COVID-19 vs Revolusi Industri Gen 4.0 Pariwisata

Seiring dengan mendunianya wabah COVID-19 dalam hitungan hari, saat ini topik paling panas di seantero jagad adalah Stay Home You Safe Lifes. Jargon berupa tagar atau hashtag termasuk #DiRumahAja milik Indonesia dan #TravelTomorrow milik UNWTO.

Ada lagi jargon yang lain?

Satu lagi yang sedang viral di dunia adalah #WhenWeTravelAgain. Editor perjalanan di Irish Independent bernama Pol O Conghaile @poloconghaile yang memulai tagar tersebut  di Twitter. Tagar ini mendapatkan banyak reaksi sebab menandakan kebebasan dan memberikan gambaran masa depan

Kemudian, mestinya kita semua pekerja pariwisata dan perhotelan mempunyai pertanyaan selanjutnya seperti:

Apakah dampak COVID-19 bagi Indonesia?

Kira-kira pola traveling pasca pandemi seperti apa ya?

Untuk ini, saya memikirkannya dari sudut pandang optimis  #ExcitedForTomorrow. Saya menaruh harapan untuk esok hari, membuat cita-cita baru, yaitu NEW SKILLS – beberapa keahlian baru selama masa karantina mandiri #DiRumahAja.

Di luar kesadaran kita, momentum wabah COVID-19 ini membuat kita semua mengerjakan banyak hal secara digital. Kita mulai dari pelajar yang harus belajar di rumah dan sebagian tutorialnya dengan cara tele-conference. Kemudian, pekerja dengan status WFH – Work From Home, pertemuan hariannya secara live tele-conference menggunakan tool Zoom dari masing-masing gadget.

Lebih jauh lagi, golongan menengah ke bawah jadi belajar untuk berbisnis di lingkungannya. Sementara ojol dan beragam fasilitas digital makin menunjang banyak orang untuk belajar bisnis. Disini termasuk kita-kita yang pada belajar berbelanja konsumsi makanan melalui online. Situasi ini bisa terjadi karena dipaksa oleh keadaan harus tinggal di rumah plus jaga jarak aman.

Jadi pasca COVID-19, Indonesia akan aman, maju dan malah lebih  sehat.

Bisnis menyebar ke daerah, bisnis menengah ke bawah tumbuh, dan swadesi meningkat. Inilah yang saya sebut  konsep percepatan “digitalisasi revolusi industri gen 4.0 menggunakan momentum wabah COVID-19”.

Transaksi menggunakan uang fisik kertas dan koin akan jauh berkurang, karena sudah tersedia virtual payment gateway. Pembayaran instan tunai yang menguntungkan penjual karena cash flow tetap berjalan, dan memberi manfaat juga kepada pembeli karena tidak perlu menyimpan uang kembalian yang dicurigai mengandung banyak virus karena telah dipegang banyak tangan dalam peredarannya.

Mari kita lanjutkan fokus ke  pola traveling dan tuntutan traveler pasca CoVID-19. Sudah pasti tuntutan traveler nomer satu terhadap suatu destinasi adalah sehat, aman dan nyaman. Ya urutan nomer satu menjadi “sehat” menggantikan yang sebelumnya “aman”.

Dengan mengusung pengetahuan tentang COVID-19 ini yang melarang kita untuk menyentuh permukaan-permukaan barang, dan harus rajin cuci tangan, maka jalan keluarnya adalah “personalized all services” dan salah satunya adalah Go Digital.

Beragam teknologi untuk pelayanan sudah dipikirkan, dikembangkan dan tersedia saat ini. Untuk customer service dengan menghargai dan menjaga health concious customer, maka layanan harus dilakukan dalam jarak aman.

Jadi,  banyak barang cetakan yang berupa directory, informasi, promosi, menu restoran, menu room-service dan delivery service dan banyak lagi harus digitalkan. Kemudian materi digital tersebut bisa diakses langsung oleh customer dari handphone masing-masing. Inilah solusi gen 4.0 yag murah berfaedah dan memberikan kenyamanan kepada customer karena tidak perlu menyentuh barang yang sudah dipegang banyak orang. Kebiasaan sesuai generasi nya yang tadinya kita sebut hubbing, selfish karena tidak berinteraksi dengan orang lain, sekarang menjadi SAH!.

Untuk menghadapi era revolusi industri 4.0 yang masih tergolong baru ini, diperlukan persiapan dan pelatihan khusus yang mendukung.  Kita sudah mulai dibiasakan beribadah yang menampilkan pimpinan umat atau imam agama di rumah masing-masing dengan live-streaming. Kemudian ber-olah raga ala klub kebugaran pun dipandu dengan live streaming. Diantara banyak perusahaan yang terpuruk, saat ini bisnis penyedia jaringan internet yang meraup penghasilan paling tinggi sesuai kebutuhan masyarakat dunia.

Pernah merasakan kalau kita kehabisan pulsa? Pasti kita tidak mau kejadian tersebut terulang lagi.

Saat ini, Indonesia sudah mulai menggarap revolusi industri 4.0, terlihat dari banyaknya perusahaan yang telah menerapkan sistem jaringan internet untuk memudahkan akses-akses informasi internal, pengawasan karyawan, sampai pembukuan. Pastilah perusahaan semacam itu kita sebut dengan istilah smart company. Kita sudah terbiasa dengan smart phone dengan segala fiturnya bukan?

Di balik kemudahan standar era kekinian yang kita rasakan di era komunikasi ini,  dalam revolusi industri 4.0, ada 9 teknologi yang menjadi pilar utama untuk mengembangkan sebuah industri biasa menuju industri yang siap digital.

Saya percaya banyak diantra kita yang telah mendengar sampai paham bahkan telah bekerja sama dengan piranti robotic ini.  Diantaranya adalah:

1. Internet of Things (IoT)

2. Big Data

3. Argumented Reality (AR)

4. Cyber Security

5. Artificial Intelegence

6. Addictive Manufacturing

7. Simulation

8. System Integeration

9. Cloud Computing

Perilaku dan kebiasaan orang seluruh dunia akan berubah menjadi new normal.  Salah satunya adalah kita sendiri dan jangan ragu lagi untuk bekerja sama dengan robot. Robot bukan untuk menggantikan manusia apalagi customer service di industri pariwisata, tetapi cara kerja robot dengan memori buatannya mempermudah banyak pekerjaan manusia terutama perkerjaan yang sama dilakukan berulang.

Jadi tunggu apalagi mari #ExcitedForTomorrow bersiap #WhenWeTravelAgain sambil menguasai #NewSkills pada saat musibah wabah yang harus kita waspadai dan jalani telah berlalu.

Bali, 07 April 2020

Jeffrey Wibisono V.

Telah dipublikasikan di

Share this:

Pagebluk COVID-19 dan Kecanggungan Kita Menjaga Diri

Pagebluk dengan nama awal 2019-nCoV dan sekarang disebut Coronavirus Disease 2019 dipendekkan menjadi  COVID-19. Secara historis kitamulai dengan Kota Wuhan dan belasan kota lainnya di Provinsi Hubei telah dikarantina sejak 23 Januari 2020 lalu. Kemudian karantina seluruh provinsi Hubei di negara Cina daratan yang berpopulasi hampir 60 juta. Popularitas kota Wuhan dalam sekejap mampu menggiring berbagai reaksi terhadap penanggulan wabah ini. Kemudian membuat dunia jungkir-balik dalam hitungan hari.

Berbagai negara salah satunya Indonesia mulai 5 Februari 2020 melakukan pelarangan pengunjung masuk dari Tiongkok. Selanjutnya diikuti pembatalan beberapa penerbangan internasional. Pastinya sebagian besar digerakkan secara komersial, karena rendahnya jumlah penumpang (load factor). Selanjutnya, beruntun dalam beberapa minggu terakhir ini kita mendapat pengumuman penundaan sampai ke pembatalan berbagai acara acara olahraga, misi dagang,  kongregasi religius, dan ziarah keagamaan di luar negeri.

Pada 11  Maret 2020 WHO – World Health Organization akhirnya mendeklarasikan pandemi global secara resmi disampaikan oleh Direktur Jendralnya Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus . Momentum yang tepat?  WHO mendesak negara-negara diseluruh dunia untuk menunjukkan solidaritas dan menghindari celaan/stigmatisasi. Organisasi Palang Merah dunia-pun turun tangan untuk mengajarkan kita di seluruh dunia cara mencuci tangan yang benar. Buat saya ini hal yang ironis di era semua industri saling kejar-kejaran meng-aplikasi-kan AI – Artificial Intellegence memberdayakan robot sebagai rekan kerja.

Menjelang tengah malam 13 Maret 2020,  Amerika Serikat menutup semua perbatasannya, memblokade, menghentikan semua perjalanan masuk dari Eropa  selama 30 hari untuk memerangi ‘virus asing’, (tetapi tidak dari Inggris). Italia sepenuhnya disegel, India telah membatalkan hampir semua visa masuk (termasuk untuk orang India yang berkewarganegaraan asing) dan menutup perbatasan Myanmar. Thailand  telah membatalkan visa kedatangan pada 18 negara dengan persyaratan karantina sendiri untuk beberapa warga negara.Thailand membutuhkan asuransi sebesar US $ 100.000 dari beberapa warga negara.

Ketika COVID-19 merebak di luar kendali di provinsi Hubei.  Cina mengambil tindakan karantina, melakukan intervensi militer, dan mengeluarkan instruksi larangan bepergian.

Pertanyaannya sekarang, untuk Indonesia dan Bali sebagai pintu masuk pariwisata internasional khususnya. Bagaimana cara menangkal masuk dan menyetop penyebaran COVID-19 yang kita sebut superspreader ini?

Yang saya mengerti, sosialisasi dan pemahaman perihal superspreader tidak merata. Tidak sampai ke masyarakat.

Baik, sekarang apa sebenarnya superspreader ini?

Begini yang seharusnya kita ketahui, pahami dan lakukan kemudian. “Setiap Orang Bisa Cegah Penularan Lebih Lanjut”. DanIndonesia “harus belajar” dari pola penyebaran COVID-19 di negara-negara lain yang “bermula dari satu orang saja.

Superspreader adalah sebutan bagi orang yang menyebabkan orang lain sakit dengan jumlah yang jauh lebih banyak dari biasanya (Stein, 2011). Data menyebutkan bahwa orang yang sakit COVID-19 dapat menyebabkan 2-3 orang lain sakit (WHO, 2020). Namun, seorang superspreader COVID-19 dapat menularkan 10 orang sampai puluhan kali lipat dibanding orang biasa.

Mohon ijin, saya mengambil contoh kasus ITALIA

Pasien #1 (pertama) di wilayah Lombardia

Pasien pertama di wilayah  Lombardia ini bertemu dengan temannya yang baru pulang dari Tiongkok pada tanggal 21 Januari.

Pada tanggal 14 Februari, pasien ini mulai sakit dan pergi ke dokter umum.

Pada tanggal 16 Februari, kondisinya memburuk dan ia pergi ke rumah sakit (RS). Namun tidak ada perlakuan khusus bagi pasien ini, ia dirawat layaknya pasien biasa. Baru beberapa hari kemudian ia terkonfirmasi positif COVID-19.

Namun sebenarnya saat itu sudah terlambat.

Karena pasien ini tidak diisolasi sejak awal, pasien-pasien dan staf di RS tempat ia dirawat juga terinfeksi. Pasien ini juga dilaporkan memiliki kehidupan sosial yang aktif dan berinteraksi dengan banyak orang sebelum dirawat di RS.

Akhirnya, puluhan orang sakit karena kontak dengannya, yang kemudian menularkan ke orang-orang lainnya selama berminggu-minggu. Sampai sekarang, wabah di Italia masih belum terkendali, dan sudah menyebar ke seluruh Eropa. Pasien pertama di Lombardia terkonfirmasi tanggal 21 Februari. Perhatikan bagaimana jumlahnya melonjak tajam sesudah itu.

Efek domino Italia di Eropa:

Bagaimana wabah di Italia diikuti oleh wabah di berbagai negara di Eropa beberapa hari sesudahnya.

Kasus superspreader di Italia terjadi karena kegagalan sistem kesehatan dalam melakukan pengawasan yang lebih ketat terhadap kemungkinan masuknya COVID-19 dan ketidaktahuan pasien #1 di Lombardia bahwa kontak dengan orang yang pernah melakukan perjalanan dari Tiongkok merupakan faktor risiko seseorang untuk terkena COVID-19.

Lalu untuk Indonesia!

Bagaimana cara penanganan kita terhadap Covid-19 ini telah disorot dunia.

Dapatkah kita membangun kembali kepercayaan dunia terhadap industri pariwisata yang kita unggulkan dengan menyebut pariwisata budaya?

Apakah social media influencer dan blogger mampu merubah cara pandang traveler dunia terhadap Indonesia dan Bali pada khususnya?

Dan bagaimana penduduk lokat, hotel, maskapai penerbangan dan sarana transportasi di Indonesia yang dinilai lamban merespon tantangan ini?

Sehingga kalau saya menggunakan Pitutur Jawa bisa saya ambil dari Serat Kalatidha karya Raden Ngabehi Ronggowarsito yang mengatakan Ewuh Aya Ing Pambudi yang bahasa Indonesia-nya “serba ribet dalam bertindak”. Informasi yang tidak tepat, cerita tentang COVID-19 yang menjadi bahan olok-olok-an dan berpikiran bahwa COVID-19 ini didramatisir. Bahkan individu-individu yang secara terang-terangan seolah memproklamirkan dirinya “COVID-19, please challenge me!”.

Namun demikian, mari kita simak pula kutipan pesan moral dari wolak-walik-e jaman pada bait yang lain, seperti yang tertulis sebagai berikut ini :

Ikhtiyar iku yekti

Pamilihing reh rahayu

Sinambi budidaya

Kanthi awas lawan eling

Kanthi kaesthi antuka parmaning”

Berikhtiar itu Wajib

untuk memilih jalan yang baik

Sembari berusaha

Juga Harus berhati-hati dan waspada

Agar mendapat rahmat-Nya

Satu pesan ajaran yang sangat baik bagi kita. Bahwa untuk menuju dan mendapatkan jalan atau tujuan yang baik kita wajib untuk berusaha. Bukan hanya dalam lamunan. Sebaliknya pula, segala apa yang kita usahakan juga selayaknya ditujukan untuk tujuan yang baik, dibarengi dengan kewaspadaan dalam menjalaninya. Sehingga segala apa yang kita upayakan dan kerjakan senantiasa mendapat rahmat dan keberkahan dari Yang Maha Kuasa.

Saya rasa dan saya pikir ini juga salah satu inti dari ajaran tentang makna hidup dalam kita menyikapi COVID-19 ini.

Introspeksi Diri

Kontemplasi saya untuk mengambil hikmah dari perlambatan bisnis dan matapencaharian kali ini adalah menjadi sadar diri. Kita diajak untuk duduk diam, berpikir dan instrospeksi.

Ada ajakan untuk kembali ke keluarga, diam di rumah, berinteraksi dilingkungan kecil dan saling menjaga.  Saatnya sinkronisasi dan harmonisasi.

Untuk pekerja di perusahaan-perusahaan maju, diminta WFH – Work From Home. Disini pemberdayaan kecanggihan peralatan elektronik dan digital dimaksimumkan. Sehingga untuk pertemuan perusahaan cukup dengan sarana video-call.

Bagaimana dengan transaksi perdagangan domestik? Pastinya virtual mobile payment sangat membantu untuk membatasibersentuhan dengan mata uang fisik yang bisa kita curigai sebagai vector dan carrier COVID-19.

Hari ini, mari kita tunggu keputusan pemerintah Indonesia selanjutnya.

Pada dasarnya masyarakat diminta untuk tetap tenang.

Tetapi “Kita harus jujur dan berani seperti Duterte, Presiden Philipina yang mengakui bahwa Rumah Sakit  di negaranya belum siap menampung korban yang melonjak. Sehingga ia mengambil langkah pencegahan yang maksimal,” kata Ketua Umum Partai Bulan Bintang (PBB), Yusril Ihza Mahendra di akun Twitternya, Kamis (12/3).

Manila dikabarkan akan dinyatakan sebagai kota tertutup atau lockdown oleh Presiden Filipina, Duterte untuk menyelamatkan warganya dari ancaman virus corona baru atau Covid-19. Karena fasilitas RS di Manila tidak siap menampung lonjakan penderita Covid-19.

Siapkah kita melakukan langkah darurat untuk mencegah penularan lantaran setiap hari pasien positif corona terus bertambah? Mari kita monitor dari

https://www.worldometers.info/coronavirus/#countries

Apakah kita harus menunggu sampai kita “tidak mampu lagi melakukan penanggulangan?”

Saya hanya selalu memohon dan berdoa yang terbaik. Semoga pagebluk pandemi COVID-19 ini segera berlalu. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump pernah berucap, bahwa bulan April 2020, COVID-19 akan berakhir dengan sendirinya.

Bali, 13 Maret 2020

Jeffrey Wibisono V.

narasumber https://jeffreywibisono.com/pagebluk-covid-19-dan-kecanggungan-kita-menjaga-diri/

Share this: