Kepariwisataan Berkelanjutan Setelah Era Pandemi

NEGARA Kesatuan Republik Indonesia, dengan 17.504 pulau, secara de facto terdiri dari 34 provinsi. Di dalamnya ada 416 kabupaten dan 98 kota atau 7.024 daerah setingkat kecamatan dengan 81.626 daerah setingkat desa. Populasi hampir 270.054.853 jiwa pada tahun 2018. Mari kita tunggu pengumuman hasil sensus penduduk 2020 yang dilakukan secara online — hasilnya akan diumumkan sebelum tahun 2020 berakhir—.

Berita hari ini yang saya baca, dari 34 provinsi, terekam 15 provinsi di Indonesia tidak terjadi penambahan kasus positif COVID-19 (data per 5 Juni 2020). Berarti, hampir 50% provinsi di Indonesia sudah tidak ada penambahan kasus positif baru. Kabar baik.

Bagaimana dengan kepariwisataan setelah era pandemi?  Kalau di kumpulkan sudah ada ratusan prediksi perilaku dan bisnis yang akan berkembang berkenormalan baru dengan pemikiran life after COVID-19

Di dalam bukunya berjudul “Kepariwisataan Berkelanjutan Rintis Jalan Lewat Komunitas”, tertuang pemikiran pak I Gede Ardika, Menteri Pariwisata 2000 – 2004.

Pak Ardika mengulas bagaimana pembangunan pariwisata di Indonesia yang bertumpu pada konsep, prinsip-prinsip, serta cita-cita dan tujuan sebagai bagian integral dalam pembangunan nasional.

Mulai ulasan makna dan hakikat kepariwisataan, falsafah kepariwisataan yang berakar pada kearifan lokal. Serta contoh konkrit dari beberapa wilayah di Indonesia, diantaranya Yogyakarta dan Bali. Sebagai ilustrasi, Pak Ardika mencontohkan sejumlah desa wisata yang berhasil menerapkan nilai-nilai dasar dalam upaya mensejahterakan kehidupan mereka di antaranya; Desa Wisata Pentingsari di kaki Gunung Merapi Daerah lstimewa Yogyakarta dan Desa Pemuteran, Kabupaten Buleleng, Bali.

Pak Ardika melalui buku ini juga menyampaikan bahwa nilai-nilai dasar yang dijadikan sebagai acuan (di antaranya dalam UU Kepariwisataan No.10 Tahun 2009 yang telah memasukan Kode Etik Kepariwisataan Dunia) dalam kepariwisataan nasional itu bukan ilusi kosong semata. Prinsip-prinsip ini telah diterapkan dalam mengembangkan kepariwisataan pedesaan berbasis masyarakat di Indonesia.

Alternatif jawaban dalam mewujudkan cita-cita itu adalah kepariwisataan berbasis komunitas, yaitu masyarakat sebagai pelaku.

Insight kepariwisataan adalah alat pembangunan yang strategis dan inklusif. Kepariwisataan menyentuh beragam aspek sekaligus menciptakan ekosistem  yang membutuhkan keterlibatan seluruh kelompok masyarakat. Cita-cita dan tantangan kepariwisataan di Indonesia adalah mewujudkan kepariwisataan yang bertanggungjawab dan berkelanjutan dari sisi ekonomi, sosial budaya, dan lingkungan.

Lalu apa panduan dan peran UNWTO dalam pengembangan kepariwisataan Indonesia yang erat kaitannya dengan Prosedur Tetap (Protap) COVID-19 standar WHO untuk pelayanan kesehatan?

Sampai disini, pembahasan akan menjadi sangat serius dan saya serahkan ke tenaga ahlinya saja. Saya hendak alih fokus, membawa sidang pembaca ke prediksi masa depan yang membawa kita ke tatanan baru dalam bersosialisasi.

Berdasarkan dari begitu banyaknya informasi tertulis yang saya baca, melihat gambar juga menonton video, banyak tata cara ditawarkan, kemudian membawa saya kilasbalik ke masa lalu. Saya generasi yang mengalami jamannya Indonesia susah tahun 70 – 80an. Tahun 2020 ini kok saya rasakan ada kemiripan. Mungkin ada diantara sidang pembaca yang satu generasi dengan saya dan bisa menambahkan informasi.

Di Sekolah Dasar waktu itu, saya mendapatkan pembagian sumbangan jatah susu bubuk dalam kantong plastik bening yang tidak ada mereknya. Katanya –waktu itu– yang dibagikan adalah susu kedelai. Juga pengganti nasi di rumah namanya bulgur. Saya sudah lupa seperti apa rasa bulgur itu.

Maka dengan banyaknya wacana aturan baru dalam bersosialisi yang sedang dibuatkan payung hukum, maka saya mikirnya, ini circle of life. Pengulangan masa lalu sesuai jamannya.

The time is always right to do what is right. Masanya senantiasa tepat untuk melakukan hal-hal yang benar. Di masa tahun 70 – 80 an itu, mobil dan kendaraan umum tidak ber-AC. Kita menikmati sirkulasi udara natural. Apa bedanya dengan rekomendasi saat ini yang mengajari kita untuk mendapatkan sirkulasi udara sehat dengan membuka pintu dan jendela di waktu-waktu yang memungkinkan. Juga mengepel lantai dengan desinfektan.

Tentang Kuliner

Di jaman saya, restoran juga jarak antar meja nya cukup jauh. Di celah tempat duduknya bisa papasan dua orang dengan berjalan tegak, tidak pakai memiringkan atau mencondongkan tubuh. Bahkan ada restoran yang mememasang sekat antar meja, menjaga privasi.

Dan apa rekomendasi dari protap COVID-19 sekarang?

Ya, mengatur meja restoran berjarak 1.5 – 2 meter.  Sehingga kapasitas tempat duduk berkurang sekitar 50% dibandingkan pengaturan sebelum pandemi COVID-19 mewabah.

Kemudian dari edaran Tas Siaga COVID-nya BNBP, saya jadi ingat, kalau beli makanan dari gerobak pinggir jalan di sepanjang jalan Senopati Jakarta. Makannya di dalam mobil masing-masing dan bisa dipastikan setiap pembeli menyiapkan alat makan sendiri.

Di masa kini, kita yang sudah kena globalisasi, gerobak makanan kita sebut Food Truck. Karena yang pedagang di trotoar kaki lima sekarang menggunakan bagasi mobilnya untuk menata makanan jualannya.

Satu lagi, bahan makanan yang dianjurkan adalah organik dan sebisanya menghindari makanan cepat saji.

Ya, di masa lalu, — belum jamannya berbagai macam obat-obat kimia dalam bidang pertanian dan perkebunan. Pertumbuhan dan kesuburan alami dengan menggunakan pupuk kandang.

Bioskop

Yang menarik adalah bioskop. Yang punya mobil akan ke Drive-In Cinema dan yang lainnya akan ke gedung bioskop luar-ruang misbar singkatan dari gerimis bubar di masa kecil saya. Sekarang disebut nobar kependekan dari nonton bareng. Ini dunia hiburan yang akan trendi di banyak kota besar.

Pelesir

Yang saya bayangkan, pangsa pasar pertama yang akan melakukan perjalanan pasca COVID adalah keluarga-keluarga kecil. Dengan mobil-mobil yang cukup untuk ber-enam. Mobil pariwisata adalah mobil terbuka dan jenis-jenis mobil ber-AC yang muat untuk enam penumpang dengan sekat antara sopir dan penumpang. Seperti limousine service dan taxi di beberapa negara Eropa.

Di jaman saya tahun 70 – 80an, bahagianya naik colt diesel itu tanpa AC pulang-pergi Malang – Surabaya atau piknik bersama keluarga ke tempat-tempat lain berjarak tempuh sekitar empat jam.

Kemudian traveling menjadi hal yang mewah dan mahal. Ngurus surat ini itu dan ngisi form ini itu termasuk harus suntik vaksin sesuai aturan destinasi yang dituju. Apa bedanya dengan wacana dan peraturan yang sedang disusun saat ini?

Lebih jauh lagi, bagaimana dengan cara kerja dan pemikiran marketing industri perhotelan dan pariwisata saat ini dan beberapa bulan ke depan menghadapi COVID-19 under control dan program recovery-nya?

Faktanya pangsa pasar tidak mendukung secara global. Penawaran yang sedang beredar adalah Cost Price Long Staying, dan gencar dengan Pay Now Stay Later.

Semua strategi ini tentunya telah diperhitungkan dengan matang oleh menejemen perusahaan masing-masing. Mode bertahan hidup. Ini semacam aksi yang sama dimana-mana, sea of similarity.

Akhirnya, bagaimana rencana masa depan kepariwisataan termasuk aksi jangka pendek dan panjangnya?

Bukan lagi inovasi yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan dalam persiapan meluncurkan kembali perjalanan dan pariwisata berkelanjutan dunia. Melainkan membuka akses lintas batas seperti sebelumnya dan melonggarkan segala peraturan rumit yang disiapkan oleh masing-masing pemerintahan di seluruh dunia. Dengan prioritas jaminan kesehatan untuk semua tingkat kemampuan ekonomi wisatawan di semua destinasi tetap di urutan nomer satu dan biayanya terjangkau.

Bali, 06 Juni 2020

Jeffrey Wibisono V.

Kepariwisataan Berkelanjutan Setelah Era Pandemi. Old Fashioned Restaurant set up refer to New Normal

Juga dipublikasikan di

Share this:

COVID-19 vs Revolusi Industri Gen 4.0 Pariwisata

Seiring dengan mendunianya wabah COVID-19 dalam hitungan hari, saat ini topik paling panas di seantero jagad adalah Stay Home You Safe Lifes. Jargon berupa tagar atau hashtag termasuk #DiRumahAja milik Indonesia dan #TravelTomorrow milik UNWTO.

Ada lagi jargon yang lain?

Satu lagi yang sedang viral di dunia adalah #WhenWeTravelAgain. Editor perjalanan di Irish Independent bernama Pol O Conghaile @poloconghaile yang memulai tagar tersebut  di Twitter. Tagar ini mendapatkan banyak reaksi sebab menandakan kebebasan dan memberikan gambaran masa depan

Kemudian, mestinya kita semua pekerja pariwisata dan perhotelan mempunyai pertanyaan selanjutnya seperti:

Apakah dampak COVID-19 bagi Indonesia?

Kira-kira pola traveling pasca pandemi seperti apa ya?

Untuk ini, saya memikirkannya dari sudut pandang optimis  #ExcitedForTomorrow. Saya menaruh harapan untuk esok hari, membuat cita-cita baru, yaitu NEW SKILLS – beberapa keahlian baru selama masa karantina mandiri #DiRumahAja.

Di luar kesadaran kita, momentum wabah COVID-19 ini membuat kita semua mengerjakan banyak hal secara digital. Kita mulai dari pelajar yang harus belajar di rumah dan sebagian tutorialnya dengan cara tele-conference. Kemudian, pekerja dengan status WFH – Work From Home, pertemuan hariannya secara live tele-conference menggunakan tool Zoom dari masing-masing gadget.

Lebih jauh lagi, golongan menengah ke bawah jadi belajar untuk berbisnis di lingkungannya. Sementara ojol dan beragam fasilitas digital makin menunjang banyak orang untuk belajar bisnis. Disini termasuk kita-kita yang pada belajar berbelanja konsumsi makanan melalui online. Situasi ini bisa terjadi karena dipaksa oleh keadaan harus tinggal di rumah plus jaga jarak aman.

Jadi pasca COVID-19, Indonesia akan aman, maju dan malah lebih  sehat.

Bisnis menyebar ke daerah, bisnis menengah ke bawah tumbuh, dan swadesi meningkat. Inilah yang saya sebut  konsep percepatan “digitalisasi revolusi industri gen 4.0 menggunakan momentum wabah COVID-19”.

Transaksi menggunakan uang fisik kertas dan koin akan jauh berkurang, karena sudah tersedia virtual payment gateway. Pembayaran instan tunai yang menguntungkan penjual karena cash flow tetap berjalan, dan memberi manfaat juga kepada pembeli karena tidak perlu menyimpan uang kembalian yang dicurigai mengandung banyak virus karena telah dipegang banyak tangan dalam peredarannya.

Mari kita lanjutkan fokus ke  pola traveling dan tuntutan traveler pasca CoVID-19. Sudah pasti tuntutan traveler nomer satu terhadap suatu destinasi adalah sehat, aman dan nyaman. Ya urutan nomer satu menjadi “sehat” menggantikan yang sebelumnya “aman”.

Dengan mengusung pengetahuan tentang COVID-19 ini yang melarang kita untuk menyentuh permukaan-permukaan barang, dan harus rajin cuci tangan, maka jalan keluarnya adalah “personalized all services” dan salah satunya adalah Go Digital.

Beragam teknologi untuk pelayanan sudah dipikirkan, dikembangkan dan tersedia saat ini. Untuk customer service dengan menghargai dan menjaga health concious customer, maka layanan harus dilakukan dalam jarak aman.

Jadi,  banyak barang cetakan yang berupa directory, informasi, promosi, menu restoran, menu room-service dan delivery service dan banyak lagi harus digitalkan. Kemudian materi digital tersebut bisa diakses langsung oleh customer dari handphone masing-masing. Inilah solusi gen 4.0 yag murah berfaedah dan memberikan kenyamanan kepada customer karena tidak perlu menyentuh barang yang sudah dipegang banyak orang. Kebiasaan sesuai generasi nya yang tadinya kita sebut hubbing, selfish karena tidak berinteraksi dengan orang lain, sekarang menjadi SAH!.

Untuk menghadapi era revolusi industri 4.0 yang masih tergolong baru ini, diperlukan persiapan dan pelatihan khusus yang mendukung.  Kita sudah mulai dibiasakan beribadah yang menampilkan pimpinan umat atau imam agama di rumah masing-masing dengan live-streaming. Kemudian ber-olah raga ala klub kebugaran pun dipandu dengan live streaming. Diantara banyak perusahaan yang terpuruk, saat ini bisnis penyedia jaringan internet yang meraup penghasilan paling tinggi sesuai kebutuhan masyarakat dunia.

Pernah merasakan kalau kita kehabisan pulsa? Pasti kita tidak mau kejadian tersebut terulang lagi.

Saat ini, Indonesia sudah mulai menggarap revolusi industri 4.0, terlihat dari banyaknya perusahaan yang telah menerapkan sistem jaringan internet untuk memudahkan akses-akses informasi internal, pengawasan karyawan, sampai pembukuan. Pastilah perusahaan semacam itu kita sebut dengan istilah smart company. Kita sudah terbiasa dengan smart phone dengan segala fiturnya bukan?

Di balik kemudahan standar era kekinian yang kita rasakan di era komunikasi ini,  dalam revolusi industri 4.0, ada 9 teknologi yang menjadi pilar utama untuk mengembangkan sebuah industri biasa menuju industri yang siap digital.

Saya percaya banyak diantra kita yang telah mendengar sampai paham bahkan telah bekerja sama dengan piranti robotic ini.  Diantaranya adalah:

1. Internet of Things (IoT)

2. Big Data

3. Argumented Reality (AR)

4. Cyber Security

5. Artificial Intelegence

6. Addictive Manufacturing

7. Simulation

8. System Integeration

9. Cloud Computing

Perilaku dan kebiasaan orang seluruh dunia akan berubah menjadi new normal.  Salah satunya adalah kita sendiri dan jangan ragu lagi untuk bekerja sama dengan robot. Robot bukan untuk menggantikan manusia apalagi customer service di industri pariwisata, tetapi cara kerja robot dengan memori buatannya mempermudah banyak pekerjaan manusia terutama perkerjaan yang sama dilakukan berulang.

Jadi tunggu apalagi mari #ExcitedForTomorrow bersiap #WhenWeTravelAgain sambil menguasai #NewSkills pada saat musibah wabah yang harus kita waspadai dan jalani telah berlalu.

Bali, 07 April 2020

Jeffrey Wibisono V.

Telah dipublikasikan di

Share this: