Pandemi, “Batu Uji” Strategi Sales Marketing Hotel

Kita, hampir memasuki tahun ke-2, berkompromi hidup berdampingan bersama virus COVID-19. Dan sudah banyak upaya yang dilakukan dalam dinamika industri pariwisata. Dari bentukan “pay now, stay later, day pass sampai staycation”.

Sudah saatnya kita bersegera, meningkatkan produktifitas penjualan dimasa  pandemi, — walau pasar diperhitungkan masih lesu–.

Jeffrey Wibisono V. namakubrandku Hospitality Consultant Indonesia in Bali - Telu Learning Consulting – Digimakz - Commercial Writer - Copywriter - Jasa Konsultan Hotel
kontemplasi – Pandemi Batu Uji

Jika kita perhatikan dari sisi ekonomi dan bisnis, periode 2020 ini menjadi masalah besar bagi banyak pengusaha, pekerja dan ekosistem ikutannya. Semua dari sisi penawaran (supply) pihak perusahaan mandeg secara signifikan. Karena tingkat permintaan (demand)  dari masyarakat anjlog juga secara tajam sehingga keseimbangan pasar (equilibrium) goyah.

Hotel, restoran dan unit bisnis yang terkait, kita harapkan mulai menggeliat untuk menutup tahun 2020. Kita melihat sebagian secara berkala membuka kembali usahanya dengan skala yang lebih kecil. Sangat kita pahami, untuk menggerakkan perekonomian rakyat kita perlu volume, belum bisa “mematok” kembali ke harga ideal. Praktis kita mempunyai kesamaan pola keputusan “yang penting jalan dulu”.

Bagaimana terobosannya di saat kondisi pasar menuntut kita untuk menjaga jarak aman?

Pandemi mengharuskan customer dan contact persons berada Di-Rumah-Aja, Work from Home dan menjadi digital nomad. Lantas, siapa yang harus menjadi narahubung untuk melakukan penjualan? Bagaimana cara presentasi sampai close deal-nya, dimana dan kapan harus menemui langganan dan prospek kita?

Walau dalam kondisi dimana masyarakat – kita semua – diminta untuk mengikuti rekomendasi dan keputusan pemerintah daerah setempat. Ada beberapa hal yang dapat kita lakukan untuk meningkatkan penjualan dalam situasi COVID-19 yang dinamis buka tutup ini.

Menurut pemikiran saya, —berdasarkan pengalaman menjalani beberapa krisis selama bekerja di beberapa hotel jaringan internasional di Bali–; nomer satu adalah pentingnya engagement atau selalu terhubung dengan relasi bisnis, customer juga supplier.

Kemudian dengan perhitungan minimnya pemasukan untuk mampu membayar biaya operasional — meski pun telah melakukan penciutan jumlah tenaga kerja–, maka tiga (3) ujung tombak untuk menjalankan strategi Sales & Marketing hotel adalah

  1. General Manager adalah image perusahaan ke publik. Tugas selama masa krisis adalah memegang kendali strategi marketing. Semacam jabatan ad interim director of sales, marketing & communication. Di posisi ini seorang general manager termasuk dituntut segala kemampuannya untuk mengkomunikasikan dan membuat berbagai keputusan darurat disaat yang tepat.
  2. Public Relations Manager adalah jurubicara perusahaan yang mewakili citra manajemen di dalam situasi apa pun. Di jabatan ini, seorang Public Relations Manager juga harus mampu membawahi dan mengontrol  pekerja customer service dan guest relations.

Mengapa demikian? Karena harus ada kendali mengeluarkan statement, informasi  yang seragam mulai dari first touch point karyawan dimana tamu, supplier, partner bisnis mulai mengajukan pertanyaan. Dimana first touch point itu?

Di banyak perusahaan juga hotel tentunya dimulai dari personil security yang bertugas di Pos 1 – Pintu Gerbang Masuk–.

  • Sales Manager adalah narahubung dan sekaligus pembuat keputusan sewa kamar hotel dan transaksi jual beli fasilitas lain-lain yang tersedia di hotel tempat kerjanya sesuai arahan strategi general manager.

Panduan kerja untuk ke-3 jabatan penting di atas bisa kita sederhanakan menjadi

  • Tetap tenang, logis dan terus-menerus menjual.
  • Memperkuat hubungan dengan pelanggan yang telah ada di data-base.
  • Mempergunakan dan memaksimalkan fasilitas pemasaran online.
  • Membuat promosi penjualan yang tepat.
  • Membuat strategi penjualan yang kreatif
  • Membangun kolaborasi yang saling menguntungkan dengan akselerator dan agregator.

Sekali lagi,— menurut pemikiran saya untuk hidup–, bekerja berdampingan dengan COVID-19 supaya efektif dan tetap produktif adalah dengan kembali ke dasar-dasar ilmu hospitality yang ber-etika. Ada Code of Conduct dan selalu mengabaikan The Do and The Don’t termasuk tambahan menjalankan CHSE (Clealiness, Healthy, Safety, and Environtment Sustainability).

Sebagai catatan, semua generasi produktif masa kini sudah malas berbicara di telepon. Salah satu alasannya adalah, kalau sedang menerima dan berbicara ditelepon tidak bisa mengerjakan hal-hal lain yang perlu diselesaikan. Terlebih, ketika harus berbicara dengan seseorang yang jika sedang berbicara tidak bisa diputus begitu saja, –pertimbangan etika–. Sehingga di masa kini diperlukan tatacara dan tatakrama lain kalau memang sangat perlu berbicara di telepon dengan partner bisnis, customer juga supplier.

Kreatif dan Inovatif

Akhirnya perlu saya angkat sekali lagi, bahwa masyarakat dan kita semua tetap dituntut untuk bisa memenuhi kebutuhan (needs), mempertimbangkan keinginan (wants), dan harapan (expectations).

Staycation, menginap dan tinggal di hotel, liburan sambil bekerja ini tentunya bisa dipaketkan kategori needs, expectations dan wants. Bisa disingkat NEW dan ditambahkan nama hotelnya, maka jadilah nama paket misalnya “NEW at my hotel

Solusi efektif dari banyak permasalahan bisnis termasuk  sales & marketing yaitu dengan memanfaatkan teknologi yang selama ini sudah kita miliki dan nikmati.

Ya, hotel pun sudah sah bisa berinteraksi jual-beli secara digital melalui smartphone dan beragam apps pendukung strategi penjualan online tanpa meninggalkan “nyawa” dari hospitality yang bertopang pada human interactions. Formalitas mengirim fax dan atau email dinilai sangat memperlambat respon para pelakunya. Sssttt ….. emang ada ya di 2020 ini yang masih menggunakan fax? J 

Pihak perusahaan melalui sales & marketing teamnya juga diuntungkan karena memberdayakan pemasaran online sebagai salah satu solusi dengan biaya rendah. Parameter keberhasilannya bisa diakses melalui pengumpulan dan analisa data yang akurasinya bisa dipercaya.

Akhir kata, jangan lagi ada diantara kita yang bangga dengan menyampaikan kalimat “saya gaptek”. Karena untuk keluar dari permasalahan pandemi COVID-19 kita memerlukan team sales & marketing yang mampu membuat dan meningkatkan penghasilan bagi banyak orang yang kehidupannya bergantung pada masing-masing hotel tempat kerja kita.

Salah satu cara supaya bisa memasang strategi sales marketing hotel yang efektif adalah berkolaborasi dengan piranti digital yang dinamis. Mari kita maksimalkan kinerja dengan beragam inovasi baik mulai dari cara manual sampai ke penggunaan teknologi inovatif terbaru.

Happy selling

Jeffrey Wibisono V. namakubrandku

Hospitality Consultant Indonesia in Bali –  Telu Learning Consulting – Digimakz – Commercial Writer – Copywriter – Jasa Konsultan Hotel

Artikel juga tayang di Bisnis Wisata, jeffreywibisono.com

Share this:

Profesi sebagai Konsultan Hotel

Pertama-tama, kita harus memahami dulu apa konsultan itu sebenarnya. Wikipedia menerangkan Konsultan (istilah alternatif: pakar runding) adalah seorang tenaga profesional yang menyediakan jasa kepenasihatan (consultancy service) dalam bidang keahlian tertentu, misalnya akuntansi, pajak, lingkungan, biologi, hukum, koperasi dan lain-lain. Dan di wilayah ini saya masuk menjadi Konsultan Hotel.

Perbedaan antara seorang konsultan dengan ahli biasa adalah sang konsultan bukan merupakan pegawai perusahaan sang penggunalayan (client), melainkan seseorang yang menjalankan usahanya sendiri atau bekerja di sebuah perusahaan kepenasihatan, serta berurusan dengan berbagai penggunalayan dalam satu waktu.

Apa Itu Kerja Sebagai Konsultan?

Apa saja Kriterianya?

Seiring berkembangnya zaman, banyak profesi baru yang bermunculan karena mengikuti bagaimana bisnis yang bertumbuh membutuhkan orang-orang dengan deskripsi pekerjaan yang memiliki keahlian khusus. Tentu saja ini menjadi peluang karier yang besar juga untuk kita semua yang ingin mendapatkan pengalaman lebih baik serta mampu berkembang bersama zaman.

Apa saja profesi baru yang muncul?

Di kelas dunia negara-negara maju, sudah ada pekerjaan-pekerjaan prestisius yang menuntut keahlian khusus. Antara lain

  1. Data Scientist atau Ilmuwan data – pekerjaan terseksi abad ke-21.
  2. Information Security Engineer – bekerja untuk melindungi sistem jaringan komputer organisasi, dan merencanakan serta melaksanakan langkah-langkah keamanan untuk melindungi informasi sensitif dari infiltrasi dan serangan cyber.
  3. Direktur D&I (Diversity and Inclusion) – pekerjaan yang berfokus pada budaya tempat kerja, khususnya dalam keragaman dan inklusi.
  4. Sales Engineer – komunikator antara aspek penjualan dan teknik untuk perusahaan teknologi.
  5. Salesforce Developer – peran pengembang Salesforce menjadi posisi yang dicari di perusahaan seperti Google, Amazon, PwC dan Uber.

Untuk industri perhotelan lebih banyak profesi baru yang berhubungan dengan pekerjaan Marketing.

Sebut saja antara lain

  1. Digital Marketing Specialist
  2. Content Writer
  3. Animated Graphic Designer
  4. Konsultan SEO.

Ya, konsultan yang berkualitas sudah ada dari dulu, tapi juga harus tahu bagaimana industri bertumbuh guna mempelajari dan memahami keinginan dan kebutuhan pangsa pasar/ guest experience. Termasuk di dalamnya bekerjasama dengan produk-produk digital yang berkembang setiap hari. Untuk analisa menuju solusi dan decision making process, kita harus bicara dengan data dan angka.

Jadi sebenarnya, apa itu kerja Konsultan Hotel secara specifik?

Konsultan Hotel bekerja untuk Pemilik Perusahaan atau Manajemen Operasional Hotel sesuai dengan kebutuhan pengembangan dan pemantapan perusahaan. A spesific job.

Dalam klasifikasi saya, ada pekerjaan dengan goal yang berbeda di masing-masing assignment. Sekarang mari kita fokus ke Business Re-Start sebagai upaya pemulihan bisnis  di masa pandemi COVID-19. Disini saya masuk ke spesialisasi pendekatan secara Marketing & Sales.

  1. Lakukan evaluasi Tim SDM – Kenali dan bekerjalah dalam pekerjaan yang sesuai dengan kekuatan/keahlian (strength and special skill set).
  2. Menganalisa trend industri perhotelan dan pariwisata internasional untuk diterjemahkan sesuai kondisi parameter domestik secara konsep pentahelix.

Mencakup

a.         Marketing & Sales Action Plan

b.         Persiapan launching program  Marketing

c.         Aktivitas Public Relations

d.         Merekomendasikan dan Menetapkan Corporate Identity

e.         Advertising Services

f.          Reservations and Representative Services

  • Evaluasi target pangsa pasar
  • Me-manage bisnis
  • Mulai menjalankan proses perencanaan
  • Memiliki rencana untuk pendanaan
  • Siap lepas landas
  • Bersiap untuk trial and error

Untuk hotel yang sedang ber-operasi, saya lebih sering masuk sebagai tim support

Marketing & Sales memaksimumkan branding dengan goal total revenue untuk mencapai optimum profit sebagai target. Masa kerja yang diperlukan selama minimum enam bulan terus menerus untuk bisa mulai melihat hasil beberapa bulan ke depan dan jangka panjang-nya.

Sebenarnya, untuk menjadi konsultan bukanlah pekerjaan yang mudah.

Mengapa begitu?

Karena sebelum kita bisa menyebut diri sebagai konsultan, kita harus memiliki pengalaman yang berlimpah di bidang tertentu.

Ya, konsultan yang baik bukan berarti bisa menguasai segala bidang, tapi menguasai satu bidang secara mendalam hingga bisa memberikan saran, masukan, dan strategi yang tepat bagi pihak yang membayar jasanya.

Dengan persyaratan seperti itu, maka tidak semua orang bisa menjadi konsultan. Perlu karier yang jelas dengan kinerja yang baik agar bisa dipercayai oleh orang lain untuk memberikan masukan.

Bagi teman-teman yang tertarik untuk menjadi konsultan, ada beberapa tips yang berguna untuk diaplikasikan sejak dini agar bisa memiliki satu paket kemampuan konsultan yang baik.

Poin-poinnya antara lain

  1. Konsultan harus memiliki Portofolio kemampuan teknis terhitung sebagai ahli , baik dan berkualitas.
  2. Konsultan wajib memiliki kemampuan berkomunikasi verbal dan tulis dengan baik.
  3. Menghormati deadline (batas waktu) itu penting
  4. Harus mampu mengerjakan apa yang diminta klien; dalam artian kita harus bisa menyelesaikan pekerjaan dengan baik dan sesuai keinginan klien.

Apa yang dapat menghentikanmu untuk merangkai kisah sukses selanjutnya?”

Pilihannya adalah hidup berdampingan dan mengasah ketrampilan sambil mempelajari beberapa keahlian tambahan selama masa pandemi COVID-19. Sehingga kemudian pada saatnya kita muncul berkilau di ranah publik karena sudah terasah.

Bali, 13 Juli 2020

Jeffrey Wibisono V.

Jeffrey Wibisono V. @namakubrandku
Hospitality Consultant Indonesia in Bali -  Telu Learning Consulting – Commercial Writer - Copywriter - Jasa Konsultan Hotel
Share this:

“Stay at Home Economy”, Kekinian ataukah Model Bisnis Masa Depan?

STAY at home economy akan menjadi tren di masa yang akan datang,” demikian pernyataan Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Teten Masduki dalam keterangan resmi di Media Center Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, Graha Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Jakarta, Selasa (28/4).

Kita semua telah tahu, bahwa kuartal pertama tahun 2020 ini dimulai dengan masa suram perekonomian rakyat. Untuk Bali, sudah terasa seretnya pendapatan bagi pekerja pariwisata, perhotelan dan lingkaran ekosistemnya pada bulan Maret. Bisa diperhitungkan mulai dari di tetapkannya status siaga Corona oleh Gubernur Bali, I Wayan Koster. Status siaga yang  berlaku dari 16  sampai 30 Maret 2020. Kemudian diperpanjang sampai 29 May 2020.  Selanjutnya, provinsi lain di Indonesia juga terdampak.

Dalam perjalanan status siaga ini, kita sekarang mematuhi tambahan ketetapan pemerintah pusat,  yaitu “larangan mudik”. Tindakan yang diambil  demi mencegah semakin meluasnya penyebaran virus Corona penyebab COVID-19. Peraturan ini  disampaikan oleh Presiden NKRI Joko Widodo saat memimpin rapat terbatas, Selasa 21 April 2020. Tindakan larangan mudik diberlakukan pemerintah mulai Jumat, 14 April. Keputusan ini mengakibatkan seluruh moda transportasi dihentikan sementara. Juru bicara Kementerian Perhubungan Adita Irawati menyebutkan, moda transportasi baik darat, laut, udara dan kereta api, dihentikan sementara hingga batas waktu yang ditentukan. Kendaraan bermotor dilarang beroperasi hingga 31 Mei, transportasi laut hingga 8 Juni, dan kereta api hingga 15 Juni 2020.

Bisnis rumahan dadakan

Dari mengamati dan menyadari cara hidup keseharian di kuartal pertama 2020 ini, kita pasti merasa dipaksa untuk mendigitalisasi banyak hal dalam menjalani aktifitas keseharian. Kondisi #DiRumahAja ini telah membangkitkan bisnis kuliner rumahan dadakan sektor bisnis informal. Para pekerja terutama dari sektor pariwisata dan perhotelan —penghasilan tetap bulanannya harus rela “dicacah”—, mulai mengeluarkan jurus-jurus mempertahankan ekonomi rumah tangga dari keahlian memasak.

Berbekal pengetahuan social media, mereka mulai beraktifitas memulai e-commerce industri rumahan. Membuka pesanan dan sesuai kesepakatan ditentukan juga hari dan jam pengantarannya. Bahkan yang sebelumnya gaptek – gagap teknologi dipaksa go digital untuk memulai bisnisnya. Tiada ampun covid-19 ternyata juga memberi nilai positif untuk memaksa semua orang beradaptasi dengan lingkungannya.

Opsi pesan-antar membuka peluang bisnis rumahan yang sangat luas. Komunikasi untuk menerima pesanan pun sangat mudah dengan menggunakan platform gratis  digital berbasis sosial media, termasuk instagram message, facebook messenger, whatsapp, line dan beberapa lagi. Juga yang sudah eksis bekerjasama dengan provider ojol Go-Jek dan Grab.

Apakah bisnis pesan-antar yang sekarang menjadi tren perjuangan mengais rejeki untuk memenuhi kebutuhan ekonomi rumah tangga hanya untuk sementara?

Kalau saja, bisnis pesan-antar dadakan ini menyehatkan ekonomi rumah tangga saat ini dan beberapa bulan ke depan, tentunya stay at home economy tren bisnis kekinian akan menjadi tonggak main income pelakunya.   Kelangsungan bisnis masa depan yang bisa diperhitungkan sebagai membuka lapangan kerja di sektor UKM / UMKM dengan didukung digital platform yang tepat sasaran untuk memudahkan cara kerja dengan jangkauan pasar yang lebih luas.

Industri Kuliner

Bagaimana dengan restoran-restoran dan usaha lainnya dari kategori PT, CV, UD dan UKM?

Stay at home economy bisa diterjemahkan lebih luas lagi. Karena pergeseran seismik ini, platform digital dan solusi pesan-antar berkembang pesat. Semua sektor industri menjadi semakin tergantung pada digitalisasi. Solusi menggunakan platform pesan-antar digital pasti diperlukan untuk meraih pangsa pasar yang lebih luas dan mempermudah sistem kerja. Investasi dengan biaya murah dan menjadi solusi jangka panjang dalam berbisnis. Bisa dipastikan sistem e-commerce ini akan terus dikembangan untuk kepentingan masa depan.

Pebisnis makanan dan minuman pun dipaksa untuk bertransformasi untuk mendatangi customer. Sesuai keputusan pemerintah, restoran harus tutup. Tetapi para pengusaha restoran termasuk restoran di hotel dituntut untuk mampu mempertahankan karyawannya dan menggaji sesuai kesepakatan kerja antara kedua belah pihak.

Thanks to Technology.

Dengan makin canggihnya alat komunikasi dan bisa saling diintegrasikan, maka Platform Digital Pesan-Antar sangat membantu para pebisnis dan konsumennya untuk tetap berinteraksi, dan walaupun pendapatan turun tetapi bisnis hidup. Untuk pebisnis sektor formal, ada beberapa solusi perangkat lunak (SaaS) di pasar yang memberi kita alat untuk menjalankan dan maintain operasional pengiriman kita sendiri. Beberapa nama yang dikenal dari luar Indonesia adalah Oddle, Tabsquare, Kaddra, Weeloy, dan Butleric. Sedangkan Digital Ordering Platform yang sudah banyak dipakai di indonesia adalah deeats dan linktr.ee instagram tool,selain google, dan facebook yang juga merespon situasi stay at home /#DiRumahAja dengan menyediakan fasilitas bisnis untuk publik.

Lantas! Solusi atau platform pesan-antar mana yang lebih baik?

Kita dapat menyimpulkan bahwa solusi pesan-antar masuk akal untuk perusahaan mapan juga UKM / UMKM  yang memiliki sumber daya untuk mengelola operasional pengiriman mereka sendiri. Kita harus berpikir secara logis dan menganalisa apa sebenarnya yang akan menjadi biaya. Terutama saat kita menganggap platform digital ini tiba-tiba sebagai bagian penting dari rantai pasokan. Kita seharusnya menganggapnya sebagai kebutuhan wajar dalam menjalani new normal berkelanjutan dalam etika bisnis era COVID-19. Solusi pemesanan online yang dapat kita tawarkan kepada customer untuk melihat menu, memesan, dan melakukan pembayaran online. Biasanya solusi ini diberi istilah white label merek restoran.

Nilai tambah platform digital pesan-antar

Bisa di evaluasi dari kebiasan kita yang menjadi konsumen, yaitu akan melihat peningkatan jumlah opsi menu dan beragam penawaran untuk dipilih.

Pebisnis kuliner dadakan dan restoran memiliki aliran pendapatan dari bisnis pesan-antar untuk membiayai dapur masing-masing.

Pebisnis kuliner pesan-antar menciptakan lebih banyak pekerjaan untuk karyawan dan driver ojol sebagai partner kerjasama pihak ketiga.

Platform digital pesan-antar mendorong inovasi dan mengimplementasikan smart kitchen berbasis cloud yang biaya operasionalnya lebih rendah dibandingkan conventional kitchen.

Akhirnya kembali kepada topik awal, apakah stay at home economy, bisnis berbasis ekonomi kerakyatan akan menjadi sumber pendapatan utama masa depan kita?

Bali, 08 Mei 2020

Jeffrey Wibisono V.

Jeffrey Wibisono V. @namakubrandku
Hospitality Consultant Indonesia in Bali -  Telu Learning Consulting – Commercial Writer - Copywriter - Jasa Konsultan Hotel

Juga dimuat di

Share this:

Mengubah Episode Krisis COVID-19, Menjadi Peluang

PERIHAL pertama yang harus kita lakukan adalah merubah mindset, mulai berpikir dan mengakui terlebih dahulu, bahwa dunia akan sangat berbeda dari dunia sebelumnya, — setelah krisis COVID-19 berlalu. Serba digital, mulai dari kebersihan dan sanitasi, panduan informasi atau terminologinya compendium,  sampai ke transaksi bisnis mikro.

Bisnis travel & tourism – perjalanan dan pariwisata adalah salah satu sektor ekonomi yang terpuruk akibat krisis Corona saat ini. Mari kita pastikan bisnis travel & tourism ini akan terus berlanjut, baik  untuk jangka pendek, menengah dan jangka panjang. Tertunya kita paham kalau tidak ada tourism  tanpa travel. Pada dua kuartal di tahun 2020 ini, secara bertahap sampai mencapai tingkat global, perjalanan dan pergerakan manusia berhenti total akibat Coronavirus.

Tantangan untuk sektor bisnis  perjalanan dan pariwisata adalah bagaimana berkontribusi dan memimpin transformasi –seluruh masyarakat– memasuki dan menjalani era ekonomi baru, era pasca Coronavirus.

Pertanyaan saya adalah, bagaimana kemudian kita bisa mendapatkan dana untuk penyelamatan bisnis dan revitalisasi perusahaan?

Perusahaan yang dimaksud disini adalah industri perjalanan dan pariwisata, termasuk maskapai penerbangan, perusahaan pelayaran, agen perjalanan, dan operator tur juga perhotelan.

Kesehatan ekonomi — secara menyeluruh — satu-satunya cara bagi sektor travel & tourism untuk tumbuh dan mendapatkan manfaat. Suatu tantangan yang tidak hanya mampu membawa kita ke pemulihan yang sehat, tetapi juga memindahkan kita ke dunia yang berbeda. Dunia yang lebih maju dan makmur, dunia yang lebih baik.

Krisis COVID-19 memiliki dua fase berbeda;

  1. Fase  #DiRumahAja / Karantina Mandiri: Mengurung dan menahan diri untuk menjaga diri sendiri dan orang lain supaya tetap sehat dan hidup.  Tantangan berat dari segi  kesehatan massa yang memberi dampak langsung saat ini.
  2. Fase pemulihan: Persiapan yang strategis dan penuh perhitungan untuk mengatasi dan  harus dapat menjamin dampak serius dari krisis ekonomi, sosial dan lapangan pekerjaan.

Menurut saya, kita sekarang harus mulai merencanakan dan mempersiapkan fase ke-dua dan biayanya, dengan memperhitungan keterlibatan dan kebijakan pemerintah pusat dan pemerintah daerah.

Mengingat kerusakan ekonomi besar-besaran telah terjadi pada fase #DiRumahAja, dampaknya sudah bisa dipastikan akan mempengaruhi pencapaian pada fase pemulihan. Masa yang diperhitungkan mulai dari status under-control diumumkan.

Kita semua tentunya berharap, sementara kita bekerja dengan status WFH – Work From Home, kita harus tetap berprestasi di luar lingkup kerja dalam kondisi normal. Saling berbagi wawasan positif  akan sangat membantu menguatkan dan meyakinkan secara mental juga pemikiran, bahwa kita masih punya team-work dalam perjuangan pada fase #DiRumahAja saat ini.

Mengacu pada fase #DiRumahAja, dampak negatif-nya, kita dalam posisi sedang limbung, bingung menghadapi dan mengatasi permasalahan yang sedang berlangsung. Buat saya pribadi kita perlu menyoroti

  • Kondisi finansiil atau keuangan perusahaan
  • Kondisi ketidakpastian akan lapangan pekerjaan dan penghasilan yang berkesinambungan
  • Strategi taktis dan kreatif dalam hal pemasaran dan penjualan
  • Tindakan proaktif untuk menjemput bola
  • Ber-empati, turun tangan membantu pekerja dan masyarakat terdampak yang sudah semakin kecil kesempatannya untuk berpenghasilan.

Mohon ijin, untuk mempersiapkan masuk ke fase recovery, saya mengutip  dari situs resmi  The World Tourism Organization (UNWTO).

Perlu kita ketahui,  bahwa komite krisis COVID-19 memasang target untuk recovery/ pemulihan travel & tourism,  pariwisata global, melalui tiga cakupan makro antara lain:

  1. Healing for people – Solusi yang berfokus pada langkah-langkah keselamatan, metode sanitasi, deteksi dini, antara lain untuk pariwisata dan travel-related stakeholders – suatu pedoman untuk dipergunakan oleh wisatawan, pekerja pariwisata, operasional perhotelan, agen perjalanan, tour-operator, transportasi, taman hiburan, dll.
  2. Healing for prosperity – Solusi yang difokuskan pada aplikasi digital untuk pariwisata, sharing-economy, circular-economy, manajemen pendapatan, pemulihan permintaan, dan investasi. Di antara bidang-bidang lainnya, akan diterapkan untuk seluruh sektor strategi jangka pendek dan jangka panjang.
  3. Healing for destinations – Solusi yang difokuskan pada teknik pemulihan untuk destinasi: komunikasi krisis, manajemen krisis, mobilitas, re-branding destinasi pariwisata, pemulihan travel-confidence, di antara bidang terkait lainnya.

Lalu kapan status under-control  ini dideklarasikan oleh pemerintah?

Berapa hari lagi atau berapa bulan lagi?

Semoga bulan Juni 2020 kita bisa memulai pergerakan bisnis lagi mengacu pada Surat Keputusan Kepala BNPB Nomor 13.A tahun 2020 tentang Perpanjangan Status Keadaan Tertentu Darurat Bencana Wabah Penyakit akibat Virus Corona di Indonesia yang berlaku selama 91 hari terhitung sejak tanggal 29 Februari – 29 Mei 2020.

Secara ilmu sales and marketing  perhotelan – dimana saya sebagai salah satu praktisi yang terlibat langsung dalam pemulihan bisnis pasca bom Bali pertama – proses pemulihan bisnis ini seperti yang tercantum di contract rate luring/ offline antara hotel vs biro perjalanan yang berhubungan dengan seasons/ musiman, yaitu Low, Shoulder, High, Peak. Ada empat (4) tahapan untuk bisa kembali kepada hasil bisnis yang sangat positif di tahun 2019 lalu bagi semua sektor bisnis yang terpuruk saat ini

Prediksi saya, dari status under-control di umumkan atau di deklarasikan, bisnis kita memasuki tahap pertama, yaitu Low Season. Jangka waktunya bisa dari enam (6) sampai sembilan (9) bulan.

Mengapa demikian?

Karena pada 6 sampai 9 bulan pertama perjalanan pasca-coronavirus ini adalah jangka waktuuntuk menawarkan harga promosi yang dibuat oleh sektor industri travel & tourism. Mari jangan segan-segan membuat harga promosi yang berlaku untuk jangka waktu terbatas dan penawarannya sampai pada tingkat tidak bisa ditolak lagi oleh potential travelers. Sebenarnya, target market  disini adalah para traveler  yang nekad “first to fly” dan traveling kembali menjadi keharusan bagi golongan kelas ekonomi kuat. Saya menyebutnya The Have and The Rich.

Peluang ini harus kita ciptakan dengan menempatkan dan mempraktekkan secara konsisten  aturan baru dalam hal passenger / guest handling dalam hal Hygiene & Sanitation for passengers’ health concern, modifikasi standar customer service untuk meyakinkan pasar yang lebih luas lagi untuk membangun travel confidence.

Dalam perjalanan bisnis enam (6) bulan pertama, kita bisa bersiap dengan strategi pemasaran memasuki Shoulder Season.

Di tahap 6 sampai 9 bulan kedua ini, kita sudah mulai bisa men-targetbusiness danfrequent traveler. Mereka-mereka yang mempunyai cukup uang untuk membiayai kehidupan sehari-harinya. Biasanya kita menyebut kelompok menengah ke atas.

Selanjutnya ke tahap bisnis yang lebih sehat, High Season pada 6 sampai 9 bulan ke-tiga.

Jadi, pada tahap ke-tiga ini, magnet travel & tourism sudah mulai menarik para pelaku perjalanan yang telah lama harus menahan diri karena dipaksa oleh situasi.  Perjalanan bisnis tentunya sebagian besar akan kembali normal, atau setidaknya mendekati normal kalau diprediksi mengacu pada hasil sukses tahun 2019. Sepertinya di tahap ke-tiga ini a new normal akan kita  dapatkan.

Akhirnya, tahap ke-empat pada 6 sampai 9 bulan setelah High Season selanjutnya si Peak Season ini yang kita tunggu-tunggu. Sudah waktunya sektor industri travel & tourism menikmati kembali volume lalu lintas bisnis massal dengan intensitas tinggi dan bikin orang sibuk seperti pada masa sebelum wabah COVID-19 mendunia.

Harap selalu diingat, bisnis travel & tourism termasuk hospitality industry bisa kembali normal hanya melalui team-work, kebersamaan yang solid dalam menciptakan suatu destinasi yang sehat, aman dan nyaman untuk menembus reputasi bisnis kelas dunia.

Semoga dalam perjalanan pemulihan bisnis pasca wabah COVID-19,  tidak ada lagi bencana kelas dunia. Orang bijak punya kalimat “Always expect the worst”, kita harus belajar dari kondisi saat ini terutama dalam me-manage reserved fund untuk menangani kondisi darurat.

Salam sehat dari saya dan semoga kita menjadi berkat bagi sesama dan dunia.

Bali, Senin, 13 April 2020

Jeffrey Wibisono V.

Jeffrey Wibisono V. @namakubrandku
Hospitality Consultant Indonesia in Bali -  Telu Learning Consulting – Commercial Writer - Copywriter - Jasa Konsultan Hotel

Juga di publikasikan di

Share this:

Recovery Plans – Let’s Go To Indonesia

Memasuki minggu  ke-dua bulan Maret 2020 ini, apakah teman-teman pekerja industri pariwisata dan perhotelan sudah dalam masa tenang atau masih panik dalam menghadapi gempuran berita covid-19 ? Saya disini hendak mengajak teman-teman mengembalikan kepercayaan pasar travelers sambil mengulik dasar-dasar ilmu hospitality yang mungkin sudah banyak ter-modify di jaman now.

Setidaknya ada tujuh (7) fundamen di industri hospitality untuk dikedepankan guna menarik kepercayaan pasar terhadap satu destinasi. Apapun motivasi acara perjalanannya, nomer satu dari ketentuan tersebut adalah travelers punya jaminan pergi-pulang hidup, sehat, selamat dan balik ke rutinitas harian tanpa gangguan apapun sekembalinya dari suatu destinasi.

Dalam hal ini, fundamen mana yang hendak kita kedepankan terlebih dahulu dalam menanggulangi krisis global paranoia yang kita bersinpun menjadi salah.

Tujuh Fundamen dalam hospitality itu adalah

  1. Keramah-tamahan penduduk dan pekerja di industrinya
  2. Jaminan untuk dapat tidur nyenyak selagi beristirahat
  3. Untuk keperluan mandi, ada jaminan air yang bersih, memadai volumenya, dengan temperatur air yang tepat, sehingga menyegarkan
  4. Jaminan kebersihan yang sempurna
  5. Jaminan makanan yang bervariasi, bercita-rasa khas dan higienis
  6. Jaminan keamanan dan keselamatan
  7. Ramah lingkungan

Weekend kemarin, Singapura telah mengedarkan ajakan untuk kembali ke mengunjungi negara tersebut dengan mengedepankan fasilitas kesehatan dan harga-harga termurah yang ditawarkan dalam sepuluh tahun terakhir. Menarik?

Selalu saya katakan, untuk negara satu pulau seperti Singapura, gerbang masuk dari laut, darat dan udara hanya masing-masing satu, cara menanggulanginya pasti jauh lebih mudah. Sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan Indonesia.  Tetapi, tetap kita dapat meniru ke-proaktif-an dan kepiawaian Marketing Singapura dengan Singapore Tourism Board-nya dalam hal menanggulangi krisis yang juga beberapa kali terjadi dan juga berimbas terhadap negara ini. Yang melakukan promosi adalah atas nama negara.

Bagaimana dengan Indonesia. Dalam lingkup kecil, Bali telah mengagendakan action plan nya. Keluar dengan tagline I love Bali Movement. Apakah ini cukup menanggulangi market confident di tengah merebaknya berita virus berkembang biak di beberapa negara di luar Cina?

Untuk saya sendiri yang dalam hal ini mengacu pada banyak petunjuk penanggulangan covid-19 adalah kebersihan, maka Bali masih punya pekerjaan rumah dari beberapa isian check-list yang harus dilengkapi.

Apakah Bali memenuhi syarat sebagai “A Clean Place is A Safe Place”?

Apakah Bali memenuhi syarat sebagai “Balinese clean communities, as Healthy Indonesian citizen” for tourism?

Disini kita semakin paham, bahwa ramah tok ndak cukup, mengedepankan ke-arifan-lokal saja ndak cukup, mempromosikan pariwisata budaya saja ndak cukup. Semua harus bersinergi dalam satu kesatuan yang utuh, bunder ser seperti bola dunia yang terus berputar. Untuk Bali adalah implementasi Tri Hita Karana atau dalam bahasa Inggrisnya Three causes of well-being dalam akulturasi budaya Bali dan agama Hindu dengan tolok ukur-nya yang menyesuaikan jaman, sudah pasti pas.

Selanjutnya saya meninjau jadwal kedatangan dan keberangkatan dari Bandara Internasional Ngurah Rai. Dengan mengabaikan load factor, kedatangan penerbangan domestik dan internasional ada pengurangan, tetapi masih ada. Artinya Bali tidak zero (0) wisnus dan wisman.

Bank Indonesia telah menyampaikan makalah “Outlook Ekonomi Bali 2020” yang disampaikan oleh Bapak Trisno Nugroho pada 6 Maret 2020

Data data yang disampaikan antara lain

  • Total kunjungan wisman ke Bali pada periode  bulan Januari 2020 sebanyak 528.883, atau tumbuh 16,09% (yoy).
  • Total kunjungan wisatawan ke Bali sepanjang Jan – Des 2019 sebesar 6,275 Juta orang atau tumbuh 3,37%(yoy), melambat dibanding tahun 2018 yang sebesar 6,55% (yoy).
  • Sementara itu, total kunjungan wisdom sepanjang 2019 sebanyak 10,55 juta orang  atau tumbuh 8,07% (yoy), lebih rendah dibanding tahun 2018 yang tumbuh 11,70% (yoy)
  • Data Angkasa Pura menunjukkan terjadinya pertumbuhan 18,26% (yoy) arrival wisatawan mancanegara pada Januari 2020. Namun demikian, penyebaran COVID-19 menyebabkan potential loss cukup besar, terindikasi pada sejumlah pembatalan  paket  dan pemesanan kamar di Bali
  • Perekonomian Bali 2020 diperkirakan berada pada range  4,6% – 5%, terkoreksi dari perkiraan sebelumnya (5,6% – 6%)
  • Kontribusi Pariwisata terhadap Ekonomi Bali : 48,4% (berdasarkan Tourism  Satellite  Account)

Berdasarkan semua data yang dipaparkan, maka Bank Indonesia memberikan Rekomendasi Kebijakan antara lain:

  1. Mendorong percepatan implementasi kebijakan stimulus pariwisata Bali
  2. Pembentukan Tim Tanggap COVID-19, pembentukan Central For Diseases Control and Prevention / Crisis Centre & menyusun protokol kesehatan.
  3. Meminimalkan kontraksi pertumbuhan 2020 melalui akselerasi konsumsi pemerintah (percepatan realisasi rencana pembangunan proyek-proyek pemerintah Bali).

Pada akhirnya, secara pribadi saya mohon ijin menggunakan bahasa Bali untuk mengajak kembali kepada keseimbangan terhadap yang hidup, yang menghidupi dan yang menghidupkan.

Ngiring sareng-sareng jage Baline

Semoga semua makhluk berbahagia dan terberkati.

Bali, 8 Maret 2020

Jeffrey Wibisono V.

Jeffrey Wibisono V. @namakubrandku
Hospitality Consultant Indonesia in Bali -  Telu Learning Consulting – Commercial Writer - Copywriter - Jasa Konsultan Hotel
Share this:

Makna ganda strategi diskon. Apa saja?

Sama seperti arti sebuah nama, maka diskon pun memiliki sejumlah makna.

Di dalam strategi sales & marketing, praktek obral diskon ini adalah untuk meningkatkan volume penjualan. Targetnya untuk mencapai revenue/omzet yang telah dianggarkan. Kalau obral diskon sudah dilakukan dan didalam proses penjualannya ternyata respon pasar kurang, maka sebaiknya praktek diskon itu dibatalkan di tengah jalan. Karena resiko-nya adalah malah akan mengurangi pendapatan bahkan sampai merugi kalau diteruskan.

Teman-teman pasti sering melihat Obral besar DISKON Sampai 90% di banyak pasar swalayan seperti Metro, Centro dan beberapa lagi. Tujuannya hanya untuk mengosongkan gudang, dan menjual sampai serendah biaya produksi. Disini kita mengabaikan unsur estetika tren mode dan kualitas.

Nah, yang saya tulis di atas lebih kepada teknik perdagangan retail.

Di industri hospitality, kita harus lebih seksama untuk bermain-main dengan kata diskon ini. Karena ada beberapa etika sampai ke tingkatan filosofis. Kita dealing dengan beragam kelas dan komunitas customer.

Jenis customer khusus yang hendak saya angkat adalah customer yang harus kita kategorikan VIP (Very Important Person). Ini ada ke-khusus-an berdasarkan kebiasaan customer sehingga kita harus memasang plat VIP. Jenis customer ini adalah tipe orang yang hendak menunjukkan dirinya istimewa di tempat beliau-beliau mentraktir/ hosting/ entertaint rekan-rekan bisnis dan komunitasnya. Pasti, biasanya bukan anggota keluarga yang besertanya.

Di beberapa hotel dimana saya menjadi General Manager, tipe beliau-beliau adalah kelas pengusaha dan pemilik perusahaan. Dan diskon sangat penting bagi beliau-beliau  ini. Mengapa? Bukan karena duitnya kurang, tetapi untuk menunjukkan bahwa beliau-beliau mempunyai keterdekatan dengan pimpinan dimana mereka men-traktir rekan-rekan bisnis ataupun komunitasnya. Beliau-beliau hanya membawa rekan-rekan bisnis dan komunitasnya dimana dia merasa nyaman dan sudah dikenal sehingga mendapat perlakuan khusus. Pastinya, sebelum itu semua terjadi, beliau-beliau sudah melakukan reservasi langsung kepada saya dan minta diskon. Pada saat pembayaran, beliau-beliau akan dengan lantang memberi komando kepada waiter (kalau beliau-beliau di restoran). Beliau-beliau ini biasanya akan bilang “Mas, minta bill-nya. Jangan lupa diskon-nya ya yang sudah dikasih Pak Jeffrey”.

Setelah selesai close bill, beliau-beliau wajahnya tampak puas dan sumringah bahagia sambil menerima kembali credit card bersama nota konsumsinya. Klasik kalimatnya “tuh kan guwa kalau disini selalu dapet diskon dari Manager-nya. Lain kali kalau kalian kesini bilang guwa ya, biar guwa mintain diskon”

Jadi manajemen di hotel dan outlet semacam ini, kita harus memastikan bahwa tidak ada promosi diskon yang tersebar ke publik. Kalaupun ada, maka yang kita berikan harus di atas rata-rata diskon promo.

Penting kah hal seperti ini?

Di dalam bisnis hospitality, ini PENTING BANGET! Ini adalah teknik customer service juga sales & marketing untuk mendapatkan repeat guest dan mengembangkan pangsa pasar melalui jaringan beliau-beliau yang sudah secara tidak sadar menjadi brand ambassador kita. Istilah kasarnya kita harus ngasih muka ke beliau-beliau yang menjadi loyal customer  dan imbal baliknya mereka, kita kategorikan VIP. Jadi VIP treatment-nya ya jangan tanggung-tanggung. Pokok-nya harus full service dengan dedicated attendants yang siap dan sigap senantiasa. Diskon-diskonnya biasa masuk ke biaya marketing advertising & promotion Kategorinya apa? Mari kita pakai saja istilah radio, yaitu Ads-Lips.

Keren kan teknik diskon customer engagement ala selebriti gini. Tipe tamu seperti ini harus sering-sering hadir karena bisa mendongkrak revenue/omzet. Sebab beliau-beliau itu jarang sekali datang sendirian, selalu membawa massa atau grup kecil. Hubungan baik harus selalu dijaga. Tetapi, kalau hendak foto bareng dan apalagi untuk di-upload di media sosial, please harus minta ijin dulu. Jangan main candid. Ini urusan privasi.

Melanjutkan tentang diskon, salah satu merek ternama dunia Louis Vuitton , perusahaannya mengambil keputusan untuk membakar  Tas dan produk lainnya yang tidak laku. Sebelum masuk proses pembakaran, sebelumnya ada tahapan produk boleh di beli oleh karyawan dengan harga khusus. Tetapi tidak boleh sampai dijual ke publik. Pemegang merek ini menjaga eksklusifitas dan dengan mengremasi tas-tas-nya ini juga cara untuk mengatasi limbah industrinya.

Teman-teman silakan cek sendiri harga produk brand Louis Vuitton tersebut. Yang saya mengerti dalam ilmu hitung dagang, proses penetapan harga sudah melalui proses perhitungan laba rugi dengan latar belakang pemusnahan produk yang tidak laku.

Apakah teman-teman punya pengalaman dan pemikiran lain tentang strategi diskon. Silakan di-sharing-kan di kolom komen yang tersedia.

Bali, 22 February 2020

Jeffrey Wibisono V.

Jeffrey Wibisono V. @namakubrandku
Hospitality Consultant Indonesia in Bali -  Telu Learning Consulting – Commercial Writer - Copywriter - Jasa Konsultan Hotel
Share this:

OBSESI Praktisi Sales dan Marketing di Bali

Anda tentunya pernah mendengar, mengucapkan maupun membaca kalimat “I Hate Monday”. Tetapi yang terjadi pada hari Senin 16 Desember 2019 bisa dikatakan menjadi A New Normal. Sekitar 45 orang praktisi Sales perhotelan di Bali berkumpul dengan judul acara OB-SE-SI kependekan dari Obrolan Seputar Sales & Marketing Indonesia. Acara ngumpul-ngumpul bersosialisasi sesama profesi ini dalam rangka menutup semua kesuksesan dan kegagalan di tahun 2019. Tetapi pada kesempatan ini, teman-teman praktisi Sales perhotelan juga menggunakan kesempatan untuk tukar menukar kado sebagai simbol keakraban dan saling keterkaitan yang terjalin.

Acara puncak ObSeSi ini adalah misi edukasi dengan cara sharing session yang dipandu oleh veteran praktisi Sales & Marketing,  Jeffrey Wibisono V.

Jeffrey adalah  juga penulis buku Hotelier Stories Catatan Edan Penuh Teladan yang acara peluncuran penerbitannya tepat pada tanggal yang sama yaitu 16  Desember pada tahun 2016.

Jeffrey Wibisono memandu talk show ini dengan brandingnya “Real Life Situation” untuk membantu memberikan solusi-solusi jitu terhadap banyak task list praktisi Sales & Marketing, terutama untuk menjalankan budget dan mencapai target penjualan pada tahun 2020.

Bali 16 Desember 2019

Jeffrey Wibisono V.

Catatan: Terima kasih untuk Organizer Cut Rossi, Yan Juna dan Elnino Irawan yang telah mampu mewujudkan acara dalam jangka waktu hanya satu minggu. Thank Technology! Pastinya terima kasih kepada semua Sales Personnels Bali yang hadir pada hari penyelenggaraan yang sangat tidak biasa, yaitu Senin. Hanya dengan flexibility dan komitmen semuanya, acara ini bisa terjadi.

Jeffrey Wibisono V. @namakubrandku
Hospitality Consultant Indonesia in Bali -  Telu Learning Consulting – Commercial Writer - Copywriter - Jasa Konsultan Hotel
Share this:

OBSESI Obrolan Seputar Sales and Marketing Impact

Kami ber-networking untuk menutup tahun 2019 dengan penuh kebersamaan. Kami yang berkarir dan berprofesi sebagai praktisi Sales & Marketing di Bali. Kami yang punya rasa nyaman antara satu dengan yang lainnya, untuk bersuka dan mau sharing pengetahuan dan tukeran kado akhir tahun juga.

Jeffrey Wibisono V. @namakubrandku
Hospitality Consultant Indonesia in Bali -  Telu Learning Consulting – Commercial Writer - Copywriter - Jasa Konsultan Hotel

Share this:

Cloudbeds Hospitality Management Suite

Hallo teman-teman Hoteliers

Apakah hotel teman-teman sudah komplit menggunakan dalam satu yang termasuk ???
• PMS (Property Management System)
• Channel Manager
• Booking Engine
• PIE (Pricing Intelligence Engine)
• Marketplace (reputation manager ada disini)
• Insights
.
Maka sekarang sudah tersedia
Everything you need in one easy package.
See how it works (please click the link to request demo and to know more)

Cloudbeds, Jeffrey Wibisono V. @namakubrandku
Hospitality Consultant Indonesia in Bali -  Telu Learning Consulting – Commercial Writer - Copywriter - Jasa Konsultan Hotel
Share this:

Ayo kita bahas DMO untuk masuk ke dunia-nya Traveler Milenial

Gini loh bro ….

Pertama saya hendak  paparkan dulu usia generasi birokrat NKRI dan usia generasi potential market traveler, pelancong dan wisatawan dunia saat ini. Saya buat simple saja mengantisipasi  jangka pendek sampai lima (5) tahun ke depan.

Dari buku berjudul Mind The Gap yang ditulis oleh Graeme Codrington and Sue Grant-Marshall, kita diajak mengenal karakteristik antar generasi. Kita dan generasi di atas maupun di bawah kita,  menemukan generasi dan orang-orang yang berperanan membentuk hidup kita.

Apakah generasi birokrat NKRI dari …. ?

  • Generasi Baby Boomer kelahiran antara tahun 1946 sampai  tahun 1964 dengan karakteristik peduli dan peka terhadap perasaan orang lain (empati)
  • Generasi X kelahiran  antara tahun 1965 sampai tahun 1980 dengan karakteristik orang tuanya mengajak untuk peduli dan peka terhadap perasaan orang lain (simpati)
  • Generasi Y = Generasi Milenial kelahiran antara tahun 1981 sampai tahun 1994 dengan karakteristik orang tuanya lebih modern dan fokus pada hal-hal yang praktis dan instan. Waktu bersama antara orang tua dan anak menjadi sedikit.
  • Generasi Z = iGeneration = Generasi Internet kelahiran antara tahun 1995 sampai tahun 2010 dengan karakteristik orang tua hidup dengan gadget dan sibuk sendiri. Anak menjadi lebih individualistis.

Setelah anda dan saya memahami apa yang membuat kesenjangan generasi, maka inilah saatnya  untuk mengubah pola pikir dan lebih jauh mempelajari kebutuhan generasi penerus (kita sebut potensial market traveler).

Dalam hal ini sudah sampai dari generasi baby boomer sampai ke usia produktif generasi milenial dengan dengan kesuksesan finansiil dan gaya hidupnya!

Fokus kepada pariwisata, generasi milenial sebagai traveler  adalah easy going dan explore experience dan moment of truth nya adalah di digital camera dan sosial media.

Apakah generasi milenial mempunyai ketertarikan terhadap arkeologi dan antropologi selain teknologi yang sedang dalam genggaman mereka?

Jadilah flashback ke perencanaan pemerintah yang membahas tentang DMO – Destination Management Organization (DMO) di tahun 2012. Pastinya pada tingkat nasional, pengelolaan eksternal sangat dominan dan merencanakan strategi secara keseluruhan termasuk pemasaran dan diplomasi pariwisata. Ada Inbound ada Outbound.

Salah satunya yang baru terwujud realisasinya dan diumumkan oleh pemerintah secara resmi di  tahun 2019 ini, mengacu pada siaran Kemenparekraf tahun 2012 adalah Mandalika. Kepikir kan itu adalah perencanaan yang dibahas dari 7 tahun lalu. Artinya, bukankah semua program pemerintah itu berkelanjutan berkesinambungan walau harus gonta-ganti presiden juga jajaran para menteri pelaksananya dengan prestasi masing-masing?

Lalu apa sih Istilah dan Pengertian Destination Management Organization (DMO) ?

Ini adalah adalah struktur tata kelola destinasi pariwisata yang mencakup

  • perencanaan,
  • koordinasi,
  • implementasi,
  • dan pengendalian organisasi destinasi

secara

  • inovatif
  • dan sistemik

melalui pemanfaatan

  • jejaring,
  • informasi dan teknologi,

yang terpimpin secara terpadu dengan peran serta

  • masyarakat,
  • asosiasi,
  • industri,
  • akademisi
  • dan pemerintah

dalam rangka meningkatkan kualitas

  • pengelolaan,
  • volume kunjungan wisata,
  • lama tinggal
  • dan besaran pengeluaran wisatawan
  • serta manfaat bagi masyarakat

di destinasi pariwisata.

Wis ini saja dulu deskripsinya.

Lalu bagaimana tata kelola, monitoring dan tolok ukur pencapaiannya untuk wilayah tingkat Lokal, Regional dan Nasional?

Bisa dipastikan kegiatan membentuk dan mengelola serta menyempurnakan destinasi melalui suatu proses yang berkesinambungan. Perihal ini untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan bersama dengan pemasaran dan diplomasi pariwisata. Antara lain dengan menjalankan prinsip-prinsipnya yang bersifat multisektoral dan multi dimensi di dalamnya merujuk pada berbagai indikator yang telah ditetapkan.

Tentunya dalam perjalanan DMO ini ada perubahan-perubahan disesuaikan dengan zamannya.

Di tahun 2019 ini pergeseran perilaku bisnis telah berubah. Tahu-kan beberapa gerai supermarket jaringan nasional seperti Hero, Matahari sudah tutup? Mengapa?

Salah satunya karena convenient store nya ada di hape masing-masing. Pesan, Bayar, Terima Barang tanpa meninggalkan tempat. Apalagi sampai harus buang-buang waktu ngantri di kasir supermarket seperti sampai beberapa tahun lalu.  Entah, saya sudah lupa tahun berapa terakhir kali saya belanja di supermarket dan masih rela mengantri untuk membayar barang belanjaan di kasir.

Bulan Oktober lalu, saya mendapat hashtag/ tagar dari mentor Digital Marketing saya yaitu #GoOnlineOrGoAway. Disini, manusia harus teamwork dengan robot. Bukan robot menghilangkan manusia. Kalau dulu jam kerja disebut 9/5 sekarang menjadi 24/7. Dari sebutan diajari out of the box, sekarang saya berani membuat terminologi baru no box.

Perlu kita ketahui perilaku dan preferensi generasi milenial telah mengubah zaman begitu drastis. Beberapa kriteria industri dan produk menjadi tidak relevan dan telah musnah dimakan zaman dalam waktu yang sangat singkat. Seperti kisah dinosaurus.  Nyata, beberapa profesi baru telah eksis dan sebagian telah dihapuskan.

Apakah industri pariwisata akan musnah?

Hati-hati, sekarang di banyak mall di seluruh dunia telah diperkenalkan tour keliling dunia dengan Virtual Reality (VR) dan Augmented Reality (AR).

Bahkan dengan lantang anak teman saya bisa menjawab “Bisa, saya bisa berenang kok!” dan saya syok ketika mengetahuinya si anak teman saya itu belajar berenangnya di ….. “GADGET!”

Halu sekali bukan???

Lalu apakah polemik destinasi pariwisata dengan label ramah ini, ramah itu masih perlu di pertajam?

Dan pertanyaan saya apakah yang ramah ini ramah itu adalah yang memang diperlukan oleh target market generasi milenial dan yang segera akan disusul generasi alpha?

Tugas birokrat, semua perencana, semua pembuat keputusan dan pengemban kebijaksaan adalah menyiapkan masa depan bagi generasi penerus industri pariwisata nasional.

Well…. dari hitungan usia populasi Baby Boomers dan Gen-X akan semakin surut dan berkurang.

Dan bisa jadi suatu saat akan punah. Lalu apa peninggalan anda dan saya yang saat ini masih berada dalam lingkup generasi ini?

Ayo, kita bikin emergency red code! Ini bisa kita menurunkan ilmu ke generasi milenial atau bahkan menimba ilmu dari generasi milenial dalam hal cara berbelanja online maupun mengonsumsi pengalaman (experience dan leisure).

Mari kita temukan their want and their need.

Kita semua tahu kan generasi milenial ke mall bukan untuk berbelanja barang, tapi cuci mata, nongkrong dan dine-out mencari pengalaman penghilang stress.

Hospitality adalah jasa layanan, dan pariwisata adalah bisnis manusia dengan experience seutuhnya yang sangat personal. Setiap individu ingin dan mendapatkan experience yang ber-beda-beda di dalam memorinya. Dapat diketahui dari lontaran cerita tamu-tamu kita masing-masing, walaupun yang kita layani adalah satu keluarga.

Bali, sebagai destinasi wisata utama di Bulan Oktober dan November 2019 ini banyak yang mengeluh sepi atau pencapaian pendapatan di bawah budget dan target. Saya berharap bisa mendapatkan data untuk analisa. Apakah ini sudah masuk ke tahap  ini kondisi “bearish berkelanjutan” sebagai dampak terbentuknya “new normal” perekonomian kita yang melesu dalam jangka panjang. Maaf saya meminjam istilah perdagangan forex yang mempunyai istilah siklus “bullish-bearish”.

Di dalam pekerjaan, saya sudah sangat sering berbicara dengan generasi milenial yang  menuntut fleksibilitas dalam bekerja dan  menuntut pola kerja remote working, flexible working schedule, atau flexi job. Dan minta gaji di atas rata-rata yang telah diperhitungkan perusahaan. Dengan alasan pendidikannya tinggi dan mereka smart. Tren ke arah freelancer, digital nomad atau gig economy kini kian menguat.

Sampai disini saya punya hashtag #smile #nelenludah

Saya ini pengen melanjutkan karir saya di industri hospitality dan pariwisata. Bersaing dengan generasi milenial dengan peristilahan workcation (kerja sambil liburan). Melakukan kontrak kerja berpindah pindah misalnya 3 bulan di Bali, 3 bulan di Jakarta, 3 bulan Dubai dst.  Apakah masih bisa kita menuntut loyalitas dan integritas karyawan? Saya pikir ini bisa saya kembalikan kepada penyedia lapangan kerja dan kelahiran generasi apa-nya.

Di zamannya, saya disebut kutu loncat, karena seringnya pindah-pindah kerja.

Selamat datang masa depan pariwisata Indonesia. Bali dengan lima Bali barunya.

Siapkah generasi baby boomer dan generasi X  Indonesia menghadapi Era Disrupsi Ekonomi Digital dan Revolusi Industri 4.0 ? 

Karakter, Mindset, Wawasan dan Skillset apa yang dibutuhkan untuk estafet dengan generasi milenial dalam urusan Indonesia adalah destinasi pariwisata budaya dan perlu dilestarikan?.

Urusan pariwisata budaya dilestarikan, boleh tidak di VR (Virtual Reality) – kan?

Saya mengambil fakta generasi milenial Bali sekarang dengan latar belakang keluarga petani yang maunya bekerja di hotel.

Sehingga jumlah petani tradisional menjadi sangat minimum. Demikian  juga lahan pertaniannya telah berubah fungsi. Menjadi gedung-gedung atau sentra bisnis lainnya.

Maaf, ini saya jadinya seperti mempunyai dan membangun wild dream!

Saya ingin tahu berapa orang-kah profesional tour guide dari golongan usia generasi milenial di Bali pada saat ini?

Gitu bro….

Bali, 12 November 2019

Jeffrey Wibisono V.

Jeffrey Wibisono V. @namakubrandku
Hospitality Consultant Indonesia in Bali -  Telu Learning Consulting – Commercial Writer - Copywriter - Jasa Konsultan Hotel
Share this: