Ora Keris Ora Keras dalam Prinsip Kepemimpinan

Apa Ora Keris Ora Keras ini?

Terjemahan bebas ke dalam bahasa Indonesia secara harafiah bisa diartikan Tidak Tajam Tidak Keras.

Tetapi apa makna lebih dalam dari kata bijak Jawa ini?

Ora Keris Ora Keras ini sangat diperlukan oleh seorang pemimpin dalam proses mengambil keputusan untuk kepentingan orang banyak. Bisa juga dimasukkan dalam kategori leadership. Ora Keris dalam pengertian tidak mempergunakan senjata, sedangkan Ora Keras dalam pengertian bertindak TEGAS tanpa kekerasan tanpa pemaksaan.

Bagaimana caranya?

Pertama kita harus memahami terlebih dahulu arti kata TEGAS.

Dari Kamus Besar Bahasa Indonesia dapat kita temukan maknanya

1. jelas dan terang benar; nyata:

2 tentu dan pasti (tidak ragu-ragu lagi, tidak samar-samar):

3 tandas:

Dalam terjemahan bahasa Inggris nya bisa disejajarkan dengan kata assertive.

Kemudian tipe-tipe kepemimpinan, disini hendak saya kutip dari tulisan saya di buku Hotelier Stories Catatan Edan Penuh Teladan dari sub judul no 14 Manajemen dan Pemimpin.

Dari eksistensi beberapa tipe manajemen, kemudian terbentuk tipe-tipe pemimpin yang bisa saya kelompokkan sesuai kinerja dan corporate culture-nya.

Saya pernah menjadi bagian dari suatu team kerja yang buat saya tidak menyenangkan. Kepala divisi saya sering tanpa sadar menjadikan salah satu rekan kerja saya “kesayangan” di tengah-tengah suatu tim. Tipe pemimpin yang menjalankan favoritisme. Saya paham ini bisa terjadi karena suatu hubungan mutualisme seorang pemimpin. Kepala divisi tersebut sering tidak mempedulikan hasil kerja anggota tim lainnya. Tipe kepemimpinan seperti ini pastinya membuat saya dan rekan kerja lainnya merasa dinilai tidak “fair”. Tipe kepala divisi seperti itu akan mudah mendapat penilaian negatif dan akan ditinggalkan anggota tim kerja lainnya silih berganti.

Saya paham betul, seorang pemimpin bisa saja salah rekrut memperkerjakan seseorang yang kemampuannya tidak sesuai harapan. Itupun sering juga terjadi pada diri saya yang orangnya tidak tegaan. Membuat keputusan untuk memberi kesempatan sekali lagi dan mempertahankan staff tanpa potensi itu. Tipe pemimpin yang mempertahankan karyawan tidak berpotensi. Saya masih berharap agar dia bisa berkembang. Tetapi pada kenyataannya keputusan-keputusan seperti ini justru menghambat perkembangan dan memberatkan tim. Wadooohhhh … Salah lagi!.

Saya yang sekarang sudah boleh dibilang sebagai pemimpin, pasti kadang-kadang akan ikut campur tangan di beberapa wilayah pekerjaan. Akan OK kalau sesekali saja. Tapi kalau terjadi terus menerus involve, tipe pemimpin yang ikut campur tangan akan membuat stress staff toh?! Saya menyadari benar situasi seperti yang pernah terjadi di masa saya masih bekerja sebagai staff operasional level rendahan. Kalau pemimpin tidak bisa memberikan kepercayaannya kepada orang lain mari kita tinggalkan saja. Bekerja itu kan harus saling respek. Staff dengan tingkatan pangkat terendah pun membutuhkan pengakuan terhadap hasil kerjanya.

Lalu pernahkah Anda mengenal seseorang yang masih memikirkan karirnya sendiri ketika menjabat pimpinan puncak?

Dia hanya lebih memikirkan bagaimana cara menarik perhatian pemilik perusahaan dan dewan direksi. Tipe pemimpin yang meletakkan pekerja di prioritas terendah. Akibatnya, kesejahteraan lahir batin staff akan berada di urutan paling bawah di dalam daftar prioritasnya. Staff tidak lagi dianggap penting. Maka janganlah heran bila banyak pekerjaan mulai terbengkalai dan tidak produktif.

Kemudian ada juga tipe pemimpin yang hanya fokus pada angka. Saya kenal beberapa pemimpin yang terus-menerus terfokus pada angka dibandingkan individu. Seseorang yang lebih memikirkan jumlah pemasukan dan peningkatan laba perusahaan, serta lebih memilih untuk memperhatikan peningkatan statistik dan kelengkapan data-data. Seseorang yang lebih peduli dengan rencana-rencana yang ada di spreadsheet-nya, dibandingkan melakukan tindakan nyata dengan memberdayakan staffnya melakukan human touch.

Mungkin saya pernah di posisi sebagai seorang pemimpin yang berpikir bahwa pekerjaan saya adalah untuk mengetahui seluruh jawaban dan terus-menerus. Kemudian saya mencoba untuk menyelesaikan seluruh pertanyaan dari para staff sesering mungkin. Namun satu hal yang patut disadari adalah pemimpin yang tahu semua jawaban semakin sering sang pemimpin menjawab, maka dia akan semakin memperkecil kesempatan para staff untuk berkembang di perusahaan. Maka tindakan nyata saya selanjutnya adalah mendelegasikan pekerjaan, kemudian mengontrolnya.

Kini saya mafhum, paham tentang tipe manajemen dan tipe pemimpin yang sangatlah kompleks. Saya tidak bisa mengatakan mana paling baik, paling benar dan paling tepat. Saya percaya kepada pemberdayaan sumber daya manusia melalui pelatihan, delegasi dan kontrol. Ini karena saya pribadi mempunyai misi regenerasi. Sumber daya manusia yang saya kelola harus lebih unggul dan mumpuni dibandingkan seniornya. Fondasi ilmu yang ada harus diaplikasi dan dikembangkan sesuai zamannya.

Praktek idealisme saya adalah trust, ya… trust. Berikan kepercayaan kepada seseorang untuk melakukan tugasnya dan mempertanggungjawabkan hasilnya. Pemimpin harus kembali kepada role “make the job done through other people. Delegating is good, controlling is better”. Empowerment. Kebanggaan seseorang akan suatu keberhasilan yang diapresiasi dan diakui menciptakan motivasi positif. Jangan pelit memberi pujian dan rewards kepada yang berhak mendapatkannya. Inisiatif suatu pergerakan karena perlakuan timbal balik antar pemimpin dan staffnya.

Apakah saya sendiri sudah menjalankan ini dengan sempurna?

Baiklah, kembali kepada cara saya menjalankan Ora Keris Ora Keras di dalam tipe kepemimpinan saya adalah dengan cara mempergunakan panduan yang sudah tersedia, bahkan bisa dibuat tambahannya bersama team.

Nomer satu adalah sistem appraisal atau penilaian SKILL, APTITUDE dan ATTITUDE karyawan secara berkala harian, mingguan, bulanan bahkan sampai setiap tahun. Sitem penilaian kinerja SDM ini harus mengacu kepada Buku Panduan Operation Manual. Di dalam manual ini terdapat Policy & Procedure (P&P), Standard Operating Procedure (SOP).dan basic Job Description.

Maka parameter penilaiannya jelas dan ini bisa disebut tegas. Meminimumkan unsur subyektif like and dislike,

Bagaimana kalau ada pelanggaran karyawan di dalam waktu-waktu operasional?

Menimba dari pengalaman saya memimpin beberapa perusahaan; kalau suatu pelanggaran indisipliner berhubungan dengan kasus-kasus Ketenagakerjaan; maka pedoman atau panduan yang harus dipergunakan untuk mengambil suatu tindakan normatif, kebijakan dan keputusan tegas dan legal adalah berdasarkan Peraturan Perusahaan yang disahkan oleh Pejabat Kantor Dinas Departemen Tenaga Kerja dan Kesepakatan Kerja Bersama sesuai undang-undang.

Solutif?

Pada akhirnya perlu kita semua pahami, bahwa setiap keputusan berawal dari niat dan keberpihakan.

Kalau seorang pemimpin memiliki niat yang baik dan berpihak pada kepentingan orang banyak dan menjalankan dengan tegas wewenang yang dimilikinya dengan memperhatikan rambu-rambu jabatan, maka semua keputusan dan tindakan yang diambilnya akan tetap sebenar-benarnya dan sebaik-baiknya selaras dengan jalur ekosistem mediasi demi kesejahteraan perusahaan, karyawan dan manajemen.

Bali, 27 September 2020

Jeffrey Wibisono V. @namakubrandku

Hospitality Consultant Indonesia in Bali Jeffrey Wibisono V. namakubrandku Telu Learning Consulting Writer Copywriter
Ora Keris Ora Keras Prinsip Kepemimpinan Leadership
Share this:

Ketentuan seragam karyawan hotel

Seragam

Dalam beberapa forum konsultasi, ketika seorang pimpinan perusahaan mengucapkan kata integrity, yang saya lakukan pertama kali adalah memperhatikan seragam karyawannya mulai dari alas kaki sampai ke tatanan rambut. Buat saya seragam ini termasuk di dalam paket pembentukan karakter, grooming and hygiene semua karyawan.

Mengapa?

Karena karyawan adalah brand ambassador perusahaan, yaitu pasukan terdepan yang membuat brand kita terkenal, memenangkan persaingan pasar. Ini bagian dari aktivitas marketing/pemasaran, brand activation dan product positioning. Saya sangat serius dalam hal seragam ini, dari pemilihan warna, desain, motif dan bahan. Kita dapat memperhatikan kepercayaan diri seorang karyawan meningkat ketika sedang berseragam dan berada di wilayah kerjanya. Ini dikarenakan si karyawan mengenakan busana yang tepat, nyaman dipakai dan mengangkat harga dirinya. Berlaku pada semua jenjang jabatan.

Menurut saya, manajemen perusahaan melalui pimpinan tertingginya, harus mampu menterjemahkan filosofi logo perusahaannya. Salah satunya adalah diterjemahkan ke dalam pemilihan desain dan warna seragam sebagai satu kesatuan utuh dari suatu brand. Ini brand promise yang harus di deliver ke publik.

Nah dari disinilah kemudian yang bisa saya analisa keseriusan suatu perusahaan terhadap integritas karyawan dan kredibilitas pimpinan tertinggi perusahaan dalam hal memperhatikan kesejahteraan karyawannya sebagai aset. Pernah dengar kan teman-teman kalau karyawan itu adalah mesin uang perusahaan dan perlu perawatan supaya mesinnya tidak sampai macet?

Jadi urusan seragam adalah kebutuhan premier supaya selaras antara brand promise dengan kebutuhan customer kita.

#BrandStrategy perusahaan kita harus menerapkan visi, misi dan value organisasi. Kita mempunyai tugas untuk memastikan bahwa visi, misi, value ini diterjemahkan dan dikomunikasikan dengan tepat dan akurat ke semua karyawan. Dari jabatan tertinggi sampai terendah. Banyak perusahaan yang mengabaikan hal ini. Sangat disayangkan kalau kemudian seragam permanen yang diberikan hanya berupa polo-shirt.

Alangkah sulitnya kemudian ketika pimpinan perusahaan menuntut integritas karyawan, tetapi pimpinannya sendiri belum memenuhi sarana pendukung utamanya. Dalam hal ini seragam yang layak sebagai brand image termasuk fungsi kontrolnya.

#BrandPromise, #vision, #MissionStatement dan #values milik kita harus mantap. Proses pencipattan Brand pun harus sangat bersungguh-sungguh, serius, matang dan melibatkan tim kerja. Ini kita sudah sampai berbicara satu konsep dan sekali lagi filosofi seragam sebagai bagian integral yang mewakili perusahaan untuk berhadapan dengan customer dan mata publik.

Dalam suatu perdebatan saya pernah berkata, seragam tidak memberi imbas langsung terhadap revenue/omzet/ pendapatan perusahaan. Tetapi seragam adalah asesori penting yang harus dipasang untuk memberikan nilai jual lebih terhadap produk yang ditawarkan. Masih ingat dengan pemilihan kertas untuk business card atau kartu nama? Ya! Dari kualitas kartu nama tersebut sudah ketahuan kualitas produk yang ditawarkan ke calon customernya. Dan kartu nama adalah bagian dari seragam.

Dari beberapa sesi konsultasi, saya sampai saat ini masih menemukan banyak perusahaan berpedoman bahwa brand itu adalah external promise, walau sebenarnya brand adalah internal promise. Ini adalah misi dan corporate culture kita. Lead by example bahasa kerennya

Akhir kata, Branding harus dimiliki oleh semua orang di dalam lingkup suatu organisasi. Kita harus menyukainya, memilikinya dan menjadikannya bagian dari nafas keseharian kita!

#brandambassadors #uniform #leadership #branding

Bali, 8 February 2020

Jeffrey Wibisono V.

Jeffrey Wibisono V. @namakubrandku
Hospitality Consultant Indonesia in Bali -  Telu Learning Consulting – Commercial Writer - Copywriter - Jasa Konsultan Hotel
Jeffrey Wibisono V. @namakubrandku
Hospitality Consultant Indonesia in Bali -  Telu Learning Consulting – Commercial Writer - Copywriter - Jasa Konsultan Hotel
Share this: