Mengubah Episode Krisis COVID-19, Menjadi Peluang

PERIHAL pertama yang harus kita lakukan adalah merubah mindset, mulai berpikir dan mengakui terlebih dahulu, bahwa dunia akan sangat berbeda dari dunia sebelumnya, — setelah krisis COVID-19 berlalu. Serba digital, mulai dari kebersihan dan sanitasi, panduan informasi atau terminologinya compendium,  sampai ke transaksi bisnis mikro.

Bisnis travel & tourism – perjalanan dan pariwisata adalah salah satu sektor ekonomi yang terpuruk akibat krisis Corona saat ini. Mari kita pastikan bisnis travel & tourism ini akan terus berlanjut, baik  untuk jangka pendek, menengah dan jangka panjang. Tertunya kita paham kalau tidak ada tourism  tanpa travel. Pada dua kuartal di tahun 2020 ini, secara bertahap sampai mencapai tingkat global, perjalanan dan pergerakan manusia berhenti total akibat Coronavirus.

Tantangan untuk sektor bisnis  perjalanan dan pariwisata adalah bagaimana berkontribusi dan memimpin transformasi –seluruh masyarakat– memasuki dan menjalani era ekonomi baru, era pasca Coronavirus.

Pertanyaan saya adalah, bagaimana kemudian kita bisa mendapatkan dana untuk penyelamatan bisnis dan revitalisasi perusahaan?

Perusahaan yang dimaksud disini adalah industri perjalanan dan pariwisata, termasuk maskapai penerbangan, perusahaan pelayaran, agen perjalanan, dan operator tur juga perhotelan.

Kesehatan ekonomi — secara menyeluruh — satu-satunya cara bagi sektor travel & tourism untuk tumbuh dan mendapatkan manfaat. Suatu tantangan yang tidak hanya mampu membawa kita ke pemulihan yang sehat, tetapi juga memindahkan kita ke dunia yang berbeda. Dunia yang lebih maju dan makmur, dunia yang lebih baik.

Krisis COVID-19 memiliki dua fase berbeda;

  1. Fase  #DiRumahAja / Karantina Mandiri: Mengurung dan menahan diri untuk menjaga diri sendiri dan orang lain supaya tetap sehat dan hidup.  Tantangan berat dari segi  kesehatan massa yang memberi dampak langsung saat ini.
  2. Fase pemulihan: Persiapan yang strategis dan penuh perhitungan untuk mengatasi dan  harus dapat menjamin dampak serius dari krisis ekonomi, sosial dan lapangan pekerjaan.

Menurut saya, kita sekarang harus mulai merencanakan dan mempersiapkan fase ke-dua dan biayanya, dengan memperhitungan keterlibatan dan kebijakan pemerintah pusat dan pemerintah daerah.

Mengingat kerusakan ekonomi besar-besaran telah terjadi pada fase #DiRumahAja, dampaknya sudah bisa dipastikan akan mempengaruhi pencapaian pada fase pemulihan. Masa yang diperhitungkan mulai dari status under-control diumumkan.

Kita semua tentunya berharap, sementara kita bekerja dengan status WFH – Work From Home, kita harus tetap berprestasi di luar lingkup kerja dalam kondisi normal. Saling berbagi wawasan positif  akan sangat membantu menguatkan dan meyakinkan secara mental juga pemikiran, bahwa kita masih punya team-work dalam perjuangan pada fase #DiRumahAja saat ini.

Mengacu pada fase #DiRumahAja, dampak negatif-nya, kita dalam posisi sedang limbung, bingung menghadapi dan mengatasi permasalahan yang sedang berlangsung. Buat saya pribadi kita perlu menyoroti

  • Kondisi finansiil atau keuangan perusahaan
  • Kondisi ketidakpastian akan lapangan pekerjaan dan penghasilan yang berkesinambungan
  • Strategi taktis dan kreatif dalam hal pemasaran dan penjualan
  • Tindakan proaktif untuk menjemput bola
  • Ber-empati, turun tangan membantu pekerja dan masyarakat terdampak yang sudah semakin kecil kesempatannya untuk berpenghasilan.

Mohon ijin, untuk mempersiapkan masuk ke fase recovery, saya mengutip  dari situs resmi  The World Tourism Organization (UNWTO).

Perlu kita ketahui,  bahwa komite krisis COVID-19 memasang target untuk recovery/ pemulihan travel & tourism,  pariwisata global, melalui tiga cakupan makro antara lain:

  1. Healing for people – Solusi yang berfokus pada langkah-langkah keselamatan, metode sanitasi, deteksi dini, antara lain untuk pariwisata dan travel-related stakeholders – suatu pedoman untuk dipergunakan oleh wisatawan, pekerja pariwisata, operasional perhotelan, agen perjalanan, tour-operator, transportasi, taman hiburan, dll.
  2. Healing for prosperity – Solusi yang difokuskan pada aplikasi digital untuk pariwisata, sharing-economy, circular-economy, manajemen pendapatan, pemulihan permintaan, dan investasi. Di antara bidang-bidang lainnya, akan diterapkan untuk seluruh sektor strategi jangka pendek dan jangka panjang.
  3. Healing for destinations – Solusi yang difokuskan pada teknik pemulihan untuk destinasi: komunikasi krisis, manajemen krisis, mobilitas, re-branding destinasi pariwisata, pemulihan travel-confidence, di antara bidang terkait lainnya.

Lalu kapan status under-control  ini dideklarasikan oleh pemerintah?

Berapa hari lagi atau berapa bulan lagi?

Semoga bulan Juni 2020 kita bisa memulai pergerakan bisnis lagi mengacu pada Surat Keputusan Kepala BNPB Nomor 13.A tahun 2020 tentang Perpanjangan Status Keadaan Tertentu Darurat Bencana Wabah Penyakit akibat Virus Corona di Indonesia yang berlaku selama 91 hari terhitung sejak tanggal 29 Februari – 29 Mei 2020.

Secara ilmu sales and marketing  perhotelan – dimana saya sebagai salah satu praktisi yang terlibat langsung dalam pemulihan bisnis pasca bom Bali pertama – proses pemulihan bisnis ini seperti yang tercantum di contract rate luring/ offline antara hotel vs biro perjalanan yang berhubungan dengan seasons/ musiman, yaitu Low, Shoulder, High, Peak. Ada empat (4) tahapan untuk bisa kembali kepada hasil bisnis yang sangat positif di tahun 2019 lalu bagi semua sektor bisnis yang terpuruk saat ini

Prediksi saya, dari status under-control di umumkan atau di deklarasikan, bisnis kita memasuki tahap pertama, yaitu Low Season. Jangka waktunya bisa dari enam (6) sampai sembilan (9) bulan.

Mengapa demikian?

Karena pada 6 sampai 9 bulan pertama perjalanan pasca-coronavirus ini adalah jangka waktuuntuk menawarkan harga promosi yang dibuat oleh sektor industri travel & tourism. Mari jangan segan-segan membuat harga promosi yang berlaku untuk jangka waktu terbatas dan penawarannya sampai pada tingkat tidak bisa ditolak lagi oleh potential travelers. Sebenarnya, target market  disini adalah para traveler  yang nekad “first to fly” dan traveling kembali menjadi keharusan bagi golongan kelas ekonomi kuat. Saya menyebutnya The Have and The Rich.

Peluang ini harus kita ciptakan dengan menempatkan dan mempraktekkan secara konsisten  aturan baru dalam hal passenger / guest handling dalam hal Hygiene & Sanitation for passengers’ health concern, modifikasi standar customer service untuk meyakinkan pasar yang lebih luas lagi untuk membangun travel confidence.

Dalam perjalanan bisnis enam (6) bulan pertama, kita bisa bersiap dengan strategi pemasaran memasuki Shoulder Season.

Di tahap 6 sampai 9 bulan kedua ini, kita sudah mulai bisa men-targetbusiness danfrequent traveler. Mereka-mereka yang mempunyai cukup uang untuk membiayai kehidupan sehari-harinya. Biasanya kita menyebut kelompok menengah ke atas.

Selanjutnya ke tahap bisnis yang lebih sehat, High Season pada 6 sampai 9 bulan ke-tiga.

Jadi, pada tahap ke-tiga ini, magnet travel & tourism sudah mulai menarik para pelaku perjalanan yang telah lama harus menahan diri karena dipaksa oleh situasi.  Perjalanan bisnis tentunya sebagian besar akan kembali normal, atau setidaknya mendekati normal kalau diprediksi mengacu pada hasil sukses tahun 2019. Sepertinya di tahap ke-tiga ini a new normal akan kita  dapatkan.

Akhirnya, tahap ke-empat pada 6 sampai 9 bulan setelah High Season selanjutnya si Peak Season ini yang kita tunggu-tunggu. Sudah waktunya sektor industri travel & tourism menikmati kembali volume lalu lintas bisnis massal dengan intensitas tinggi dan bikin orang sibuk seperti pada masa sebelum wabah COVID-19 mendunia.

Harap selalu diingat, bisnis travel & tourism termasuk hospitality industry bisa kembali normal hanya melalui team-work, kebersamaan yang solid dalam menciptakan suatu destinasi yang sehat, aman dan nyaman untuk menembus reputasi bisnis kelas dunia.

Semoga dalam perjalanan pemulihan bisnis pasca wabah COVID-19,  tidak ada lagi bencana kelas dunia. Orang bijak punya kalimat “Always expect the worst”, kita harus belajar dari kondisi saat ini terutama dalam me-manage reserved fund untuk menangani kondisi darurat.

Salam sehat dari saya dan semoga kita menjadi berkat bagi sesama dan dunia.

Bali, Senin, 13 April 2020

Jeffrey Wibisono V.

Mengubah Episode Krisis COVID-19, Menjadi Peluang

Juga di publikasikan di

Share this:

Pagebluk COVID-19 dan Kecanggungan Kita Menjaga Diri

Pagebluk dengan nama awal 2019-nCoV dan sekarang disebut Coronavirus Disease 2019 dipendekkan menjadi  COVID-19. Secara historis kitamulai dengan Kota Wuhan dan belasan kota lainnya di Provinsi Hubei telah dikarantina sejak 23 Januari 2020 lalu. Kemudian karantina seluruh provinsi Hubei di negara Cina daratan yang berpopulasi hampir 60 juta. Popularitas kota Wuhan dalam sekejap mampu menggiring berbagai reaksi terhadap penanggulan wabah ini. Kemudian membuat dunia jungkir-balik dalam hitungan hari.

Berbagai negara salah satunya Indonesia mulai 5 Februari 2020 melakukan pelarangan pengunjung masuk dari Tiongkok. Selanjutnya diikuti pembatalan beberapa penerbangan internasional. Pastinya sebagian besar digerakkan secara komersial, karena rendahnya jumlah penumpang (load factor). Selanjutnya, beruntun dalam beberapa minggu terakhir ini kita mendapat pengumuman penundaan sampai ke pembatalan berbagai acara acara olahraga, misi dagang,  kongregasi religius, dan ziarah keagamaan di luar negeri.

Pada 11  Maret 2020 WHO – World Health Organization akhirnya mendeklarasikan pandemi global secara resmi disampaikan oleh Direktur Jendralnya Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus . Momentum yang tepat?  WHO mendesak negara-negara diseluruh dunia untuk menunjukkan solidaritas dan menghindari celaan/stigmatisasi. Organisasi Palang Merah dunia-pun turun tangan untuk mengajarkan kita di seluruh dunia cara mencuci tangan yang benar. Buat saya ini hal yang ironis di era semua industri saling kejar-kejaran meng-aplikasi-kan AI – Artificial Intellegence memberdayakan robot sebagai rekan kerja.

Menjelang tengah malam 13 Maret 2020,  Amerika Serikat menutup semua perbatasannya, memblokade, menghentikan semua perjalanan masuk dari Eropa  selama 30 hari untuk memerangi ‘virus asing’, (tetapi tidak dari Inggris). Italia sepenuhnya disegel, India telah membatalkan hampir semua visa masuk (termasuk untuk orang India yang berkewarganegaraan asing) dan menutup perbatasan Myanmar. Thailand  telah membatalkan visa kedatangan pada 18 negara dengan persyaratan karantina sendiri untuk beberapa warga negara.Thailand membutuhkan asuransi sebesar US $ 100.000 dari beberapa warga negara.

Ketika COVID-19 merebak di luar kendali di provinsi Hubei.  Cina mengambil tindakan karantina, melakukan intervensi militer, dan mengeluarkan instruksi larangan bepergian.

Pertanyaannya sekarang, untuk Indonesia dan Bali sebagai pintu masuk pariwisata internasional khususnya. Bagaimana cara menangkal masuk dan menyetop penyebaran COVID-19 yang kita sebut superspreader ini?

Yang saya mengerti, sosialisasi dan pemahaman perihal superspreader tidak merata. Tidak sampai ke masyarakat.

Baik, sekarang apa sebenarnya superspreader ini?

Begini yang seharusnya kita ketahui, pahami dan lakukan kemudian. “Setiap Orang Bisa Cegah Penularan Lebih Lanjut”. DanIndonesia “harus belajar” dari pola penyebaran COVID-19 di negara-negara lain yang “bermula dari satu orang saja.

Superspreader adalah sebutan bagi orang yang menyebabkan orang lain sakit dengan jumlah yang jauh lebih banyak dari biasanya (Stein, 2011). Data menyebutkan bahwa orang yang sakit COVID-19 dapat menyebabkan 2-3 orang lain sakit (WHO, 2020). Namun, seorang superspreader COVID-19 dapat menularkan 10 orang sampai puluhan kali lipat dibanding orang biasa.

Mohon ijin, saya mengambil contoh kasus ITALIA

Pasien #1 (pertama) di wilayah Lombardia

Pasien pertama di wilayah  Lombardia ini bertemu dengan temannya yang baru pulang dari Tiongkok pada tanggal 21 Januari.

Pada tanggal 14 Februari, pasien ini mulai sakit dan pergi ke dokter umum.

Pada tanggal 16 Februari, kondisinya memburuk dan ia pergi ke rumah sakit (RS). Namun tidak ada perlakuan khusus bagi pasien ini, ia dirawat layaknya pasien biasa. Baru beberapa hari kemudian ia terkonfirmasi positif COVID-19.

Namun sebenarnya saat itu sudah terlambat.

Karena pasien ini tidak diisolasi sejak awal, pasien-pasien dan staf di RS tempat ia dirawat juga terinfeksi. Pasien ini juga dilaporkan memiliki kehidupan sosial yang aktif dan berinteraksi dengan banyak orang sebelum dirawat di RS.

Akhirnya, puluhan orang sakit karena kontak dengannya, yang kemudian menularkan ke orang-orang lainnya selama berminggu-minggu. Sampai sekarang, wabah di Italia masih belum terkendali, dan sudah menyebar ke seluruh Eropa. Pasien pertama di Lombardia terkonfirmasi tanggal 21 Februari. Perhatikan bagaimana jumlahnya melonjak tajam sesudah itu.

Efek domino Italia di Eropa:

Bagaimana wabah di Italia diikuti oleh wabah di berbagai negara di Eropa beberapa hari sesudahnya.

Kasus superspreader di Italia terjadi karena kegagalan sistem kesehatan dalam melakukan pengawasan yang lebih ketat terhadap kemungkinan masuknya COVID-19 dan ketidaktahuan pasien #1 di Lombardia bahwa kontak dengan orang yang pernah melakukan perjalanan dari Tiongkok merupakan faktor risiko seseorang untuk terkena COVID-19.

Lalu untuk Indonesia!

Bagaimana cara penanganan kita terhadap Covid-19 ini telah disorot dunia.

Dapatkah kita membangun kembali kepercayaan dunia terhadap industri pariwisata yang kita unggulkan dengan menyebut pariwisata budaya?

Apakah social media influencer dan blogger mampu merubah cara pandang traveler dunia terhadap Indonesia dan Bali pada khususnya?

Dan bagaimana penduduk lokat, hotel, maskapai penerbangan dan sarana transportasi di Indonesia yang dinilai lamban merespon tantangan ini?

Sehingga kalau saya menggunakan Pitutur Jawa bisa saya ambil dari Serat Kalatidha karya Raden Ngabehi Ronggowarsito yang mengatakan Ewuh Aya Ing Pambudi yang bahasa Indonesia-nya “serba ribet dalam bertindak”. Informasi yang tidak tepat, cerita tentang COVID-19 yang menjadi bahan olok-olok-an dan berpikiran bahwa COVID-19 ini didramatisir. Bahkan individu-individu yang secara terang-terangan seolah memproklamirkan dirinya “COVID-19, please challenge me!”.

Namun demikian, mari kita simak pula kutipan pesan moral dari wolak-walik-e jaman pada bait yang lain, seperti yang tertulis sebagai berikut ini :

Ikhtiyar iku yekti

Pamilihing reh rahayu

Sinambi budidaya

Kanthi awas lawan eling

Kanthi kaesthi antuka parmaning”

Berikhtiar itu Wajib

untuk memilih jalan yang baik

Sembari berusaha

Juga Harus berhati-hati dan waspada

Agar mendapat rahmat-Nya

Satu pesan ajaran yang sangat baik bagi kita. Bahwa untuk menuju dan mendapatkan jalan atau tujuan yang baik kita wajib untuk berusaha. Bukan hanya dalam lamunan. Sebaliknya pula, segala apa yang kita usahakan juga selayaknya ditujukan untuk tujuan yang baik, dibarengi dengan kewaspadaan dalam menjalaninya. Sehingga segala apa yang kita upayakan dan kerjakan senantiasa mendapat rahmat dan keberkahan dari Yang Maha Kuasa.

Saya rasa dan saya pikir ini juga salah satu inti dari ajaran tentang makna hidup dalam kita menyikapi COVID-19 ini.

Introspeksi Diri

Kontemplasi saya untuk mengambil hikmah dari perlambatan bisnis dan matapencaharian kali ini adalah menjadi sadar diri. Kita diajak untuk duduk diam, berpikir dan instrospeksi.

Ada ajakan untuk kembali ke keluarga, diam di rumah, berinteraksi dilingkungan kecil dan saling menjaga.  Saatnya sinkronisasi dan harmonisasi.

Untuk pekerja di perusahaan-perusahaan maju, diminta WFH – Work From Home. Disini pemberdayaan kecanggihan peralatan elektronik dan digital dimaksimumkan. Sehingga untuk pertemuan perusahaan cukup dengan sarana video-call.

Bagaimana dengan transaksi perdagangan domestik? Pastinya virtual mobile payment sangat membantu untuk membatasibersentuhan dengan mata uang fisik yang bisa kita curigai sebagai vector dan carrier COVID-19.

Hari ini, mari kita tunggu keputusan pemerintah Indonesia selanjutnya.

Pada dasarnya masyarakat diminta untuk tetap tenang.

Tetapi “Kita harus jujur dan berani seperti Duterte, Presiden Philipina yang mengakui bahwa Rumah Sakit  di negaranya belum siap menampung korban yang melonjak. Sehingga ia mengambil langkah pencegahan yang maksimal,” kata Ketua Umum Partai Bulan Bintang (PBB), Yusril Ihza Mahendra di akun Twitternya, Kamis (12/3).

Manila dikabarkan akan dinyatakan sebagai kota tertutup atau lockdown oleh Presiden Filipina, Duterte untuk menyelamatkan warganya dari ancaman virus corona baru atau Covid-19. Karena fasilitas RS di Manila tidak siap menampung lonjakan penderita Covid-19.

Siapkah kita melakukan langkah darurat untuk mencegah penularan lantaran setiap hari pasien positif corona terus bertambah? Mari kita monitor dari

https://www.worldometers.info/coronavirus/#countries

Apakah kita harus menunggu sampai kita “tidak mampu lagi melakukan penanggulangan?”

Saya hanya selalu memohon dan berdoa yang terbaik. Semoga pagebluk pandemi COVID-19 ini segera berlalu. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump pernah berucap, bahwa bulan April 2020, COVID-19 akan berakhir dengan sendirinya.

Bali, 13 Maret 2020

Jeffrey Wibisono V.

narasumber https://jeffreywibisono.com/pagebluk-covid-19-dan-kecanggungan-kita-menjaga-diri/

Share this:

Recovery Plans – Let’s Go To Indonesia

Memasuki minggu  ke-dua bulan Maret 2020 ini, apakah teman-teman pekerja industri pariwisata dan perhotelan sudah dalam masa tenang atau masih panik dalam menghadapi gempuran berita covid-19 ? Saya disini hendak mengajak teman-teman mengembalikan kepercayaan pasar travelers sambil mengulik dasar-dasar ilmu hospitality yang mungkin sudah banyak ter-modify di jaman now.

Setidaknya ada tujuh (7) fundamen di industri hospitality untuk dikedepankan guna menarik kepercayaan pasar terhadap satu destinasi. Apapun motivasi acara perjalanannya, nomer satu dari ketentuan tersebut adalah travelers punya jaminan pergi-pulang hidup, sehat, selamat dan balik ke rutinitas harian tanpa gangguan apapun sekembalinya dari suatu destinasi.

Dalam hal ini, fundamen mana yang hendak kita kedepankan terlebih dahulu dalam menanggulangi krisis global paranoia yang kita bersinpun menjadi salah.

Tujuh Fundamen dalam hospitality itu adalah

  1. Keramah-tamahan penduduk dan pekerja di industrinya
  2. Jaminan untuk dapat tidur nyenyak selagi beristirahat
  3. Untuk keperluan mandi, ada jaminan air yang bersih, memadai volumenya, dengan temperatur air yang tepat, sehingga menyegarkan
  4. Jaminan kebersihan yang sempurna
  5. Jaminan makanan yang bervariasi, bercita-rasa khas dan higienis
  6. Jaminan keamanan dan keselamatan
  7. Ramah lingkungan

Weekend kemarin, Singapura telah mengedarkan ajakan untuk kembali ke mengunjungi negara tersebut dengan mengedepankan fasilitas kesehatan dan harga-harga termurah yang ditawarkan dalam sepuluh tahun terakhir. Menarik?

Selalu saya katakan, untuk negara satu pulau seperti Singapura, gerbang masuk dari laut, darat dan udara hanya masing-masing satu, cara menanggulanginya pasti jauh lebih mudah. Sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan Indonesia.  Tetapi, tetap kita dapat meniru ke-proaktif-an dan kepiawaian Marketing Singapura dengan Singapore Tourism Board-nya dalam hal menanggulangi krisis yang juga beberapa kali terjadi dan juga berimbas terhadap negara ini. Yang melakukan promosi adalah atas nama negara.

Bagaimana dengan Indonesia. Dalam lingkup kecil, Bali telah mengagendakan action plan nya. Keluar dengan tagline I love Bali Movement. Apakah ini cukup menanggulangi market confident di tengah merebaknya berita virus berkembang biak di beberapa negara di luar Cina?

Untuk saya sendiri yang dalam hal ini mengacu pada banyak petunjuk penanggulangan covid-19 adalah kebersihan, maka Bali masih punya pekerjaan rumah dari beberapa isian check-list yang harus dilengkapi.

Apakah Bali memenuhi syarat sebagai “A Clean Place is A Safe Place”?

Apakah Bali memenuhi syarat sebagai “Balinese clean communities, as Healthy Indonesian citizen” for tourism?

Disini kita semakin paham, bahwa ramah tok ndak cukup, mengedepankan ke-arifan-lokal saja ndak cukup, mempromosikan pariwisata budaya saja ndak cukup. Semua harus bersinergi dalam satu kesatuan yang utuh, bunder ser seperti bola dunia yang terus berputar. Untuk Bali adalah implementasi Tri Hita Karana atau dalam bahasa Inggrisnya Three causes of well-being dalam akulturasi budaya Bali dan agama Hindu dengan tolok ukur-nya yang menyesuaikan jaman, sudah pasti pas.

Selanjutnya saya meninjau jadwal kedatangan dan keberangkatan dari Bandara Internasional Ngurah Rai. Dengan mengabaikan load factor, kedatangan penerbangan domestik dan internasional ada pengurangan, tetapi masih ada. Artinya Bali tidak zero (0) wisnus dan wisman.

Bank Indonesia telah menyampaikan makalah “Outlook Ekonomi Bali 2020” yang disampaikan oleh Bapak Trisno Nugroho pada 6 Maret 2020

Data data yang disampaikan antara lain

  • Total kunjungan wisman ke Bali pada periode  bulan Januari 2020 sebanyak 528.883, atau tumbuh 16,09% (yoy).
  • Total kunjungan wisatawan ke Bali sepanjang Jan – Des 2019 sebesar 6,275 Juta orang atau tumbuh 3,37%(yoy), melambat dibanding tahun 2018 yang sebesar 6,55% (yoy).
  • Sementara itu, total kunjungan wisdom sepanjang 2019 sebanyak 10,55 juta orang  atau tumbuh 8,07% (yoy), lebih rendah dibanding tahun 2018 yang tumbuh 11,70% (yoy)
  • Data Angkasa Pura menunjukkan terjadinya pertumbuhan 18,26% (yoy) arrival wisatawan mancanegara pada Januari 2020. Namun demikian, penyebaran COVID-19 menyebabkan potential loss cukup besar, terindikasi pada sejumlah pembatalan  paket  dan pemesanan kamar di Bali
  • Perekonomian Bali 2020 diperkirakan berada pada range  4,6% – 5%, terkoreksi dari perkiraan sebelumnya (5,6% – 6%)
  • Kontribusi Pariwisata terhadap Ekonomi Bali : 48,4% (berdasarkan Tourism  Satellite  Account)

Berdasarkan semua data yang dipaparkan, maka Bank Indonesia memberikan Rekomendasi Kebijakan antara lain:

  1. Mendorong percepatan implementasi kebijakan stimulus pariwisata Bali
  2. Pembentukan Tim Tanggap COVID-19, pembentukan Central For Diseases Control and Prevention / Crisis Centre & menyusun protokol kesehatan.
  3. Meminimalkan kontraksi pertumbuhan 2020 melalui akselerasi konsumsi pemerintah (percepatan realisasi rencana pembangunan proyek-proyek pemerintah Bali).

Pada akhirnya, secara pribadi saya mohon ijin menggunakan bahasa Bali untuk mengajak kembali kepada keseimbangan terhadap yang hidup, yang menghidupi dan yang menghidupkan.

Ngiring sareng-sareng jage Baline

Semoga semua makhluk berbahagia dan terberkati.

Bali, 8 Maret 2020

Jeffrey Wibisono V.

Bali Recovery Action Plan
Share this: