakan ekosistem  yang membutuhkan keterlibatan seluruh kelompok masyarakat. Cita-cita dan tantangan kepariwisataan di Indonesia adalah mewujudkan kepariwisataan yang bertanggungjawab dan berkelanjutan dari sisi ekonomi, sosial budaya, dan lingkungan.

Lalu apa panduan dan peran UNWTO dalam pengembangan kepariwisataan Indonesia yang erat kaitannya dengan Prosedur Tetap (Protap) COVID-19 standar WHO untuk pelayanan kesehatan?

Sampai disini, pembahasan akan menjadi sangat serius dan saya serahkan ke tenaga ahlinya saja. Saya hendak alih fokus, membawa sidang pembaca ke prediksi masa depan yang membawa kita ke tatanan baru dalam bersosialisasi.

Berdasarkan dari begitu banyaknya informasi tertulis yang saya baca, melihat gambar juga menonton video, banyak tata cara ditawarkan, kemudian membawa saya kilasbalik ke masa lalu. Saya generasi yang mengalami jamannya Indonesia susah tahun 70 – 80an. Tahun 2020 ini kok saya rasakan ada kemiripan. Mungkin ada diantara sidang pembaca yang satu generasi dengan saya dan bisa menambahkan informasi.

Di Sekolah Dasar waktu itu, saya mendapatkan pembagian sumbangan jatah susu bubuk dalam kantong plastik bening yang tidak ada mereknya. Katanya –waktu itu– yang dibagikan adalah susu kedelai. Juga pengganti nasi di rumah namanya bulgur. Saya sudah lupa seperti apa rasa bulgur itu.

Maka dengan banyaknya wacana aturan baru dalam bersosialisi yang sedang dibuatkan payung hukum, maka saya mikirnya, ini circle of life. Pengulangan masa lalu sesuai jamannya.

The time is always right to do what is right. Masanya senantiasa tepat untuk melakukan hal-hal yang benar. Di masa tahun 70 – 80 an itu, mobil dan kendaraan umum tidak ber-AC. Kita menikmati sirkulasi udara natural. Apa bedanya dengan rekomendasi saat ini yang mengajari kita untuk mendapatkan sirkulasi udara sehat dengan membuka pintu dan jendela di waktu-waktu yang memungkinkan. Juga mengepel lantai dengan desinfektan.

Tentang Kuliner

Di jaman saya, restoran juga jarak antar meja nya cukup jauh. Di celah tempat duduknya bisa papasan dua orang dengan berjalan tegak, tidak pakai memiringkan atau mencondongkan tubuh. Bahkan ada restoran yang mememasang sekat antar meja, menjaga privasi.

Dan apa rekomendasi dari protap COVID-19 sekarang?

Ya, mengatur meja restoran berjarak 1.5 – 2 meter.  Sehingga kapasitas tempat duduk berkurang sekitar 50% dibandingkan pengaturan sebelum pandemi COVID-19 mewabah.

Kemudian dari edaran Tas Siaga COVID-nya BNBP, saya jadi ingat, kalau beli makanan dari gerobak pinggir jalan di sepanjang jalan Senopati Jakarta. Makannya di dalam mobil masing-masing dan bisa dipastikan setiap pembeli menyiapkan alat makan sendiri.

Di masa kini, kita yang sudah kena globalisasi, gerobak makanan kita sebut Food Truck. Karena yang pedagang di trotoar kaki lima sekarang menggunakan bagasi mobilnya untuk menata makanan jualannya.

Satu lagi, bahan makanan yang dianjurkan adalah organik dan sebisanya menghindari makanan cepat saji.

Ya, di masa lalu, — belum jamannya berbagai macam obat-obat kimia dalam bidang pertanian dan perkebunan. Pertumbuhan dan kesuburan alami dengan menggunakan pupuk kandang.

Bioskop

Yang menarik adalah bioskop. Yang punya mobil akan ke Drive-In Cinema dan yang lainnya akan ke gedung bioskop luar-ruang misbar singkatan dari gerimis bubar di masa kecil saya. Sekarang disebut nobar kependekan dari nonton bareng. Ini dunia hiburan yang akan trendi di banyak kota besar.

Pelesir

Yang saya bayangkan, pangsa pasar pertama yang akan melakukan perjalanan pasca COVID adalah keluarga-keluarga kecil. Dengan mobil-mobil yang cukup untuk ber-enam. Mobil pariwisata adalah mobil terbuka dan jenis-jenis mobil ber-AC yang muat untuk enam penumpang dengan sekat antara sopir dan penumpang. Seperti limousine service dan taxi di beberapa negara Eropa.

Di jaman saya tahun 70 – 80an, bahagianya naik colt diesel itu tanpa AC pulang-pergi Malang – Surabaya atau piknik bersama keluarga ke tempat-tempat lain berjarak tempuh sekitar empat jam.

Kemudian traveling menjadi hal yang mewah dan mahal. Ngurus surat ini itu dan ngisi form ini itu termasuk harus suntik vaksin sesuai aturan destinasi yang dituju. Apa bedanya dengan wacana dan peraturan yang sedang disusun saat ini?

Lebih jauh lagi, bagaimana dengan cara kerja dan pemikiran marketing industri perhotelan dan pariwisata saat ini dan beberapa bulan ke depan menghadapi COVID-19 under control dan program recovery-nya?

Faktanya pangsa pasar tidak mendukung secara global. Penawaran yang sedang beredar adalah Cost Price Long Staying, dan gencar dengan Pay Now Stay Later.

Semua strategi ini tentunya telah diperhitungkan dengan matang oleh menejemen perusahaan masing-masing. Mode bertahan hidup. Ini semacam aksi yang sama dimana-mana, sea of similarity.

Akhirnya, bagaimana rencana masa depan kepariwisataan termasuk aksi jangka pendek dan panjangnya?

Bukan lagi inovasi yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan dalam persiapan meluncurkan kembali perjalanan dan pariwisata berkelanjutan dunia. Melainkan membuka akses lintas batas seperti sebelumnya dan melonggarkan segala peraturan rumit yang disiapkan oleh masing-masing pemerintahan di seluruh dunia. Dengan prioritas jaminan kesehatan untuk semua tingkat kemampuan ekonomi wisatawan di semua destinasi tetap di urutan nomer satu dan biayanya terjangkau.

Bali, 06 Juni 2020

Jeffrey Wibisono V.

Hospitality Consultant Indonesia in Bali Jeffrey Wibisono V. namakubrandku Telu Learning Consulting Writer Copywriter

Juga dipublikasikan di

Share this:

“Stay at Home Economy”, Kekinian ataukah Model Bisnis Masa Depan?

STAY at home economy akan menjadi tren di masa yang akan datang,” demikian pernyataan Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Teten Masduki dalam keterangan resmi di Media Center Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, Graha Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Jakarta, Selasa (28/4).

Kita semua telah tahu, bahwa kuartal pertama tahun 2020 ini dimulai dengan masa suram perekonomian rakyat. Untuk Bali, sudah terasa seretnya pendapatan bagi pekerja pariwisata, perhotelan dan lingkaran ekosistemnya pada bulan Maret. Bisa diperhitungkan mulai dari di tetapkannya status siaga Corona oleh Gubernur Bali, I Wayan Koster. Status siaga yang  berlaku dari 16  sampai 30 Maret 2020. Kemudian diperpanjang sampai 29 May 2020.  Selanjutnya, provinsi lain di Indonesia juga terdampak.

Dalam perjalanan status siaga ini, kita sekarang mematuhi tambahan ketetapan pemerintah pusat,  yaitu “larangan mudik”. Tindakan yang diambil  demi mencegah semakin meluasnya penyebaran virus Corona penyebab COVID-19. Peraturan ini  disampaikan oleh Presiden NKRI Joko Widodo saat memimpin rapat terbatas, Selasa 21 April 2020. Tindakan larangan mudik diberlakukan pemerintah mulai Jumat, 14 April. Keputusan ini mengakibatkan seluruh moda transportasi dihentikan sementara. Juru bicara Kementerian Perhubungan Adita Irawati menyebutkan, moda transportasi baik darat, laut, udara dan kereta api, dihentikan sementara hingga batas waktu yang ditentukan. Kendaraan bermotor dilarang beroperasi hingga 31 Mei, transportasi laut hingga 8 Juni, dan kereta api hingga 15 Juni 2020.

Bisnis rumahan dadakan

Dari mengamati dan menyadari cara hidup keseharian di kuartal pertama 2020 ini, kita pasti merasa dipaksa untuk mendigitalisasi banyak hal dalam menjalani aktifitas keseharian. Kondisi #DiRumahAja ini telah membangkitkan bisnis kuliner rumahan dadakan sektor bisnis informal. Para pekerja terutama dari sektor pariwisata dan perhotelan —penghasilan tetap bulanannya harus rela “dicacah”—, mulai mengeluarkan jurus-jurus mempertahankan ekonomi rumah tangga dari keahlian memasak.

Berbekal pengetahuan social media, mereka mulai beraktifitas memulai e-commerce industri rumahan. Membuka pesanan dan sesuai kesepakatan ditentukan juga hari dan jam pengantarannya. Bahkan yang sebelumnya gaptek – gagap teknologi dipaksa go digital untuk memulai bisnisnya. Tiada ampun covid-19 ternyata juga memberi nilai positif untuk memaksa semua orang beradaptasi dengan lingkungannya.

Opsi pesan-antar membuka peluang bisnis rumahan yang sangat luas. Komunikasi untuk menerima pesanan pun sangat mudah dengan menggunakan platform gratis  digital berbasis sosial media, termasuk instagram message, facebook messenger, whatsapp, line dan beberapa lagi. Juga yang sudah eksis bekerjasama dengan provider ojol Go-Jek dan Grab.

Apakah bisnis pesan-antar yang sekarang menjadi tren perjuangan mengais rejeki untuk memenuhi kebutuhan ekonomi rumah tangga hanya untuk sementara?

Kalau saja, bisnis pesan-antar dadakan ini menyehatkan ekonomi rumah tangga saat ini dan beberapa bulan ke depan, tentunya stay at home economy tren bisnis kekinian akan menjadi tonggak main income pelakunya.   Kelangsungan bisnis masa depan yang bisa diperhitungkan sebagai membuka lapangan kerja di sektor UKM / UMKM dengan didukung digital platform yang tepat sasaran untuk memudahkan cara kerja dengan jangkauan pasar yang lebih luas.

Industri Kuliner

Bagaimana dengan restoran-restoran dan usaha lainnya dari kategori PT, CV, UD dan UKM?

Stay at home economy bisa diterjemahkan lebih luas lagi. Karena pergeseran seismik ini, platform digital dan solusi pesan-antar berkembang pesat. Semua sektor industri menjadi semakin tergantung pada digitalisasi. Solusi menggunakan platform pesan-antar digital pasti diperlukan untuk meraih pangsa pasar yang lebih luas dan mempermudah sistem kerja. Investasi dengan biaya murah dan menjadi solusi jangka panjang dalam berbisnis. Bisa dipastikan sistem e-commerce ini akan terus dikembangan untuk kepentingan masa depan.

Pebisnis makanan dan minuman pun dipaksa untuk bertransformasi untuk mendatangi customer. Sesuai keputusan pemerintah, restoran harus tutup. Tetapi para pengusaha restoran termasuk restoran di hotel dituntut untuk mampu mempertahankan karyawannya dan menggaji sesuai kesepakatan kerja antara kedua belah pihak.

Thanks to Technology.

Dengan makin canggihnya alat komunikasi dan bisa saling diintegrasikan, maka Platform Digital Pesan-Antar sangat membantu para pebisnis dan konsumennya untuk tetap berinteraksi, dan walaupun pendapatan turun tetapi bisnis hidup. Untuk pebisnis sektor formal, ada beberapa solusi perangkat lunak (SaaS) di pasar yang memberi kita alat untuk menjalankan dan maintain operasional pengiriman kita sendiri. Beberapa nama yang dikenal dari luar Indonesia adalah Oddle, Tabsquare, Kaddra, Weeloy, dan Butleric. Sedangkan Digital Ordering Platform yang sudah banyak dipakai di indonesia adalah deeats dan linktr.ee instagram tool,selain google, dan facebook yang juga merespon situasi stay at home /#DiRumahAja dengan menyediakan fasilitas bisnis untuk publik.

Lantas! Solusi atau platform pesan-antar mana yang lebih baik?

Kita dapat menyimpulkan bahwa solusi pesan-antar masuk akal untuk perusahaan mapan juga UKM / UMKM  yang memiliki sumber daya untuk mengelola operasional pengiriman mereka sendiri. Kita harus berpikir secara logis dan menganalisa apa sebenarnya yang akan menjadi biaya. Terutama saat kita menganggap platform digital ini tiba-tiba sebagai bagian penting dari rantai pasokan. Kita seharusnya menganggapnya sebagai kebutuhan wajar dalam menjalani new normal berkelanjutan dalam etika bisnis era COVID-19. Solusi pemesanan online yang dapat kita tawarkan kepada customer untuk melihat menu, memesan, dan melakukan pembayaran online. Biasanya solusi ini diberi istilah white label merek restoran.

Nilai tambah platform digital pesan-antar

Bisa di evaluasi dari kebiasan kita yang menjadi konsumen, yaitu akan melihat peningkatan jumlah opsi menu dan beragam penawaran untuk dipilih.

Pebisnis kuliner dadakan dan restoran memiliki aliran pendapatan dari bisnis pesan-antar untuk membiayai dapur masing-masing.

Pebisnis kuliner pesan-antar menciptakan lebih banyak pekerjaan untuk karyawan dan driver ojol sebagai partner kerjasama pihak ketiga.

Platform digital pesan-antar mendorong inovasi dan mengimplementasikan smart kitchen berbasis cloud yang biaya operasionalnya lebih rendah dibandingkan conventional kitchen.

Akhirnya kembali kepada topik awal, apakah stay at home economy, bisnis berbasis ekonomi kerakyatan akan menjadi sumber pendapatan utama masa depan kita?

Bali, 08 Mei 2020

Jeffrey Wibisono V.

Jeffrey Wibisono V. @namakubrandku
Hospitality Consultant Indonesia in Bali -  Telu Learning Consulting – Commercial Writer - Copywriter - Jasa Konsultan Hotel

Juga dimuat di

Share this: